Bab 1 Flashback

413 9 0
                                        

Lima tahun yang lalu...

Di sebuah perumahan biasa di pinggir kota Handom...

Baron yang masih berusia 19 tahun itu berdiri di depan pintu rumahnya, tangannya menahan gagang pintu. Sepertinya ia sengaja tak membukanya karena sesuatu tengah terjadi di dalam.

"MAS!! Masih berharga nggak sih kami buatmu?!" Seorang wanita berteriak dari dalam. "Lihat anak kita, lihat anak kita, Mas! Mereka masih butuh kamu!"

"Bu, bisa nggak jangan bahas ini terus? Aku capek! Suami baru pulang bukannya dihibur malah nyari perkara." Pria itu balas berteriak. "Udah awas! Aku nggak peduli uang itu! Pokoknya jangan bahas masalah uang yang udah aku habiskan itu!"

"Mas! Dengerin aku, Mas! Cukup, Mas!"

"Awas!" Bum!

Terdengar suara benturan yang sangat keras. Pria itu mendorong wanita itu dengan sangat keras.

"Mas..." rintih wanita itu. "Aku nggak peduli uang itu kalau mas habiskan untuk hal lain..." wanita itu menangis sambil menahan rasa sakit. "Tapi kalau untuk seling-"

Baron segera memalingkan pandangannya tanpa mendengar keributan itu lagi. Karena ia tahu itu hanya akan menusuk hatinya. Ayah-ibunya bertengkar, suatu hal yang sudah biasa terjadi di rumah kecil itu. Tanpa banyak pikir, dia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan rumah.

Begitulah yang selalu terjadi di rumahnya. Baron ialah anak pertama dari dua bersaudara. Setelah lulus dari SMA setahun yang lalu, ia segera meninggalkan rumah dan mencari pekerjaan walau hanya sebatas di kota itu. Yang terpenting bagi Baron ialah keluar dari lingkungan toxic itu. Ia bahkan rela tidur di rumah temannya atau di tempat umum lainnya demi menghindari keributan di rumahnya.

Dan kali ini pun sama, ia pergi ke salah satu tempat favoritnya, sebuah gudang tua di ujung gang, tempat dia dan teman-temannya biasa nongkrong. Markas kebesaran mereka.

Ketika Baron tiba, Gery, Gema, dan Kim sudah ada. Gery tengah asyik menghisap rokok, duduk santai di atas tumpukan kardus. Gudang sempit itu sebenernya bekas pabrik sehingga banyak kardus-kardus dan lemari-lemari bekas yang berserakan. Karena kini gudang itu markas mereka, geng itu memoles seisi gudang itu sedemikian rupa agar layak huni.

"Eh, Ron!" Gery yang badannya agak berisi dan selalu terlihat ceria, melambaikan tangan. "Lama bener. Abis darimana lu?"

"Yo, yo, yo, siapa tuh yang datang? Bos besar, kayak juragan! Dari mana aja bro, ngilang kayak hantu, kita di sini, nungguin sampe layu!" celetuk Gema dengan gaya rap sok coolnya tak lupa memainkan tangannya ke udara. Ia lalu memberi tangan kanannya ke Baron. Tangan kirinya mencekek es cekek, minuman formalitas mereka. "Wasap bro?!"

Baron menyambut tangan Gema. "Biasa, lah!"

Gema langsung girang, berjalan ngelilingin Baron. "Ciah... Pak Baron, sekarang ngurus babi, Babi om Sueb imut sekali.Wahai bro Baron dapet apa sih, kerja di kandang babi berapa gaji?"

"Ckk, Brisik lu!" kata Baron sambil menjotos halus dada Gema. "Tau aja ya lu kegiatan gua."

"Lah, kerja di Om Sueb lu sekarang, Ron?" tanya Gery.

"Yo'i, Men!" celetuk Gema. "Pawang babi niee!"

"Serius, Ron? Om Sueb, mafia babi itu?" tanya Gery masih belum percaya.

Baron mendesah, langsung melempar tubuhnya ke kursi kayu yang hampir patah. "Iya... udah ah, lebay." Ia menghela nafasnya. "Pas gua kelar kerja tadi, gua balik ke rumah." Baron menyandarkan kedua tangannya ke belakang kepalanya, menjadikannya bantal.

"Terus, Men?" tanya Gema masih menyeruput sedotan esnya.

"Ya... kayak biasa, ribut terus mereka."

Cpruttt! Gema tak sengaja memuntahkan minumannya, kaget. "Masih?"

Gairah MariyuanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang