Sakit gigi yang sejak kemarin malam mendera hilang seketika setelah meminum obat pemberian Dokter. Untuk merayakan kesembuhan penyakit itu, Kinara menebus semua rasa lapar setelah hampir 24 jam tidak makan --kecuali makan siang pemberian Rayyan--. Di hadapannya tersaji banyak makanan rebus-rebusan, ada ubi ungu, singkong, jagung manis, dan juga kacang. Semuanya pemberian Tante Inong, hasil panen kebun hari ini. Bukan hanya Kinara yang siap menyantap makanan itu, Bapak-bapak yang sebelumnya sibuk main domino, sekarang sudah melingkar rapi mengedari makanan. Pos ronda mendadak ramai dengan decap-decap, suara mengunyah makanan, diiringi obrolan seputar hasil panen bulan ini.
"Kalian lihat anak yang tadi mengantar Kinara pulang ?" Om Ito -Om Kinara- mengganti topik pembicaraan.
Bapak-bapak mengangguk serempak.
"Tampan sekali, bukan ? Sepertinya aku akan punya menantu tampan." Om Ito cekikikan.
Kinara diam saja, tidak sibuk menimpali, mencomot lagi ubi rebus.
"Yang kemarin juga tampan, badannya tegak, cocok masuk Tentara." Om Santo -suami Tante Maya- ikut-ikutan.
"Bukan main, banyak betul yang naksir ponakanku ini," Om Ito merangkul bahu ponakannya, mencoba jahil. Tapi Kinara terlalu asyik dengan makanan, enggan menanggapi.
"Kau tahu Kinara, kisah cinta orang tuamu dulu tidak kalah menarik seperti kisah cintamu. Dulu, setelah Sam --Papa Kinara-- menyelesaikan kuliahnya, ia krasak-krusuk datang melamar, takut betul Inah diambil orang," Om Ito cekikikan lagi.
"Awalnya hanya sepucuk surat yang datang, pemberitahuan bahwa Sam ingin bertemu. Namun sayang surat itu sampai ke tangan yang salah, bocah penyampai surat itu malah memberikannya pada Bapak," Om Ito mengunyah jagung, menjeda sebentar kalimatnya.
"Sam datang dengan menaiki kereta sapi, berjumpa Bapakku di depan pintu. Wajahnya pucat, hampir terkencing di celana," Kali ini Om Ito tertawa lebar. Menjatuhkan jagung dari tangan.
"Sial betul nasib Bapakmu hari itu. Niat hati bertemu Inah untuk menyampaikan niat sucinya, malah berjumpa dengan pria garang. Gemetaran ia menyampaikan maksud kedatangannya, langsung pada Bapak," Kali ini bukan hanya Om Ito yang tertawa, bapak-bapak yang lain pun ikut tertawa.
"Inah datang tepat sebelum Bapak memiting kepalanya, marah anaknya diajak ketemuan. Inah yang baru pulang dari pasar usai menjual kue langsung panik melerai. Menenangkan Bapak. Setelah kejadian itu, 3 bulan setelahnya, Sam dan Inah resmi menjadi sepasang suami istri."
Bapak-bapak di pos ronda mengangguk-angguk. Terus mengunyah makanan sampai mulut penuh.
Usai mendengar kisah itu, Kinara bangkit menuju rumah, mengambil nasi dan bumiya --sayur okra-- goreng saos masakan Mama. Sebenarnya ia sudah makan tadi tapi tak apalah, ia belum begitu kenyang.
Perihal anak tampan yang mengantar Kinara pulang tadi memang benar. Penglihatan Om Ito tidak salah.
Tadi siang, ketika bel pulang berbunyi, Kinara tergesa-gesa menuju kantor. Mencari keberadaan Pak guru, hendak meminta izin bahwa ia tidak akan mengikuti les hari ini. Bilang sedang sakit gigi, ingin periksa ke dokter. Pak guru tentu mengizinkan. Setelah urusannya selesai, ia tidak sengaja bertemu Rayyan di depan pintu. Nyaris saling bertabrakan.
"Mau pulang ? Aku anterin, yah." Tutur Rayyan tanpa tedeng.
Kinara yang sedang kepayahan itu langsung mengangguk. Ia dalam kondisi buruk, tidak sanggup menunggu ojek yang tidak jelas kapan datangnya.
"Ayo, ikuti aku."
Rayyan berjalan lebih dulu disusul Kinara dari belakang. Mengambil motor merah yang diparkir berdesakan dengan puluhan motor lain. Entah berapa jumlah pastinya. Rayyan tidak niat menghitungnya, berangan-angan pun tidak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Takdir Berkata
Fiksi Remaja"Rayyan, apakah dengan melihat masa depan bisa menjamin aku akan hidup bahagia dengan kamu di sisi aku ? Apakah benar demikian ? Bukankah takdir tidak pernah menjanjikan kehidupan bahagia secara cuma-cuma ?"