"Eh, Raja. Ada apa?" tanya Amel, menatap Raja heran.
"Gue tadi nyari lo ke kelas. Ternyata lo ada di sini," Raja mengulangi kata-katanya, kemudian duduk di samping Amel.
"Ada apa emangnya kamu cari aku?"
"Kangen gue."
Raja mengatakannya sambil cengengesan. Amel kaget mendengarnya. Dia yang sedang minum langsung tersedak sampai terbatuk-batuk.
"Eh, pelan-pelan dong minumnya. Jangan salting, gitu," goda Raja.
Amel langsung mendelik padanya, memberi tatapan tajam, tapi kemudian dia tertawa.
Raja tersenyum lebar. Dia senang melihat Amel tertawa. Dia jadi terlihat lebih cantik dan memikat, layaknya malaikat.
Raja ikut memesan batagor. Amel lanjut minum dari tumbler miliknya. Dia bisa merasakan kalau Raja sedang mengamatinya. Ini membuatnya canggung.
"Mel," kata Raja sebentar kemudian.
"Ya?" Amel menoleh, mendapati Raja sedang menatapnya dengan sangat intens; senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Kalo gue suka sama lo, gimana, Mel?" ucap Raja, melebarkan senyumnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Pupil mata Amel melebar. Ditatapnya bola mata Raja lekat-lekat, mencari kebohongan di sana tapi dia tak menemukannya.
Tak ada kebohongan dari tatapan tulus itu. Amel jadi bingung harus merespons seperti apa. Tiba-tiba otaknya seperti berhenti berputar.
Amel menenggak lagi air putih dari tumbler-nya, mencoba mengulur waktu untuk memikirkan apa yang harus dikatakannya.
"Apaan sih, Ja? Kita kan baru ketemu tadi. Masa iya kamu langsung suka sama aku? Cepet banget," kata Amel tanpa menatap Raja.
"Hahaha... iya juga, ya. Cepet banget," balas Raja. "Em, btw, lo punya mantan, nggak?"
Sungguh random sekali pertanyaan Raja. Amel mengernyitkan kening, lagi-lagi bingung harus merespons seperti apa. Akhirnya dia mengangguk.
"Pasti ganteng tuh cowok. Beruntung banget dia, anjay," ujar Raja. "Kayak gimana orangnya? Kenapa kalian putus?"
Amel memutar bola matanya, capek menghadapi pertanyaan-pertanyaan Raja. Tapi, pada akhirnya, dia tetap menjawabnya, bercerita tentang ini dan itu sesuai pancingan Raja.
Lambat-laun percakapan mereka mulai mencair dan kecanggungan yang dirasakan Amel tadi sepenuhnya lenyap. Sambil menikmati batagor, mereka kemudian membahas keseharian mereka di sekolah dan di rumah. Sesekali Raja tersenyum lebar. Jelas sekali dia sedang berusaha menunjukkan ketertarikannya kepada Amel, secara terang-terangan.
"Woy, Ja. Buru atuh. Ka lapangan, moal?" seru salah teman kelasnya Raja dari ujung kantin.
Raja menatap temannya itu dengan malas. Kemudian dia menatap Amel lagi, tersenyum dan berkata, "Mel, gue duluan, ya. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi."
Amel membalas senyum Raja dan mengangguk. Di titik ini dia sudah lupa kalau Raja tadi sempat mengutarakan isi hatinya padanya.
Tak terasa, jam istirahat makan siang sudah habis. Amel membayar batagor yang dimakannya lalu kembali ke kelas.
Saat dia sudah hampir sampai di kelas, dia mendengar kegaduhan dari dalam kelas. Amel mengernyitkan kening, menoleh ke jendela.
"Gua serius! Ada yang lihat uang kas, nggak?"
Yang baru saja mengatakannya adalah Seina, bendahara kelas. Dia terlihat marah. Kulit mukanya yang biasanya putih kini sedikit merah.
"Lu nyimpennya di mana emang?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love
RomanceAmel Dzakarin menjadi sasaran perundungan di sekolah barunya. Arsel dan Raja yang datang membantunya justru menambah masalah Amel. Raja dan Arsel memperebutkan Amel, untuk mendapatkan hatinya. Kedekatan Amel dengan kedua pria tersebut, membuahkan pa...