𝙆𝙖𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙩𝙪-𝙨𝙖𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙤𝙡𝙪𝙨𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙖𝙩𝙞, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙙𝙞 𝙥𝙖𝙣𝙜𝙜𝙞𝙡 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙘𝙪𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜.
.
.
.
Suara ayam berkokok, menandakan pagi akan segera tiba. Ayasya, gadis itu belum tidur dari semalam, saat Ia mengetahui sudah pagi di memilih untuk tidur.
Menjelang siang, Ayasya masih berada di dalam gudang, gadis itu terbangun dari tidurnya karena merasa lapar, Ayasya hanya bisa menahan rasa lapar karena tidak ada cara lain.
Menjelang malam hari, pintu gudang itu masih belum di buka, karena menahan rasa lapar dan haus Ayasya mengabaikan suasana gelap pada malam hari. Seberusaha apapun gadis itu mengabaikan suasana gelap itu, tubuhnya masih bergetar ketakutan. Karena rasa lapar, haus, dan panik attack yang sedang kambuh. Ayasya berusaha memejamkan matanya, agar bisa tertidur dan melupakan sejenak rasa letihnya.
Di pagi harinya, gadis itu yang sebelumnya tidur dalam posisi duduk kini terbaring di lantai yang dingin. Tubuhnya sudah tidak mampu lagi menopang dirinya. Ayasya hanya diam terlentang dengan pasrah, menatap kosong ke langit-langit abu-abu. Rasa lapar dan haus kian melanda, ulitnya menjadi pucat dan bibirnya yang mulai pecah, menunjukkan tanda-tanda bahwa gadis itu sedang mengalami dehidrasi.
Hari ketiga, Ayasya masih terkapar lemas tak berdaya, dengan tubuh yang semakin kurus seolah-olah akan menghilang perlahan seiring berjalannya waktu. Tidak ada setetes air ataupun makanan yang masuk ke dalam tubuh gadis itu. Yang tersisa keheningan dan kesadaran yang memudar.
Menjelang hari keempat, Ayasya sudah pasrah akan kehidupannya. Di batas antara sadar dan tidak sadar, pikirannya berkeliaran seperti daun kering yang diterbangkan angin.
Di tengah ambang kesadaran nya, tiba-tiba suara pintu gudang memecah keheningan. Arga berdiri di ambang pintu, menyaksikan putrinya hampir tak bernyawa langsung membawanya ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Ayasya dilarikan ke ruang gawat darurat. Dengan cepat gadis itu segera ditangani oleh dokter. Setelah kondisinya agas stabil, Ayasya dipindahkan ke ruang rawat inap. Dia masih tidak sadarkan diri, namun kini berada di tempat yang lebih aman.
Saat kesadarannya perlahan kembali, Ayasya mendapati dirinya terbaring di sebuah ruangan putih rumah sakit yang asing. Ayasya mencari keberadaan sosok Ayahnya, namun sosok yang dicari tidak menampakkan dirinya.
Ayasya mencoba beranjak dari tidurnya, namun gerakannya terhenti ketika seorang perawat menghampiri dan dengan lembut menahan tubuh Ayasya.
"Tenang dulu, jangan di paksakan." ucap sang perawat, sembari meletakkan nampan makanan di samping ranjang. Ayasya tanpa pikir panjang, langsung memakan makanan itu dengan lahap bukan karena rasa yang enak melainkan karena rasa lapar.
Perawat yang memperhatikan gadis itu tersenyum kecil.
"Pelan-pelan aja, makanannya gak akan kemana-mana kok." ujarnya lembut.
Ayasya yang mendengar ucapan sang perawat, mulai mengunyah makanan dengan perlahan. Beberapa menit kemudian, gadis itu sudah selesai makan. Ia bersandar, menarik napas dengan lega.
"Boleh tanya sesuatu?" suara perawat memecah keheningan.
Ayasya melihat ke arahnya. "Boleh, sus. mau nanya apa?"
"Apa yang sebenarnya kamu alami? Tubuhmu kekurangan gizi dan cairan, kamu sampai dehidrasi parah. Tidak ada makanan atau minuman yang masuk ke tubuhmu dalam waktu yang lama."
Ayasya terdiam, gadis itu tersenyum tipis, namun matanya tampak menyimpan rahasia yang tak terucap.
"Bukan masalah yang serius, kok." suaranya pelan, hampir berbisik.
Perawat itu menghela napas panjang.
"Kalau begitu.. semoga kamu benar baik-baik saja ya. Tapi Ayasya, bekas luka di tubuh kamu tidak mungkin berbohong." Ia berdiri, membenarkan letak selimut gadis itu, lalu membelai kepala Ayasya dengan lembut. "Saya pamit dulu ya, kalo butuh sesuatu kabari saya."
Ayasya yang mendengar itu hanya diam mematung, tak menjawab. Saat pintu kamar tertutup, perawat itu berpapasan dengan seorang dokter yang menangani Ayasya di koridor.
"Bagaimana? Pasien mau memberikan Jawaban?" tanya sang dokter dengan nada penuh harap.
Perawat itu menggeleng pelan. "Belum dok, pasien tidak memberitahu alasannya."
Dokter menarik napas, berpikir keras seolah memecahkan teka-teki yang sulit. "Kita butuh penjelasan darinya. Tanpa itu, kita tidak bisa membawa kasus ini ke pihak berwenang. Kondisi pasien itu sudah terlalu buruk, bukan hanya fisik namun mentalnya sedang berada di ujung tanduk."
"Lalu, kita harus bagaimana dok?"
"Kita harus temukan cara agar dia mau bicara. sebelum semuanya terlambat.. sebelum dia pergi dari rumah sakit ini dan dari hidupnya sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANAYA
Teen FictionAyasya Maudi Lashira, tak pernah mengira bahwa Ia akan jatuh hati kepada seorang laki-laki seperti Danan Januarga Kasandanu, yang merupakan adik kelasnya itu. Semua berawal saat Ayasya memimpikan seorang Danan Januarga Kasandanu. Mimpi yang katanya...
