Setahun kemudian...
Setahun berlalu sejak malam berdarah itu, dan Baron tak pernah lagi sama. Ia berubah. Kepribadiannya berubah drastis. Kini ia sudah menduduki takhta kekuasaan di dunia malam Handom City, suasana hatinya pun menjadi kelam.
Kesuksesan yang dulu ia impikan terasa hampa tanpa kehadiran Gema di sisinya. Gudang yang dulu menjadi tempat nongkrong mereka, kini sudah diubah menjadi markas yang modern dan rapi, lengkap dengan meja-meja untuk para akuntan yang mengawasi aliran uang dari bisnis malam yang kini berada di bawah kendali Baron.
Gery kini menjabat sebagai manajer, mengawasi operasi harian geng, sementara Kim, yang sejak malam itu menjadi lebih dingin dan tertutup, diangkat sebagai pengawal pribadi Baron dan diberi panggilan "Kepala Kim." Setiap hari, mereka semua mengenakan jas, kecuali Kim yang tetap mempertahankan ciri khasnya dengan jas panjang dan pisau yang selalu terikat di pinggangnya.
Namun, kekuasaan dan kekayaan tak bisa mengobati luka di hati Baron. Setiap sore, dia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Gema, sahabatnya yang mati demi perebutan kekuasaan yang kini justru terasa hampa.
Sore itu, angin berhembus kencang di pemakaman. Daun-daun kering berguguran, menciptakan suara gemerisik di sekitaran. Baron berdiri di depan nisan Gema, pandangannya tertunduk, matanya merah karena menangis.
"Gem... lo seharusnya ada di sini. Gue nggak bisa jalanin ini sendirian..." gumamnya pelan, suaranya serak penuh kesedihan. Air mata jatuh ke tanah, bercampur dengan debu yang tertiup angin.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Baron tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.
"Bos," suara Gery memecah kesunyian. "Ada telepon penting. Dari Filipina."
Baron hanya diam, masih menatap nisan sahabatnya. Gery melanjutkan, mencoba menahan nada mendesak, "Ini soal mariyuana, bos. Mereka butuh jawaban sekarang."
Baron mengusap air matanya dengan cepat, ia menghela napas panjang, mencoba menahan rasa sakit di dadanya. Tak ada waktu untuk terus larut dalam kesedihan, walau hatinya masih hancur.
"Iya," ucap Baron akhirnya, suaranya dingin tapi berat. "Gua selesai di sini."
Ia berdiri tegak, menatap nisan Gema untuk terakhir kalinya hari itu, sebelum berbalik menuju Gery. Matanya sudah tak lagi merah, namun rasa kehilangan itu takkan pernah hilang.
Dengan langkah tegas, Baron berjalan menjauh dari kuburan Gema, meninggalkan masa lalu yang masih menghantui, menuju markas besar di mana takhta kekuasaan kini menunggunya.
Baron turun dari mobil BMW hitam mengilap yang dikemudikan oleh Kim. Suasana di dalam mobil begitu sunyi, berbeda dari masa-masa sebelumnya. Gery duduk di samping Baron di kursi belakang, dan tak ada lagi tawa atau canda yang pernah menghiasi hubungan mereka. Sejak kesuksesan besar itu, kesibukan dengan jabatan masing-masing, ditambah kematian Gema, membuat segalanya berubah menjadi serius dan penuh tekanan.
Ketika mobil berhenti di depan markas, mereka disambut oleh anak buah—mantan anggota geng Hugo yang kini tunduk di bawah Baron, serta alumni SMA yang masih selamat dari tragedi berdarah setahun yang lalu. Mereka memberikan hormat dengan serius saat Baron, Kim, dan Gery turun dari mobil.
Markas besar mereka, yang kini dikenal sebagai Tetra Handom, berdiri megah dengan papan nama besar yang memancarkan cahaya neon terang di malam hari. Setiap malam, ada anak buah yang berjaga di sekitar gedung, memantau aktivitas di sekitarnya. Bagian dalam gedung tersebut dirancang seperti sebuah benteng kekuasaan.
Tetra Handom diambil dari bahasa sehari-hari mereka yang artinya empat pemuda Handom. Walau kini mereka hanya bertiga, Gema akan tetap selalu ada dan dikenang selamanya. Oleh sebabnya Baron memutuskan untuk mengganti nama-nama bisnisnya menjadi Tetra Handom.
Kembali ke markas, lantai pertama dihiasi dengan alat-alat gym dan peralatan olahraga, tempat para anak buah menjaga fisik mereka tetap prima. Berbagai sofa besar tersedia untuk tempat mereka berkumpul dan bersantai. Di lantai kedua terdapat gudang penyimpanan senjata dan kamar tidur bagi para anak buah, sebuah fasilitas lengkap untuk kebutuhan operasional mereka. Namun, lantai ketiga adalah tempat inti kekuasaan Baron. Di sana terdapat ruang kerja khusus Baron yang tak bisa dimasuki sembarang orang, serta ruang akuntansi yang mengendalikan seluruh bisnis malam mereka.
