Amel kaget mendapati dirinya berada dalam pelukan Raja. Cepat-cepat dia menarik badannya, sedikit menjauhkan dirinya dari Raja.
"Emm, lo nggak apa-apa, kan, Mel?" tanya Raja, menatap Amel cemas.
"Nggak apa-apa, kok," jawab Amel cepat, sambil merapikan seragamnya. Kedua pipinya yang putih itu memerah sedikit.
"Sori, sori. Gua gak sengaja. Ada yang luka, nggak?" tanya Ridwan, teman sekelasnya Raja yang tidak sengaja menendang bola plastik itu ke arah Amel.
"Nggak ada yang luka, kok. Nggak kena juga soalnya. Lain kali hati-hati, ya," kata Amel.
"Denger tuh, Wan! Hati-hati dong! Kalo tadi kena Amel, udah abis lu sama gue!" labrak Raja.
"Apaan sih, Ja. Orang Amel aja nggak kenapa-kenapa, kok," kata Ridwan.
"Itu karena ada gua. Kalo nggak, bola plastik yang lo tendang pasti udah ngehantem mukanya!" bentak Raja.
Ridwan menatap Raja dengan bingung, heran kenapa Raja semarah itu. Raja sendiri kini memelototi teman sekelasnya itu, tak sedikit pun terlihat sedang bercanda. Tak mau memperpanjang masalah, Ridwan akirnya membawa bola plastik itu dan kembali ke lapangan.
Entah kenapa, Amel merasa tak nyaman melihat apa yang barusan dilakukan Raja. Dia tahu Raja hanya mencoba membelanya, tapi perlukah sampai sejauh itu?
Tanpa mengatakan apa-apa, Amel pun pergi. Menyadari kepergian Amel, Raja langsung berlari kecil, mengejar Amel.
"Mel, lo beneran nggak apa-apa, kan?" tanya Raja setelah berhasil menyusul Amel.
"Nggak apa-apa. Aman, kok," jawab Amel malas.
Raja menyadari perubahan pada sikap Amel terhadapnya. Ini membuatnya risau.
"Btw, Mel, nanti mau gua anter pulang? Gua bonceng kayak tadi pagi," kata Raja, tersenyum lebar.
Amel menoleh padanya sebentar, lalu kembali mengarahkan matanya ke depan.
"Nggak usah kayaknya, Ja. Aku nggak mau ngerepotin kamu," kata Amel.
"Hey, ngerepotin apanya sih? Lo kayak ngomong sama siapa aja, Mel."
Amel melirik Raja dengan ujung matanya. "Emangnya... kamu siapanya aku, Ja?" tanyanya.
"Calon pacar," jawab Raja cepat, kemudian tersenyum lebar.
Amel langsung menoleh pada Raja. Langkahnya terhenti, padahal dia sudah hampir tiba di kelasnya. Tak peduli pada raut muka bingung Amel, Raja tetap mempertahankan senyum lebarnya.
"Udah nanti gua anter pulang, ya. Lagian kita kan searah. Satu kawasan juga," kata Raja.
Amel menghela napas. Raja ini agaknya orangnya keras kepala dan persisten. Dia tahu orang-orang seperti ini.
Di titik ini, Arsel keluar dari kelas, berjalan cepat-cepat ke arah mereka. Ari mukanya keruh.
"Mey, lo barusan kena sepakan bola? Ada yang luka, nggak?"
Amel menggelengkan kepala. "Enggak ada yang luka. Lagian enggak kena juga bolanya," jawabnya.
"Gue yang nyelamatin dia tadi," sela Raja.
Arsel menatap Raja dengan tajam. Raja, di sisi lain, hanya cengengesan. Arsel memutuskan untuk tak menanggapi ucapan Raja, bahkan menganggapnya tak ada. Kembali dia arahkan matanya ke Amel.
"Oh ya, Mey, gimana tadi? Lo dikasih hukuman apa sama Bu Dina? Sori gue nggak bisa bantuin lo tadi," kata Arsel.
Kembali, Amel menggelengkan kepala. "Aku nggak dihukum kok, Sel, soalnya aku nggak bersalah," ucapnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Triangle Love
RomanceAmel Dzakarin menjadi sasaran perundungan di sekolah barunya. Arsel dan Raja yang datang membantunya justru menambah masalah Amel. Raja dan Arsel memperebutkan Amel, untuk mendapatkan hatinya. Kedekatan Amel dengan kedua pria tersebut, membuahkan pa...