Saat memasuki kediaman Pradhana, Kayra langsung berlari mendekat ke arah sang Papa yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Harry dan Fera.
"Papa."
Gadis kecil itu memeluk sang papa dengan erat.
"Kenapa sayang? Kok wajahnya sedih, hmm?" tanya Ali melihat putrinya yang murung. Setahunya Kayra tadi sangat bersemangat saat keluar dengan Evan. Pria itu lantas menatap sepupunya meminta penjelasan.
"Tadi Kayra hampir tertabrak mobil."
"APA?!" Ali lantas memeriksa seluruh tubuh putri kecilnya barang kali ada luka. Namun ia menghela nafas lega karena tidak menemukan luka ditubuh putrinya. Kayranya baik-baik saja.
"Bagaimana bisa sih Van, kamu kemana?" tanya Fera khawatir melihat cucu dari kakak suaminya yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.
"Tadi Evan angkat telfon dari kantor sebentar, Ma. Lalu Kayra tiba-tiba hilang, dan ternyata dia hampir tertabrak tapi ada teman Evan yang segera menolong Kayra."
"Astaga, dimana temanmu sekarang? Apa dia baik-baik saja?" baru Evan akan menjawab pertanyaan Fera, namun Kayra lebih dulu menjawab.
"Kakak cantik tangannya terluka tadi karena terserempet mobil waktu nolongin Kayra." ucap Kayra seperti ingin menangis. Ali lantas menggendong Kayra sambil mengusap bahu gadis kecilnya, pasti putrinya masih syok.
"Dimana temanmu Van, apa lukanya sudah diobati? Kenapa tidak kau bawa dia ke sini?" Evan menggaruk belakang kepalanya, ia jadi merasa bersalah pada Echa tadi hanya membelikan salep. Sedangkan di sini semua keluarganya mengkhawatirkan keadaan Echa.
"Tadi sudah ku belikan salep, dan ia langsung pulang ke rumahnya. Lagi pula untuk apa aku membawanya kemari." ucapnya, membuat semua orang menggelengkan kepalanya melihat sikap Evan yang kelewat cuek.
"Lihatlah putramu ini, Pa." Ali dan Harry hanya menghela nafas sudah hafal dengan perilaku Evan.
"Yasudah besok kamu belikan dia sesuatu sebagai rasa terimakasih, nanti aku ganti uangnya." Evan hanya mengangguk menanggapi Ali.
"Kalau begitu aku pamit pulang Om, Tante. Jelita sudah menunggu Kayra di rumah." Pamit Ali. Fera dan Harry mengangguk. "Salam buat Papa mu ya Al."
"Siap Om."
Ali, anak dari kakak Harry ini memang sering main ke rumah jika kebetulan menjemput Kayra sekolah. Karena gadis kecil itu senang sekali bermain bersama Evan, katanya Evan ganteng, Kayra suka.
***
"Baksonya antri ya, nak?" Tanya Dewi saat melihat Echa baru datang dengan membawa semangkuk bakso.
"Tidak Bu, tadi Echa tolong anak kecil dulu kasihan hampir tertabrak mobil." jelas Echa. Dewi yang tadinya berbaring kini merubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat kondisi putrinya yang terlihat lelah ini.
"Tapi kamu baik-baik saja kan, Cha?" sang gadis mengangguk.
"Ibu tidak perlu khawatir, Echa baik-baik saja. Sudah ayo di makan baksonya." dengan perlahan Echa menyuapi sang ibu yang beberapa hari ini sakit, tensinya turun sehingga Dewi tidak bisa banyak beraktifitas. Ia harus sepenuhnya beristirahat, sehingga semua pekerjaan rumah Echa yang mengerjakan. Toko rotinya pun sudah tiga hari tutup karena Dewi masih belum bisa membuat roti. Echa pun sibuk dengan tugas kuliah yang sedang banyak-banyaknya.
"Cha, nak Evan kok tidak pernah ke sini lagi?" tanya Dewi di sela-sela suapan. Echa sempat menghentikan sedikit pergerakan sendoknya sebelum tersenyum kecil pada sang ibu.
"Mas Evan sibuk skripsi bu, kan sebentar lagi dia lulus." jawab Echa, Dewi pun tampak menghela nafas.
"Cha, kalau ibu tidak ada kamu sama siapa?" Echa mengerutkan dahi tidak suka dengan pembicaraan ibunya yang mulai melantur.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRADHANA
FanfictionBagaimana jika hidupmu hanya berputar pada seorang Evan, pemuda yang kerap kali bersikap dingin pada gadis semanis Echa. Namun perlahan semuanya berubah, satu-persatu kepingan puzzle itu menjadi satu merangkai sebuah cerita yang tidak terduga. Mungk...
