Sambil menatap jam tangannya, Echa berlari cepat melewati lorong-lorong kampus. Hari ini dia kesiangan karena macet di jalan semoga saja dosennya belum datang. Karena terburu-buru Echa jadi tidak memperhatikan langkahnya.
brukk
Hampir saja dia terjatuh jika seseorang di hadapannya ini tidak menangkapnya. Echa segera menjauhkan diri dan menunduk untuk meminta maaf.
"Maaf saya terburu-buru." ucapnya sambil menunduk lagi sebelum ia kembali melangkah, namun baru satu langkah pemuda itu memanggilnya.
"Tunggu."
Echa berbalik seakan bertanya kenapa ia memanggilnya. Tak lama kemudian pemuda itu memberikan sebuah buku yang Echa tahu betul adalah bukunya. Dia ceroboh lagi.
"Ah maaf aku menjatuhkannya, terimakasih." ucapnya lalu mengambil buku dari tangan pemuda yang tidak ia kenal. Sejenak Echa merasa dejavu, karena sebelumnya ia juga pernah mengalami kejadian serupa waktu pertama kali bertemu Evan di perpustakaan. Bukankah kejadiannya hampir sama.
Pemuda itu dengan cepat mengangguk dan mencegah Echa yang akan berjalan lagi. Gadis itu mendengus kesal, ia sedang terburu-buru namun tampaknya pemuda ini tidak bisa mengerti.
"Saya hanya ingin bertanya, ruang dosen di lantai berapa?" tanyanya yang langsung di balas cepat oleh Echa. "Departemen apa?" ucap Echa bertanya, karena memang ada beberapa ruang dosen dibedakan berdasarkan departemennya.
"Ehm begini, saya juga kurang tahu. Saya mahasiswa pertukaran pelajar dari Jogja dan baru pindah di fakultas vokasi gedung A sebelumnya saya di fakultas vokasi gedung C." jelasnya membuat Echa kembali menatap jam tangannya.
"Sebelumnya saya minta maaf tidak bisa membantu karena saya sedang terburu-buru. Ruang dosen ada di lantai 1 dan 2 anda cari saja nama dosen yang ada di depan pintu." ucap Echa lalu berlari begitu saja meninggalkan pemuda yang diam sambil terus menatap kepergiannya, sedetik kemudian pemuda itu tersenyum kecil.
"Jadi dia orangnya? cantik juga." ujarnya pelan sembari menyeringai tipis sebelum melangkah ke dalam gedung.
****
Evan terlihat sibuk membaca beberapa dokumen surat perjanjian kontrak kerja dengan perusahaan Bapak Heru selaku CEO PT Persada Indo yang akan membangun kawasan perumahan elit di tengah kota Surabaya. Rencananya bulan depan sudah akan dimulai untuk pengerjaannya. Ini akan menjadi proyek besar pertama Evan selama bergabung di perusahaan.
"Rul, perjanjian kontrak kerja sudah saya baca dan tanda tangani. Setelah ini segera kirim ke Pak Heru ya." Arul mengangguk sambil mengambil berkas dari tangan Evan lalu beranjak pergi.
Evan bersandar pada kursi kerjanya lalu melonggarkan sedikit simpul dasinya. Ia melirik ponsel yang tergeletak di atas meja, entah kenapa dia jadi memikirkan Echa, sedang apa gadis itu sekarang. Evan mengambil ponsel dengan ragu ia mendial nomor Echa hingga tak lama kemudian suara gadis itu terdengar di seberang sana.
"Halo Mas Evan."
"Kamu di mana?" tanya Evan sambil menyesap sedikit tehnya.
"Saya di kampus, ada apa mas?"
Evan melirik jam tangan yang menunjukkan pukul dua siang. Sepertinya Echa masih ada mata kuliah.
"Pulang jam berapa?" hening sejenak sebelum sang gadis kembali berkata di ujung sana.
"Mungkin satu jam lagi Mas, kenapa?"
"Saya jemput ya? sekalian cari makan." samar-samar Evan dapat mendengar suara laki-laki membuat keningnya mengerut. Lama tidak mendengar balasan sang gadis, Evan kembali berkata.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
