20

10 1 0
                                        

𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙙𝙞 𝙟𝙚𝙢𝙥𝙪𝙩, 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞 𝙙𝙪𝙡𝙪𝙖𝙣.

.
.
.

Setelah pembagian rapot, Ayasya hanya menghabiskan waktu liburnya di rumah. Ia selalu melakukan pekerjaan seperti biasanya menyapu, mengepel, membereskan barang, mencuci bahkan memasak untuk dirinya sendiri.

Setelah selesai membersihkan rumah, rasa lapar mendorong gadis itu menuju dapur. Ayasya mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Namun, saat sedang memotong bawang, jarinya terluka akibat sayatan pisau. Rasa perih seketika menjalar, Ayasya buru-buru mencuci tangannya di wastafel. Perlahan, darah yang mengalir pun berhenti.

Namun, bukannya berhenti gadis itu justru terus membasuh tangannya berulang kali. Perasaan gelisah menyelimutinya, seakan-akan tangannya belum benar-benar bersih. Ayasya berusaha mengendalikan dirinya, menarik napas dalam-dalam, lalu dengan susah payah memaksa dirinya  untuk berhenti. Setelah beberapa saat, ia akhirnya kembali ke meja dapur dan melanjutkan kegiatan memasaknya.

☆☆☆

Seminggu telah berlalu. Hari ini, Ayasya tengah sibuk membersihkan halaman di depan rumahnya. Gadis itu merapikan pot bunga, ia mengurutkan pot-pot itu dengan warna yang sama. Setelah itu, ia menyiram tanaman yang ada di halaman rumahnya.

Saat langit mulai meredup dengan angin sore yang berhembus lembut, gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Baru saja ia hendak duduk dan beristirahat, Erlina tiba-tiba datang membawa sebuah kertas yang ada di tangannya.

"Heh, beliin gue barang bulanan, nih daftar belanjaannya." ucap Erlina sembari menyodorkan selembar kertas.

Tanpa banyak bicara, Ayasya segera mengambil daftar belanja tersebut, lalu bergegas memesan ojek online. Sesampainya di minimarket, Ayasya langsung menyusuri lorong-lorong, mencari barang-barang yang di butuhkan. Setelah mendapatkan semua barang, gadis itu segera menuju ke kasir dan membayarnya.

Hari mulai petang, Ayasya yang baru keluar dari minimarket langsung memesan ojek online, namun pesanannya di batalkan. Dengan sedikit kesal, ia mencoba lagi, lagi dan lagi tetapi nihil tidak ada satu pun yang menerima pesanannya.

"Kenapa di cancel mulu sih? Yaudah lah, gue naik bus aja." gumamnya dengan nada pasrah.

Ayasya melangkah menuju halte bus dan menunggu dengan sabar. Namun, waktu terus berlalu, dan tak ada satu pun bus yang melintas. Gadis itu menghela nafas gusar, matanya melirik langit yang semakin gelap.

"Udah mau maghrib. Daripada kemaleman, mending gue jalan kaki aja." ujarnya pada diri sendiri.

Ia meninggalkan halte bus itu, dan berjalan menuju ke rumah. Di perjalanan pulang, gadis itu dengan asyiknya berjalan sambil berputar-putar setelah merasa pusing Ia berjalan seperti biasa. Karena merasa bosan, Ia melakukan jalan melingkar membentuk sebuah lintasan yang berupa lingkaran. Sembari berjalan menuju kerumahnya, gadis itu
hanya ingin bersenang-senang sebelum sampai ke rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan panjang, Ayasya akhirnya tiba di rumah. Ia menghela nafas lega sembari mengulurkan tangannya untuk membuka pintu. Namun, gagang pintu itu tak bergerak karena terkunci dari dalam. Ayasya mengetuk pintu dengan hati-hati, berharap seseorang di dalam membukakannya.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dan di ambangnya sang Ayah berdiri menatap tajam pada putri semata wayangnya.

"Udah jam berapa ini Ayasya?!! Habis ngapain kamu, hah?!! Sampai lupa waktu!! Jangan pulang aja sekalian!! Anak gak tahu di untung, mau jadi apa kamu?!!" bentak sang Ayah dengan lantang.

Mendengar bentakan dari sang Ayah, tubuh Ayasya bergetar hebat namun ia berusaha untuk menahannya. Dengan suara gemetar, ia mencoba untuk menjelaskan kepada sang Ayah.

"A-ayas.. habis belanja bulanan, yah." ujarnya, ia buru-buru menunjukkan barang belanjaannya.

Namun, sang Ayah masih tak percaya.

"Alasan!! Kalo cuma belanja bulanan, kamu sudah sampai dari tadi!! Jawab dengan jujur Ayasya!! Kamu keluyuran kemana?!!!"

"Ayasya ga kemana-mana, yah. Beneran cuma belanja bulanan.. Ayas-"

Bugh!

Ucapannya terputus oleh bogeman keras yang yang menghantam pipinya. Tubuhnya terhuyung, lalu terhempas jatuh ke tanah. Rasa panas menyengat di wajahnya, Ayasya yang tergeletak di tanah hanya diam mematung.

Tanpa memberi kesempatan untuk putrinya membela diri, Arga mencengkram pergelangan tangan putrinya lalu menyeretnya menuju ke gudang. Ia mendorong gadis itu ke dalam dan segera menguncinya rapat-rapat.

"Ayah!!"

Ayasya segera berlari ke arah pintu lalu menggedornya dengan sekuat tenaga.

"Ayah buka!! Ayas ga mau disini! Ayah, Ayas ga suka gelap!!! Ayah tolong buka.. tolong, yah.. dengerin Ayasya.."

Gadis itu berteriak histeris meminta tolong, ia terus menggedor-gedor pintu itu dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Namun, tak ada jawaban dari sang Ayah. Hanya suara berat langkah kaki yang semakin menjauh, meninggalkannya sedirian di dalam kegelapan.

Lutut Ayasya melemas. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia bersandar di pintu, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tangan gemetarnya merogoh handphone di saku celana, tetapi benda pipih yang di cari oleh gadis itu tidak ada.

Jantungnya berdegup kencang, rasa panik mulai menguasai dirinya. Matanya dengan cepat menyapu setiap sudut gudang yang suram dan pengap. Tidak ada jendela, tidak ada sama sekali celah untuk keluar.

Gadis itu mondar-mandir dengan perasaan gusar sembari berpikir untuk mencari cara agar bisa keluar. Tapi semakin lama ia mencari solusi, semakin terjebak ia dalam pikirannya. Ayasya hanya menghela nafas, dan memutuskan untuk berhenti.

"Huftt.. ga ada cara lain selain pasrah, mau ga mau gue harus nunggu sampai pintu ini dibuka." gumamnya lirih.

DANAYATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang