Ferra mengetuk pintu kamar putranya sambil membawa nampan berisi makan malam. "Nak, buka pintunya, kamu belum makan apapun dari tadi pagi, nanti kamu sakit."
hening
Tidak ada balasan sama sekali, Ferra mulai khawatir dengan kondisi putranya yang sejak kemarin malam tidak keluar kamar sama sekali. Bahkan sarapan tadi pagi yang sengaja ia letakkan di depan pintu kamar pun masih utuh. Wanita itu tidak tahu kenapa tiba-tiba Evan bersikap seperti ini untuk pertama kalinya. Biasanya meskipun ada masalah putranya ini pasti masih mau mendengar nasihatnya. Tetapi ini berbeda, sebenarnya ada apa.
"Mama letakkan di depan pintu ya nak, nanti jangan lupa kamu makan." Ferra meletakkan nampan berisi makanan untuk Evan di atas meja sebelah pintu Evan. Kemudian wanita itu menghubungi seseorang yang mungkin tahu tentang keadaan putranya.
"Halo Arul, ini Tante Ferra." ucap Ferra setelah berhasil tersambung dengan Arul.
"Ah iya Tante, ada apa?"
"Begini Rul, sejak kemarin malam Evan tidak keluar kamar sama sekali. Apa mungkin kamu tahu sebenarnya ada apa dengan Evan?" tanya Ferra berharap Arul mengetahui sesuatu, karena pemuda itu cukup dekat dengan putranya di kantor.
"Maaf tante, untuk itu saya juga tidak tahu. Tapi terakhir kemarin Evan sempat bilang jika ingin menemui Echa, dan saya ingat waktu itu Evan masih baik-baik saja bahkan dia terlihat sangat senang tante."
"Echa? siapa Echa?"
"Ah itu... Echa sebenarnya... duh bagaimana ya."
Ferra terkekeh pelan, ia tahu pasti Evan tidak memperbolehkan Arul menceritakan tentang gadis bernama Echa ini.
"Cerita saja, tante tidak akan bilang pada Evan."
"Benar ya tante? karena Evan pasti akan marah kalau tahu saya yang cerita ke Tante Ferra."
"Iya kamu tenang saja." jawab Ferra sambil mengangguk meskipun Arul tidak bisa melihat.
"Jadi Echa itu kekasih–ah tidak atau belum ya? saya tidak tahu mereka sudah menjalin hubungan atau belum tapi yang jelas mereka sangat dekat tante. Hampir setiap hari setelah pulang kantor Evan menjemput gadis itu pulang dari kerja paruh waktunya di jalan tunjungan. Saya juga pernah menemani Evan bertemu dengan Echa satu kali."
Ferra menerima penjelasan dari Arul dengan seksama. Jadi dapat ia simpulkan mungkin putranya sedang ada masalah dengan gadis itu.
"Besok bisa kamu antar tante menemui gadis yang bernama Echa itu?" terdengar helaan nafas dari ujung sana.
"Baiklah besok saya antar ke tempat Echa bekerja, kasihan juga melihat Evan seperti itu."
"Terimakasih ya Arul, kalau begitu saya tutup, selamat malam." Ferra menghela nafas lega, setidaknya ia akan tahu apa yang membuat putranya seperti ini, sekaligus penasaran seperti apa gadis bernama Echa itu sehingga membuat putranya uring-uringan.
****
Sesuai dengan janjinya kemarin, siang ini Arul mengantar Ferra menuju cafe tempat Echa bekerja. Masih pukul sebelas siang, dan cafe belum terlalu ramai mungkin karena baru di buka.
Ferra keluar dari mobil dan mengucapkan terimakasih pada Arul. "Terimakasih ya Rul, kamu pulang saja nanti saya pulang dengan sopir." ucapnya, Arul mengangguk pelan. "Siap Tante, saya tinggal dulu ya. Itu Echa yang rambutnya di kuncir kuda." balas Arul sambil menunjuk seorang gadis yang berdiri membelakangi mereka dengan rambut kuncir kuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
