Sayang?

3 0 0
                                    

Rani jelas kaget mendengarnya. Kini dia menatap Arsel penuh tanya.

"Apa itu benar, Arsel?" tanyanya.

Arsel terdiam. Dia tarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. "Itu enggak benar, Mah," ucapnya.

"Lalu? Papa tau dari mana kalau Arsel dicium oleh si Amel ini?" tanya Rani pada suaminya.

"Dari foto," jawab suaminya itu ketus.

"Pah, foto yang tadi pagi itu cuma editan. Aku sudah ketemu sama orang yang menyebar foto itu di medsos, dan aku tau siapa dalangnya," kata Arsel.

"Mana fotonya, Pah? Sini tunjukin ke Mama!" pinta Rani.

Teo pun menunjukan foto tersebut, dan jelas Rani marah, mukanya memerah kesal.

"Habis lihat foto ini, Papa langsung panggil Amel tadi. Papa suruh dia untuk menjauh dari Arsel," kata papanya Arsel.

"Arsel?" Mamanya itu kini menatap Arsel, meminta penjelasan.

"Mah, tadi di awal aku udah bilang kalo foto ini editan. Mama enggak percaya sama aku?"

Arsel menatap bola mata mamanya lekat-lekat, sembari menghirup udara lalu membuangnya dengan kasar.

"Mah, aku enggak bohong. Aku jujur sama Mama. Ini semua ulah Chika. Dia dalang dari ini semua. Dia menyuruh orang untuk mengedit foto ini," jelas Arsel sambil menunjukan foto aslinya kepada mamanya.

Rani membandingkan kedua foto itu. Dia kaget, mendapati perbedannya jauh sekali. Teo diam-diam ikut melihat foto asli yang disodorkan Arsel.

Rani geleng-geleng kepala. Dia kemudian menatap Arsel, berdiri, lalu memeluknya dan mengelus-elus punggung Arsel.

"Mama percaya sama kamu, Sayang. Maaf tadi Mama meragukan kamu, ya," kata mamanya itu.

Arsel balas memeluk mamanya dan tersenyum. Sudah lama sekali Arsel tidak memeluk mamanya seperti ini.

Momen yang hangat dan menyenangkan, tapi lagi-lagi dirusak oleh papanya.

"Baguslah kalo foto itu cuma editan. Tapi, kamu sebaiknya menjauh dari Amel, Sel," kata papanya.

Arsel dan mamanya berhenti berpelukan. Arsel menatap papanya kesal.

"Kenapa emang, Pa? Kamu kayak enggak suka gitu sama Amel," tanya mamanya Arsel.

"Bukannya enggak suka, Ma. Tapi, Mama pasti tau, Chika itu suka sama Arsel. Kalo Arsel suka sama Amel, nanti Chika gimana? Papa yang bakal kena imbasnya, Ma," jelas papanya Arsel.

Arsel menggeleng kepala, tak paham dengan bagaimana cara berpikir Papanya. Masih saja memikirkan nasibnya kelak jika Papihnya Chika memecatnya, dengan alasan Chika tak mendapatkan Arsel. Ini alasan yang tidak masuk akal.

Papanya menyuruh Arsel menjauhi Amel, jelas itu merugikan Arsel, ia menjadi terbatas untuk melakukan sesuatu. Kenapa Chika harus ada di kehidupan Arsel? Chika hanyalah parasit di kehidupannya!

"Masa kita mempermainkan perasaan orang, Pah? Arsel jadi enggak bisa bebas dong?" Mamanya jelas tidak setuju dengan alasan suaminya.

"Mau gimana lagi, Mah? Ini jalan satu-satunya, supaya Papa enggak kena amuk Papihnya Chika. Arsel, pokoknya kamu harus menjauh dari Amel. Kamu harus peka dengan perasaan Chika. Paham?" Arsel hanya menunduk, raut wajahnya berubah menjadi masam.

"Harusnya Papa juga peka sama perasaan Arsel. Jangan egois begini!" kata Arsel dengan emosi tertahan, berdiri dan meninggalkan ruang tamu.

Dia terus pergi meski mamanya memanggil-manggilnya berkali-kali.

Malam itu, Arsel benar-benar terganggu oleh permintaan papanya. Dia baru bisa tidur ketika hari sudah berganti.

***

Besok harinya, Arsel kesiangan. Dia ngebut ke sekolah tanpa sempat mandi lebih dulu. Untung saja, setibanya dia di kelas, guru belum ada di kelas.

Arsel duduk di mejanya dan menaruh tasnya. Arsel lalu menoleh ke belakang, mencari-cari Amel. Dan saat menemukan Amel sudah ada di mejanya, Arsel tersenyum lebar.

Arsel mengeluarkan ponselnya, diam-diam memfoto Amel sambil tersenyum-senyum. Banyak foto Amel tersimpan di ponselnya. Berbagai ekspresi, berbagai pose. Arsel kini bisa memandangi Amel sepuasnya ketika dia kembali ke kamarnya nanti.

Arsel berdiri, berjalan menghampiri Amel. "Mey, lo udah dateng dari tadi?" tanyanya.

Amel menatap Arsel heran, berkata, "Iya. Kenapa memangnya?"

Arsel tiba-tiba duduk di kursi kosong di meja di depan Amel. Posisi duduknya terbalik, sehingga dia dan Amel berhadap-hadapan.

Dipandanginya wajah Amel. Alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya. Semuanya. Tak ada yang terlewat satu pun.

Lalu dia tersenyum. Dadanya kembali terasa hangat.

"Kenapa kamu senyum-senyum gitu?" tanya Amel, heran dengan tingkah Arsel.

"Nggak apa-apa," jawab Arsel, menggelengkan kepala. "Oh, iya, Mey. Bokap gue udah tau kebenaran soal foto itu. Sekarang semuanya udah aman, Mey."

"Oh, ya? Syukurlah. Sekarang aku bisa tenang," balas Amel.

Amel kembali membuka-buka halaman buku paket di hadapannya, tampak sedang mencari-cari sesuatu.

Dia sadar kalau Arsel masih terus memandanginya, tapi dia berpura-pura tak menyadarinya. Dia harap Arsel segera kembali ke mejanya sebelum kedua pipinya memerah seperti kemarin.

"Lo cantik, Mey," kata Arsel tiba-tiba.

Amel kaget. Pipinya memerah seketika. Dia paksakan diri untuk terus menunduk sambil membuka-buka halaman buku paket. Kini dia tak lagi tahu apa yang sedang dicarinya di situ.

"Merah banget itu pipi. Lucu banget," kata Arsel kemudian, tersenyum dengan tangan menopang dagu.

"Apa sih, Sel! Nggak jelas deh! Udah deh balik lagi ke tempat duduk kamu. Guru sebentar lagi datang," kata Amel, masih sambil menunduk menyembunyikan pipinya yang merah merona itu.

Arsel merasa gemas dengan tingkah laku Amel. Terus saja dia tersenyum dalam posenya itu.

Amel heran kenapa Arsel tak juga pergi. Dia sudah tak tahan terus-terusan menunduk. Di sisi lain, dia tak sanggup menatap mata Arsel dengan pipi merah merona seperti ini.

"Oke, Sayang. I'll go back to my desk," ujar Arsel sambil berdiri.

Amel terbelalak. Apakah dia salah dengar? Benarkah barusan Arsel memanggilnya "Sayang"?

Amel akhirnya mengangkat wajahnya, mendapati Arsel tersenyum padanya dan mengedipkan mata.

***

Triangle LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang