Maling Mana Ada Yang Ngaku

3 2 0
                                    


Seina menatap Arsel dengan raut wajah panik. Pertanyaan Arsel barusan membuat detak jantungnya tak keruan.

Tak ingin ketahuan berbohong, Seina langsung mengubah ekpresinya itu menjadi datar.

"Lo nuduh gue, Sel? gila ya lo. Ini bukti udah di tangan. Bisa-bisanya lo masih nuduh gue? Lo ngebela Amel karena lo suka dia, kan?" ujarnya, mengalihkan topik.

Arsel menatap Seina heran. Katanya, "Apa sih! Gue bilang kayak gitu soalnya ini aneh banget. Gue tau Amel kayak gimana. Dia nggak mungkin ngambil uang kas kelas. Justru sekarang gue curiga sama lo, Sei. Barusan lo sempet panik, kan? Gue bisa liat itu dari mata lo."

Seina yang mulai tenang itu kembali panik. Itu terlihat jelas di wajahnya. Di titik ini, seorang siswa bernama Badri menghampiri mereka untuk membelanya, "Lu apaan dah, Sel? Orang udah ada bukti kalo uang kas ada di tas si Amel, kenapa lo jadi nuduh Seina kayak gitu?"

"Iya nih. Arsel apa-apaan dah? Orang buktinya udah jelas kok," ucap siswa lain, dan yang lainnya mengangguk membenarkan.

Seina menghela napas lega. Sekarang dia bisa kembali tenang sebab siswa-siswa di kelas itu membelanya.

"Ayo, Temen-temen, kita bawa ini orang ke Bu Dina!" pinta Seina, memanfaatkan situasinya yang unggul itu.

Siswa-siswa di kelas itu menyambut ajakan Seina dengan positif. Mereka kadung termakan hasutan Seina.

Arsel ingin membantu Amel tapi sialnya dia tak punya bukti yang menunjukkan kalau bukan Amel yang mengambil uang kas kelas. Arsel berkacak pinggang dan mengernyitkan kening, terdiam seribu bahasa. Dua orang siswa laki-laki memegangi lengan Amel dan bersiap menggiringnya keluar.

"Hey, nggak usah kasar gitu dong sama Amel! Biasa aja!" bentak Arsel.

"Diem lo, Sel. Pencuri kayak dia ini nggak usah lo lindungin," tanggap salah satu siswa.

"Ini masalah kelas, Sel, bukan cuman masalah lo sama Amel. Kalo lo nggak mau ikut mengadili Amel, sebaiknya lo diem aja," kata yang satunya lagi.

Arsel menatap mereka berdua dengan muka yang memerah. Pupil dan bola matanya membesar.

Kedua siswa laki-laki itu mulai menyeret Amel sesuai arahan Seina. Seina sendiri melipat kedua tangan di dada, menatap Amel dengan sinis.

Amel meringis kesakitan sebab cengkeraman di lengannya terlalu kencang, tapi tak ada yang peduli. Situasi di kelas sangat tidak menguntungkannya.

Dibantu kedua siswa laki-laki itu, Seina membawa Amel ke ruang guru. Tanpa mereka sadari, Raja mengikuti mereka dari belakang. Tak seperti biasanya, wajahnya sangat serius.

Setibanya mereka di ruang guru, Seina langsung memerintahkan kedua siswa laki-laki itu menyeret Amel ke meja kerjanya Bu Dina. Kebetulan saat itu hanya tinggal beberapa guru saja yang masih ada di sana. Mata mereka semua terarah pada Amel yang terlihat tak nyaman.

"Ada apa ini? Ini Amel kenapa? Sakit?" tanya Bu Dina, beranjak dari mejanya dan memberi isyarat agar mereka keluar dari ruangan guru karena tidak enak dengan guru-guru lain.

Di luar ruang guru, Seina mulai mengadu.

"Jadi gini, Bu, uang kas kelas hilang, padahal tadi pagi masih ada. Tadi sesudah istirahat, Seina cek semua tas anak-anak, dan uangnya ketemu di tasnya Amel. Dia yang ambil uang kas kelas, Bu!"

Bu Dina jelas terkejut mendengar perkataan Seina. Citra Amel di mata Bu Dina termasuk baik. Sebagai sang wali kelas, Bu Dina memantau semua muridnya, dan dia cukup senang dengan kepintaran Amel.

"Amel, apa benar yang dibilang Seina?" tanya Bu Dina, menatap Amel tak percaya.

Amel menggeleng, lalu berkata, "Aku enggak ngambil uang kas kelas, Bu. Sumpah demi tuhan, Amel enggak melakukan hal seburuk itu."

"Halah! Maling mana ada yang ngaku! Enggak usah bawa-bawa tuhan segala deh lo," tanggap Seina sinis.

"Sudah, sudah," kata Bu Dina. "Sekarang kalian berdua ikut Ibu ke perpustakaan. Kita bicarakan di sana."

"Dan kalian berdua," lanjut Bu Dina, kali ini menatap ke dua siswa laki-laki yang membawa Amel tadi, "kembali ke kelas. Biar Ibu yang selesaikan ini."

Kedua siswa laki-laki itu mengangguk, lalu balik badan dan pergi. Bu Dina kemudian berjalan ke perpustakaan. Amel dan Seina mengikutinya di belakang.

Tanpa mereka sadari, Raja masih mengikuti mereka. Kedua matanya memicing. Dia ikut masuk ke perpustakaan, bersembunyi di balik rak buku tak jauh dari meja baca tempat Bu Dina menyidang Amel dan Seina.

"Amel, apa benar kamu ngambil uang kas kelas?" tanya Bu Dina.

"Aku enggak lakuin itu, Bu," jawab Amel sambil menggeleng.

"Tapi tadi Seina bilang, uang itu ada di tas kamu. Benar begitu, Seina?" Bu Dina menatap Seina.

"Benar, Bu. Uang itu ada di tasnya dia. Siswa-siswa di kelas saksinya," jawab Seina.

Bu Dina menatap Amel lagi, sorot matanya penuh selidik.

"Amel, Ibu tanya sekali lagi. Apa benar kamu yang ngambil uang kas kelas?" tanya Bu Dina.

Amel menghela napas. Tadinya dia berharap Bu Dina tak akan mudah termakan hasutan Seina, tapi rupanya harapan itu terlalu muluk.

"Tinggal ngaku doang apa susahnya sih?" kata Seina sinis.

Amel menoleh menatap Seina. Dia sudah benar-benar kesal dituduh-tuduh seperti ini.

"Sei, apa bener yang Arsel bilang tadi? Lo udah setting ini semua?" tanya Amel.

Seina menatap Amel kesal. "Apa sih lo? Kenapa jadi ke gue? Lo itu ya, udah ada bukti masih aja ngelak. Dan sekarang lo malah nuduh gue. Gila lo!" cecar Seina.

"Sudah, sudah. Cukup," tegur Bu Dina, melirik Seina kesal.

Kemudian dia menatap Amel lagi, bertanya, "Amel, apa kamu punya bukti kalau kamu nggak bersalah?"

Amel terdiam sebentar, menggigit bibir bawahnya, lalu menggeleng dan berkata, "Nggak ada, Bu. Aku nggak punya bukti apa-apa, tapi aku nggak melakukan itu."

Bu Dina menghela napas, terlihat kecewa.

"Kalau begini sih, mau nggak mau Ibu harus menghukum kamu ya, Amel," ucap Bu Dina.

"Sebenarnya ini bukan kasus yang besar, tapi ini bisa membuat orang-orang sulit percaya pada kamu, Amel. Semoga setelah menerima hukuman dari Ibu, kamu bisa memperbaiki diri," lanjut Bu Dina.

Amel kembali menggigit bibir bawahnya. Dia ingin kembali membela diri, tapi kadung kecewa. Dia merasa, apa pun yang akan dikatakannya tak akan bisa menyelamatkannya dari hukuman. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Melihat Amel hanya bisa diam dengan muka sedih, Seina tersenyum sinis. Dengan begini dia berhasil menuntaskan misi yang diberikan Chika. Itu artinya dia akan terbebas dari masalah.

Namun di titik ini, seseorang tiba-tiba muncul menghampiri meja.

"Permisi, Bu. Boleh saya memberi kesaksian?"

Tak lain dan tak bukan, seseoran itu adalah Raja. Sedari tadi dia menguping apa-apa yang dibicarakan Bu Dina dan Amel juga Seina, dan kini dia berdiri dengan penuh percaya diri, menatap Bu Dina sambil sedikit tersenyum.

"Raja? Kenapa kamu di sini? Bukannya jam pelajaran sudah dimulai?" tanya Bu Dina.

"Iya, Bu. Memang jam pelajaran sudah dimulai.Seharusnya sekarang saya di lapangan bareng teman-teman sekelas saya. Tapi, adayang harus saya jelaskan pada Ibu soal tuduhan Seina. Ibu harus tahu yangsebenarnya ter

Triangle LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang