10. Perlombaan Hati

7 2 0
                                    

Tawa Valen adalah satu di antara ramainya gelak tawa yang pecah di senin pagi yang cerah. Itu adalah upacara ketiga kalinya setelah masuk ke sekolah favorit. Adalah gadis dengan pakaian paling mencolok, paling beda sendiri penyebab siswa-siswa lain tertawa memegangi perut di antara barisan upacara. Yang paling menggelitik, gadis itu tak ada takut-takutnya saat diberi hukuman, menguap sepanjang hormat pada bendera di terik matahari.

Di lain kesempatan ia beberapa kali melihat gadis itu dihukum lari mengelilingi lapangan, dijemur di tiang bendera, atau menggosok kakus yang bau pesing. Seolah hukuman-hukuman itu sudah ritual hariannya di sekolah.

Juga pada sore yang temaram, saat jingga bersemarak di tepi langit, sorot matanya berlari ke arah gadis dengan surai panjang tergerai berjalan menenteng dua bungkusan besar, terhuyung-huyung. Di sampingnya ada Tante Ima --Ibu kantin sekaligus tetangga Valen-- yang juga membawa bungkusan yang tak kalah besarnya. Di saat wajah itu tersenyum ke arahnya yang sedang berdiri di depan rumah dengan bola di tangan, di saat itulah ada yang tumbuh di dalam dada. Awalnya Valen bertanya- tanya, perasaan apalah yang sedang bergejolak di dalam sana. Namun ketika menemukan dirinya tersenyum lebih lebar dari biasanya ketika menemukan gadis itu di antara bayang-bayang pohon akasia yang tumbuh di depan kelas, ia sadar perasaan seperti apa yang telah berkecambah.

"Maukah kamu bertemu lagi denganku di masa depan, Kinara ?" Pertanyaan sore itu bergulir begitu saja.

"Aku sudah bertemu denganmu sekarang, untuk apa bertemu lagi di masa depan ?" Ucap Kinara nyeleneh.

"Berapa jumlah penduduk Indonesia sekarang ?"

"250 juta jiwa."

"Ditambah jumlah seluruh penduduk bumi, aku bisa bertemu dengan lebih banyak orang. Untuk apa bertemu denganmu lagi ?"

"Penduduk bumi memang banyak, tapi hanya satu yang berhati tulus,"

"Aku."

Tawa Kinara pecah bersamaan dengan debur ombak yang menerjang pelabuhan. Valen berharap selarik kalimat cinta tidak langsung itu membuat Kinara paham seberapa besar perasaannya pada gadis itu. Namun sayangnya tidak, Kinara terlalu lugu untuk mengerti, menganggapnya hanya sebuah lelucon menggelitik.

"Ayo pulang, sudah gelap. Nanti Mamamu marah dan memukulmu dengan rotan."

Valen memegang setir sepeda mantap. Kram kakinya sudah lama hilang. Tenaga sudah pulih. Waktunya kembali mengayuh.

"Berangkat !" Kinara berseru.

Valen mengayuh pelan. Melewati hiruk pikuk malam kota mereka. Banyak kendaraan melintas, banyak pula yang sengaja berhenti di tepi jalan, sekedar membeli gorengan atau bakso dan mie ayam. Asap bakaran sate malang melintang di udara, menggoda setiap orang yang lewat. Lampu jalan sedari tadi menyala, membuat suasana malam lebih bercahaya.

Esok paginya Febi datang dengan wajah biang gosip. Rusuh mencari keberadaan Kinara. Semalam, ketika menunggu sate yang dipesannya matang, ia sempat melihat temannya itu berboncengan sepeda dengan Valen anak kelas sebelah. Ini tentu gosip hangat, apalagi Lisa pernah naksir pada anak laki-laki berkacamata itu, pernah pula mengungkapkan perasaan meskipun berakhir patah hati.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Orang yang dicarinya tiba-tiba muncul. Anehnya kali ini dia tidak terlambat. Datang 10 menit sebelum bel masuk berbunyi.

"Taraaaaaaaaaa !!" Febi mengangkat-angkat rantang susun warna-warni berisikan nasi kuning di depan wajah Kinara. Ia sengaja betul mempersiapkan rantang itu untuk menyogok Kinara, supaya gadis itu bersedia membeberkan kejadian semalam.

"Waaah, rezeki nomplok !" Kinara merebut rantang susun Febi namun dicegat.

"Eitsss, ada syaratnya," Febi berkedip jahil.

Takdir BerkataTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang