Do What You Wanna Do!

9 1 1
                                    

Arsel tiba di Kafe Aterasina di mana Megan berada.

Dari luar kafe, dia bisa melihat Megan sedang bersama Chika dan Dera. Seorang pria yang tampak familier mendekat ke meja yang mereka tempati.

'Dia bukannya si preman tadi?' pikir Arsel.

Dan itu benar. Si pria bertato itu terlihat berdiri menghadap Chika dengan padangan tertunduk. Dia seperti sedang meminta maaf kepada Chika.

Penasaran apa yang terjadi di meja itu, Arsel membuka pintu depan kafe perlahan dan masuk. Dia berhati-hati agar Chika dan teman-temannya itu tak menyadari kedatangannya.

"Gila lo, ya! Berani-beraniya lo minta upah padahal kerjaan lo aja nggak becus! Tolol banget sih lo jadi orang!" bentak Chika.

Arsel mengernyitkan kening, tak menyangka akan melihat Chika memarahi si pria bertato. Sebuah ide melintas di benaknya. Dia keluarkan ponselnya. Diam-diam dia merekam adegan yang terjadi di mejanya Chika itu.

"Tapi, Bos, aku sudah keluar uang buat bensin," kata si pria bertato.

"Itu urusan lo! Kenapa juga gue harus peduli? Lo mau meras gue, hah?!" bentak Chika.

"Tolonglah, Bos. Seenggaknya bayar separuhnya gitu. Kan aku udah ngelakuin yang Bos minta sebenarnya. Masalahnya, cowok sok jagoan itu nongol. Kalo dia nggak ada mah, pasti semuanya berjalan sesuai rencana, Bos."

"Alah, bacot lo! Lo pikir kenapa gue bayar lo buat gangguin Amel? Ya karena lo punya badan gede gini kek gorila! Sekarang bisa-bisanya lo ngeluh ada orang yang datang dan ngerusak rencana lo, terus lo masih minta bayaran ke gue. Lo tuh nggak tau malu, ya! Dasar sampah lo!"

Arsel menatap layar ponselnya heran. Dia tak habis pikir, bisa-bisanya Chika memarahi seorang pria dewasa sekasar itu, dan dia melakukannya di kafe, di depan banyak orang, seakan-akan dia tak menganggap mereka ada.

Dan dia juga tak habis pikir kenapa si pria bertato itu tak berani membalas kata-kata kasarnya Chika. Bisa-bisanya pria dewasa sepertinya tunduk pada anak SMA yang kelihatan banget tidak bisa ilmu bela diri. Apa karena uang?

Arsel mengangguk-angguk. Bisa jadi begitu.

"Udah sekarang lo pergi sana! Empet gue liat muka lo! Orang yang kerjanya nggak becus kek lo nggak pantes minta bayaran ke gue!" kata Chika.

"Aduh, jangan gitu lah, Bos. Tolong lah. Seenggaknya buat ganti bensin sama berobat ke klinik. Punggung dan perutku sakit habis ditendang-tendang orang itu, Bos," balas si pria bertato, memelas.

Prang!

Chika melempar gelas minumannya ke si pria bertato. Gelas itu mengenai dada pria itu sebelum kemudian jatuh dan pecah di lantai.

Perhatian orang-orang di kafe semakin tertuju ke meja itu. Anehnya, Chika masih terlihat biasa-biasa saja, tak peduli sama sekali pada tatapan terganggu orang-orang itu.

"Tuh, ambil! Cuman segitu yang pantes gue kasih ke preman nggak becus kayak lo! Sekarang keluar lo sana!" bentak Chika setelah melemparkan lima lembar seratus ribuan.

Lembaran-lembaran uang itu berjatuhan di dekat meja. Si pria bertato langsung berjongkok untuk mengumpulkannya.

"Makasih, Bos. Makasih banyak," kata si pria bertato kemudian, lalu beranjak meninggalkan meja.

Arsel berhenti merekam. Dia memosisikan dirinya di dekat pintu masuk supaya si pria bertato melihatnya.

Dan pria bertato itu langsung terkesiap saat melihat Arsel. Wajahnya seketika pucat.

"A-a-ampun, Bang... ampuun..." kata pria itu, menangkupkan tangan di dada membungkukkan badannya sedikit.

"Pergi lo sana!" kata Arsel.

Triangle LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang