April, 2013
Waktu melesat sangat cepat. Ibarat peluru lepas dari senjata. Tak ada yang bisa menahan. Terhitung sudah satu bulan Kinara, Rayyan, dan Valen mengikuti les tambahan.
Kejadian ajaib itu tidak atau belum terulang. Entahlah. Kinara berharap hanya sekali itu saja terjadi. Agar ia tidak perlu repot-repot menguras otak memikirkan masa depan. Dari awal saja ia sudah bingung memikirkan takdir, lantas bagaimana ia akan mengurus masa depan, melawan takdir ?
Selama mengikuti les tambahan, Kinara lebih banyak diam. Tidak ada Arumi atau Febi yang akan mendengarkan ceritanya. Mustahil ia mengajak Rayyan sekedar berbasa-basi. Apalagi Valen. Sebenarnya laki-laki itu sesekali menegur, mencoba akrab, namun karena Kinara hanya merespon seadanya, Valen menjadi sungkan mengajaknya mengobrol.
Hari-hari membosankan itu Kinara lalui dengan pasrah. Ia baru akan menarik simpul di bibir setelah les tambahan itu selesai di pukul 5 sore. Buru-buru menahan ojek untuk kemudian pulang ke rumah. Hingga di bulan kedua mengikuti les tambahan, kejadian ajaib itu kembali terulang. Ia melihat masa depan. Kemudian tak sadarkan diri di atas tangan kokoh Rayyan.
***********Apa mungkin takdir bisa diubah ?
"Aakkhhh…." Kinara mengacak kesal surainya yang panjang hingga kusut, mencoba menetralisir isi kepalanya yang semrawut.
"Apa sih, Ra ?" Febi yang duduk di sebelahnya bertanya heran.
Harusnya suasana hati Kinara secerah matahari siang ini setelah mendapat kabar tentang guru sejarah yang tidak jadi masuk. Akan tetapi pikirannya mendadak kucel begitu melihat gelagat Rayyan yang tengah bersandar di bingkai pintu. Sambil ngemil sekantong keripik pisang di bangku taman, pertanyaan itu bergulir.
"Takdir bisa diubah, nggak ?"
"Bisa," jawab Febi sambil mengunyah keripik.
"Beneran ?"
"Iya."
Kinara mendesah kesal mendengar jawaban Febi yang terkesan asal jawab.
"Emang takdir macam apa yang mau kamu ubah ?"
"Jodoh"
Air wajah Febi langsung berubah bingung.
"Kenapa jodohmu ? Jelek, gitu ?"
"Ganteng malah."
"Terus, kenapa pengen ganti jodoh ?"
"Orangnya luar biasa menyebalkan." Kinara menyeka dada.
Febi hanya mengangguk, terus menyuap keripik pisang.
"Masih ada ya perjodohan di zaman sekarang ?"
Kinara menggaruk kepala, pantas saja Febi tidak bertanya panjang, ia sudah mengambil premis sendiri, Kinara dijodohkan, makanya dia ingin mengubah jodohnya, sampai disitu saja, titik.
Tidak jauh dari keberadaan Febi dan Kinara, Rayyan masih disitu, bersandar di bingkai pintu sambil mendengar isi cerita kedua sahabat itu, semuanya.
Rasa penasaran Kinara tidak berakhir di bangku taman, pertanyaan yang sama kembali bergulir saat Kinara memutuskan nongkrong di kantin Tante Ima.
"Tante Ima, apa jodoh bisa ditukar ?"
Tante Ima mengangkat bahu. Sibuk mencuci piring.
"Menurut Tante, takdir bisa diubah ?"
Tante Ima membuang napas, sebal ditanya-tanya.
"Dua pertanyaanmu itu isinya sama saja, Kinara"
Pangkal alis Kinara terangkat. Ia tentu tahu kalau pertanyaan itu konteksnya sama. Ia hanya ingin tahu pendapat Tante Ima.

KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Berkata
Teen Fiction"Rayyan, apakah dengan melihat masa depan bisa menjamin aku akan hidup bahagia dengan kamu di sisi aku ? Apakah benar demikian ? Bukankah takdir tidak pernah menjanjikan kehidupan bahagia secara cuma-cuma ?"