Tidak terasa sudah 2 bulan Rayyan bekerja di toko milik Mama Kinara. Tidak pernah sekalipun terlintas di kepala Rayyan akan berada di tengah-tengah kehangatan keluarga ini. Seperti semangkuk sop ayam yang baru saja disodorkan Kinara misalnya, hangat. Ia bahagia meskipun tidak bisa menampik kenyataan jika tubuhnya luar biasa lelah. Setelah seharian bergelut dengan buku dan pulpen, aktivitasnya terus berlanjut sampai jam di dinding toko menunjukkan angka 10. Apalagi orang-orang komplek kerap memberikan pekerjaan tambahan, rasa-rasanya tulang belakang bisa lepas dari tempatnya.
Ia pernah terpaksa menjaga Taya sambil melayani pembeli karena Tante Maya pergi ke pasar. Atau mengupas sekarung bawang merah kepunyaan Mama Irna di sela-sela pekerjaannya mengantarkan pesanan kue. Seakan belum cukup, Om Ito kadang menyuruhnya memberi makan kambing-kambing di kandang belakang rumahnya. Gara-gara itu, Mama Kinara pernah meradang dan mengomeli orang-orang komplek karena terlalu sering menyuruhnya. Tapi apa mau dikata, besok-besok kejadian lagi. Lalu bagaimana dengan Kinara ?. Gadis itu hanya akan kelihatan batang hidungnya saat malam tiba. Kehadiran Rayyan memberikan tiket untuknya tidur lebih lama. Siapapun di komplek pasti akan mengejek Rayyan jika ketahuan menyukai gadis super pemalas itu. Rayyan bukannya tidak tahu tabiat Kinara, tapi itu semua belum cukup untuk menyingkirkan perasaan yang hadir saat ia pertama kali melihat gadis itu saat MOS. Gadis yang tersenyum indah dengan rambut dikuncir tali rafia hijau di kepala.
"Malah bengong. Mau nggak ?"
Rayyan tertegun. Sepertinya gadis itu sudah cukup lama berdiri di depannya sambil menyodorkan semangkuk sop hangat.
"Yan, aku mau ngomong sesuatu."
Kinara membawa sop yang tadi ia sodorkan. Menaruhnya di atas meja yang berada di teras toko.
"Kamu mau nasi ?"
Rayyan mengangguk. Melihat reaksi Rayyan, Kinara kembali melenggang masuk ke dalam rumah yang ada di seberang jalan. Kembali dengan membawa dua piring nasi. Jam di pergelangan tangan Rayyan menunjukkan pukul 8 malam. Jadwalnya makan. Biasanya ia akan makan bersama karyawan lain di dapur toko. Atau sesekali makan bersama Kinara dan Papa Mamanya di rumah. Tapi malam ini sepertinya ia akan makan di teras toko.
Rayyan tahu akan kemana arah pembicaraan kali ini. Tadi siang ada kakak kelas yang datang melabrak Kinara. Alasannya remeh, ia marah karena gelang pemberiannya untuk Rayyan justru dipakai Kinara. Menuduh gadis itu kecentilan mengambil barang orang lain. Padahal bukan barang pemberiannya saja yang berakhir di tangan Kinara. Ada jam tangan, novel, dan gantungan kunci. Paling sering makanan. Coklat dan cake. Awalnya Kinara heran, kenapa semua pemberian gadis-gadis sekolah diberikan padanya. Tapi karena barangnya lumayan, yaa ia terima-terima saja.
"Aku mau bicara sesuatu."
Rayyan mengangguk. Menyeruput sop ayam.
"Barang-barang dari penggemarmu aku balikin deh. Bikin pusing."
Rayyan diam saja. Binar matanya lari pada jalan yang dipenuhi kendaraan.
"Susah emang kalo artis sekolah. Fansnya banyak. Pacarin aja satu, biar yang lain nggak ganggu."
Rayyan menarik napas dalam. Bukankah ucapan Kinara barusan mengandung arti kalau dia tidak punya perasaan apa-apa untuk Rayyan ?
"Aku nggak suka."
"Satu pun ?"
Rayyan mengangguk.
"Idiiiih.. sok ganteng." Kinara nyinyir. Melirik Rayyan dengan ekor mata.
Setelah menghabiskan isi piring di depannya, Rayyan bangkit dan menyodorkan sebuah ikat rambut berwarna putih polos.
"Ini simpan. Yang ini nggak usah dibalikin, ini dari aku." Rayyan segera beranjak membawa piring bekas makannya ke rumah Kinara. Sementara gadis itu malah plonga-plongo, bolak-balik menatap Rayyan dan ikat rambut putih itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Berkata
Teen Fiction"Rayyan, apakah dengan melihat masa depan bisa menjamin aku akan hidup bahagia dengan kamu di sisi aku ? Apakah benar demikian ? Bukankah takdir tidak pernah menjanjikan kehidupan bahagia secara cuma-cuma ?"