Mereka berjalan menuju lift, Kim tetap cool dengan kacamata hitamnya yang khas, sementara Gery melangkah dengan tenang di samping Baron. Ketegangan terasa dalam keheningan mereka, namun masing-masing sudah tahu peran mereka dalam organisasi ini.
Lift berhenti di lantai tiga, dan mereka berjalan menuju ruang khusus Baron. Begitu tiba, Baron mengambil rokok dari sakunya, dan tanpa diminta, Gery menyalakan rokok itu untuknya. Asap putih memenuhi ruangan yang bercahaya redup, suasana tenang namun penuh tekanan.
Mereka duduk di sofa besar di ruang itu. Kim, dengan sikap dinginnya, tetap berdiri di sudut ruangan, mengawasi segala sesuatu tanpa suara. Baron mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.
“Gimana?” ucap Baron tanpa basa-basi, suaranya dalam dan penuh wibawa.
Gery, yang sudah menyiapkan jawabannya, segera menjawab, “Tadi siang, Prof. Carlos menelepon. Akhirnya dia nanya soal mariyuana itu dan butuh kepastian.”
Baron mendengarkan dengan tenang, lalu mengangguk. “Kepastian itu udah pasti. Berapapun harganya, gua akan bayar.” Dia menyodorkan tangannya ke Gery. “Kasih ke gua ponselnya.”
Gery memberikan ponselnya kepada Baron, dan segera memutar nomor Prof. Carlos, sosok yang dingin namun berkuasa di Filipina. Sambungan telepon segera terhubung, dan suara Carlos terdengar dari seberang.
“Prof, ini Baron,” ucap Baron datar.
Di seberang sana, suara Carlos terdengar dingin namun penuh otoritas. “Baron. Jadi bagaimana dengan mariyuana itu? Aku butuh kepastian untuk pengiriman dalam waktu dekat. Kau tau aku lebih memilih kau karena kau telah membantuku.”
“Siap, Prof, aku tau dan segalanya sudah siap. Berapapun yang anda minta, aku akan bayar. Aku akan mengamankan pengiriman. Uang sudah siap, mariyuana harus sampai tepat waktu.”
Carlos terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang sama dinginnya. “Baik. Pengiriman akan siap dalam lima hari. Pastikan semuanya berjalan lancar. Dan ingat, aku tak suka kegagalan.”
“Tidak akan ada kegagalan,” jawab Baron dengan tegas, suaranya mengandung kepercayaan diri penuh. Setelah beberapa kata lagi tentang detail transaksi, telepon pun ditutup.
Baron mengembalikan ponsel ke Gery dan menghembuskan asap rokoknya dengan tenang. Dia menatap Gery, lalu berkata, “Siapin semuanya. Kita bakal ke pelabuhan Samarinda lima hari lagi sesuai kesepakatan.”
Gery mengangguk dan segera bangkit, bersiap untuk memulai persiapan yang diperlukan.
"Satu lagi, lu udah dapet kabar keberadaan bajingan itu?" tanya Baron menyinggung seseorang.
"Belum, Bos. Kim masih terus mencari."
"Temukan secepatnya dia, gua mau dia mati ditangan gua!"
"Siap, Bos. Hugo bakal ketemu."
"Bagus!"
***
Malam itu hujan turun deras, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Baron, Kim, dan Gery berada di dalam mobil, menikmati ketenangan setelah makan bersama anak buah mereka di markas. Suara hujan menghantam kaca mobil, menciptakan suasana yang mendalam.
Saat mobil melewati sebuah jalanan, di bawah lampu jalan yang temaram, Baron melihat seorang wanita berjalan terkuyung-kuyung dengan payung rusak, basah kuyup tanpa tempat berteduh. Hati Baron tergerak, mungkin karena perasaan iba atau entah kenapa, ia merasa ada sesuatu yang familiar tentang wanita itu.
"Berhenti, Kim," ucap Baron tiba-tiba.
Kim mematuhi tanpa bertanya. Baron keluar dari mobil, mengambil payung hitam, dan berlari ke arah wanita tersebut. Saat ia semakin dekat, perasaannya semakin kuat. Wanita itu tampak pucat, rambutnya basah karena hujan, dan matanya seperti mencari sesuatu dalam kegelapan.
Baron membuka payung dan melindunginya dari hujan. Saat itu, mata mereka bertemu. Ada sejenak kebisuan di antara tetes hujan yang menghantam tanah.
"Vivian?" Baron berbisik, suaranya nyaris tak terdengar di tengah derasnya hujan. "Ka-kamu Vivian?"
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
ActionBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
