(FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA UNTUK MEMBUKA BAB YANG DI PRIVATE ACAK!)
Tak kunjung mendapatkan pekerjaan, Ruby menerima tantangan dari kedua sahabatnya untuk mengajak tidur laki-laki acak yang berada di bar di mana mereka sedang minum-minum. Sebagai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sesuai dengan janji mereka di pagi tadi, Ruby sudah bersiap dengan menyandang tas miliknya, begitu juga dengan Daffa. Mereka saling lempar pandang beberapa saat, tersenyum malu, berusaha menyembunyikan kedekatan keduanya dari pegawai lain yang berada di ruangan ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, sebenarnya ini sudah melewati jam pulang kerja normalnya, tapi bagi anak gudang, ini adalah hal biasa. Pegawai yang bekerja di gudang memang selalu pulang lebih lambat dari pada pegawai yang bekerja di gedung utama MFood. Bukan hanya mereka, Pak Burhan pun masih berada di ruangannya, menemani bawahannya bekerja karena jika ingin, Pak Burhan bisa saja pulang terlebih dahulu.
"Aku membelikan minum untukmu." Daffa memberikan minuman kemasan kepada Ruby yang dengan senang hati di sambut oleh perempuan itu.
"Kau tahu saja aku sedang haus," ucap Ruby, membuka tutup botol minumannya. Ruby sedikit merasa heran saat botol minuman itu terlalu mudah dia buka, tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Ruby memilih meneguk minumannya sedikit.
"Aku juga membelikanmu satu." Daffa beralih memberikan satu minuman untuk Melly yang berdiri tidak jauh dari Ruby. Sebelum menyerahkan botol itu kepada Melly, Daffa membukakan tutupnya terlebih dahulu.
Melly tersenyum menerima minuman dari Daffa, dan langsung meneguknya seperti apa yang di lakukan oleh Ruby. "Minuman favoritku?" tanyanya, di balas dengan anggukkan oleh Daffa.
Ruby paham, Daffa memang tipikal laki-laki yang begitu menghargai perempuan. Bahkan, hal terkecil seperti membukakan tutup botol minuman saja dilakukan oleh Daffa. Pasti tadi laki-laki itu juga melakukan hal yang sama dengan botol minuman miliknya. Memikirkan itu membuat perasaan Ruby menghangat, sangat jarang ada laki-laki yang peduli seperti Daffa. Ya, walaupun ada sedikit kurangnya karena Daffa juga berlaku yang sama kepada Melly.
Ruby tidak terlalu mempermasalahkan itu, hubungan mereka masih dalam tahap memulai pendekatan, dan Daffa bebas peduli kepada siapa pun. Akan beda ceritanya jika mereka sudah menjalin hubungan yang serius, Ruby tidak akan rela jika kepedulian itu masih di bagi. Untuk sekarang, Ruby akan memakluminya.
"Ayo, Ruby," ajak Daffa saat semua pegawai sudah pergi pulang, hanya tersisa mereka berdua di ruangan ini, termasuk Pak Burhan yang sedang bersiap-siap di ruangannya.
Ruby menganggukkan kepalanya, hendak melangkahkan kakinya mengikuti Daffa. Baru saja Ruby mencapai ambang pintu, suara Pak Burhan menghentikan langkah kakinya.
"Ruby," panggil Pak Burhan, keluar dari ruangannya, dan berjalan mendekati Ruby.
Ruby membalikkan badannya, menatap Pak Burhan. "Iya, Pak."
"Kau bisa ke ruangan Pak Chris?" Ruby mengernyitkan dahinya bingung. "Beliau tadi menelepon Saya, menyuruhmu ke ruangannya setelah selesai bekerja. Ada yang ingin dia bicarakan denganmu, sepertinya dia menikmati obrolan terakhir bersamamu," tambah Pak Burhan menjelaskan kebingungan Ruby.