Siang ini Echa dan Selly sedang makan siang bersama di kantin kampus sambil menunggu mata kuliah selanjutnya. Mereka sibuk menikmati makanannya masing-masing. Sampai kemudian secara tiba-tiba banyak mahasiswa berlarian mengerubungi seseorang yang tampak jatuh pingsan tidak jauh dari kantin.
Tidak lama kemudian terlihat Evan berlari membelah kerumunan dan langsung menggendong tubuh seorang wanita yang tidak lain adalah Cantika. Echa hanya memperhatikan bagaimana Evan tampak khawatir dengan kondisi wanita muda yang sedang mengandung itu. Bahkan pemuda itu beberapa kali memanggil nama Cantika sambil tergopoh-gopoh.
“Kenapa dia?” Echa mengendikkan bahunya menanggapi pertanyaan yang Selly lontarkan. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Cantika. Tiba-tiba saja wanita itu jatuh pingsan dan kejadiannya begitu cepat.
“Kecapekan mungkin.” jawab Echa, kemudian gadis itu teringat sesuatu. Ia ingin meluruskan berita yang sebelumnya beredar tentang Evan yang menghamili Cantika.
“Sel, ternyata bukan Mas Evan yang menghamili Mbak Cantika.” mendengar pernyataan Echa membuat Selly menatapnya sambil menaikkan satu alisnya seolah bertanya.
“Tahu darimana kamu Cha? Tidak lihat kejadian tadi, jelas-jelas Mas Evan sangat khawatir dengan Mbak Cantika.” masih segar ingatan Selly saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ekspresi panik dari Evan tatkala menemukan sang wanita jatuh tidak sadarkan diri.
“Mas Evan memang mencintai Mbak Cantika, tapi bukan dia yang melakukan. Mas Evan juga bilang jika Mbak Cantika akan menikah.” Selly membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang Echa katakan. Jika benar bukan Evan, lantas siapa yang menghamili Cantika. Jadi selama ini mereka menipu satu fakultas seolah-olah seperti sedang menjalin sebuah hubungan.
“Apa? jadi mereka bukanlah sepasang kekasih?” Echa menggeleng sebagai jawaban.
“Seorang Mas Evan di tolak?”
“Iya, itulah yang aku ketahui.” Selly terlihat masih mencerna setiap perkataan Echa. Bagaimana mungkin dua orang yang sudah seperti sepasang kekasih itu ternyata tidak ada hubungan yang spesial. Dan lagi, wanita itu sedang hamil anak lelaki lain, sedangkan Evan masih begitu mencintai Cantika. Drama percintaan macam apa ini. Tapi Selly mulai curiga dengan sahabatnya, kenapa ia bisa mengetahui semuanya. Apa Evan yang dingin itu bercerita kepada Echa? Rasanya seperti mustahil.
“Tunggu, Cha. Sejak kapan Mas Evan mulai bercerita padamu? Hei kamu ini tidak menganggap aku temanmu ya, kenapa tidak pernah bercerita jika kamu dekat dengan Mas Evan? Atau jangan-jangan kamu suka–hmmpt” Echa segera membekap mulut paus Selly sebelum gadis ini mengatakan yang tidak-tidak. Apalagi ini di area kantin yang pasti banyak mahasiswa disekitar mereka yang bisa mendengar teriakan Selly.
“Kamu ini bicara apa? Tidak ada yang dekat. Aku dan dia hanya sebatas teman.” ucap Echa sambil mendengus pelan.
“Iya baiklah. Tapi janji jika terjadi apa-apa kamu harus cerita!”
“Iya Selly.” gadis itu tertawa sambil menarik lengan Echa untuk memasuki kelas.
***
Di klinik kampus tampak Evan dengan telaten menyuapi Cantika yang sudah bangun dari pingsannya beberapa waktu lalu.
“Kenapa kamu masih peduli?” Tak menghiraukan pertanyaan Cantika, Evan masih terus mengaduk buburnya dan kembali memberi suapan pada wanita dihadapannya ini.
“Habiskan dulu, kamu belum makan dari pagi, pikirkan juga dia.” ucap Evan sambil menunjuk ke arah perut Cantika yang masih terlihat datar karena memang kehamilannya masih berumur empat minggu.
“Jangan baik padaku, Evan. Kamu membuatku semakin merasa bersalah.” Cantika menunduk, ia malu menatap laki-laki yang sering menyatakan perasaan padanya. Namun tidak pernah Cantika terima, bukan karena Cantika tidak memiliki perasaan yang sama, akan tetapi ia bukan wanita baik-baik. Lelaki baik seperti Evan tidak pantas mendapat wanita panggilan sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
