Ayasya Maudi Lashira, tak pernah mengira bahwa Ia akan jatuh hati kepada seorang laki-laki seperti Danan Januarga Kasandanu, yang merupakan adik kelasnya itu. Semua berawal saat Ayasya memimpikan seorang Danan Januarga Kasandanu. Mimpi yang katanya...
Sang mentari sudah terlihat dari ufuk Timur ditemani suara burung yang bernyanyi dan hembusan angin yang menerpa wajah gadis itu. Ayasya yang sudah siap dengan pakaian seragam sekolahnya itu, sedang melamun sembari menatap mobil milik Bundanya dari jendela kamarnya. Mobil tersebut memasuki halaman rumahnya, Gadis itu mengira bahwa Orang tuanya sudah berbaikan.
Dia segera bergegas keluar untuk berpamitan dengan Bundanya karena ingin berangkat sekolah. Sebelum berangkat gadis itu melihat sekilas seseorang laki-laki paruh baya di dalam mobil milik Bundanya, Ia berpikir bahwa Orang itu adalah sopir Bundanya.
Tepat gadis itu memasuki gerbang sekolahnya, bel berbunyi menandakan jam pelajaran akan segera dimulai. Seperti biasa, Ayasya memarkirkan motornya dan langsung bergegas menuju ke kelas. Gadis itu menerima notifikasi dari Handphonenya, sebuah pesan dari Ayahnya. Tetapi karena jam pelajaran sudah di mulai, gadis itu buru-buru berjalan menuju ke kelas, mengabaikan pesan itu untuk sementara. Dalam hati, ia berjanji akan membacanya saat waktu istirahat tiba.
Ketika jam istirahat tiba, gadis itu segera membaca pesan yang dikirimkan oleh Ayahnya. Namun, detik berikutnya gadis itu terkejut, tangannya melemah, nyaris menjatuhkan ponselnya. Pesan dari Ayahnya itu mengabarkan bahwa sang Ayah dan ibundanya resmi bercerai dengan hak asuh jatuh kepada Ayahnya. Lebih menyakitkan lagi, Bunda dari gadis berumur 17 tahun itu memilih kabur bersama selingkuhannya, meninggalkan mereka begitu saja. Ayasya hanya bisa bergumam dalam hati, mencoba memahami kenyataan pahit yang baru saja menghampiri.
"Jadi, yang gue liat tadi itu selingkuhan Bunda.."
Ayasya terdiam cukup lama hingga tersadar dari lamunannya, Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan kelasnya.
Saat ini Gadis itu sedang duduk seorang diri di halaman belakang sekolahnya, termenung seorang diri memikirkan kejadian pagi tadi. Namun, lamunannya buyar ketika mendengar suara langkah kaki seseorang yang terdengar mendekat, mengarah ke halaman belakang. Dengan cepat, gadis itu beranjak dan bersembunyi dibalik pohon besar, berharap tak seorang pun akan melihatnya disana.
Dari balik pohon tempatnya bersembunyi, Ayasya mengintip ke arah sepasang kekasih yang sedang duduk santai, bercengkrama dengan tawa yang terdengar begitu lepas. Cukup lama memperhatikan sosok sepasang kekasih itu, matanya terpaku pada sosok lelaki yang tak asing baginya. Laki-laki itu adalah Danan, seseorang yang berhasil mencuri perhatiannya.
Ayasya tetap bersembunyi di balik pohon itu, mengamati setiap gerak-gerik mereka dalam diam. Hatinya terasa sesak, namun ia tak mampu mengalihkan pandangannya. Ayasya menyaksikan semua yang dilakukan oleh pasangan itu, kebersamaan mereka begitu nyata seolah menghantamnya pada kenyataan.
Bel masuk terdengar, keduanya pergi meninggalkan halaman belakang sekolah. Tetapi gadis itu sama sekali tak beranjak dari tempat persembunyiannya, Ia hanya terdiam sembari menahan rasa sesak di dadanya. Rasa sesak serta pikirannya yang kacau tak membuat gadis itu menangis, Ayasya hanya tersenyum palsu sembari mengelus dadanya pelan.
"It's okay sya Lo kuat kok, gapapa ya.. rasa sakitnya simpan dulu aja. Dunia ga boleh tau kalo lo sedang bersedih hari ini."
Gadis itu memutuskan untuk bolos pelajaran, memilih berdiam diri di belakang sekolah. Waktu berlalu tanpa ia sadari, hingga akhirnya bel pulang pun berbunyi, menandakan berakhirnya aktivitas di sekolah. Gadis itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya, Ia sengaja menunggu hingga sekolahnya benar-benar sepi, baru kemudian berencana untuk segera pulang.
Saat ini, Ayasya sedang mengendarai motornya menuju rumah. Tanpa memperhatikan sekitar, gadis itu melaju dengan kecepatan penuh dengan pikiran yang masih di penuhi oleh kekacauan hari ini. Tiba-tiba, sebuah truk besar melaju dari arah yang berlawanan, mendekat dengan kecepatan yang sama. Segalanya terjadi begitu cepat, gadis itu beserta motornya terpental keras ke arah bawah truk tersebut. Untungnya ban truk tersebut tidak mengenai tubuh Ayasya yang tergeletak tak sadarkan diri.
. . .
POV CLARA
Clara menggenggam handphonenya dengan perasaan khawatir kepada temannya. Sudah satu jam setengah Ayasya tak kunjung membalas pesan di group WhatsApp, saat ini gadis itu masih belum aktif. Ia kembali mengecek handphonenya berharap Ayasya membalas chat nya, melalui group mereka bertiga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tetapi nihil, gadis itu sama sekali tidak membalas chat maupun mengangkat telpon darinya, Ayasya menghilang tak tahu dimana keberadaannya.