Hanzo melangkah canggung menuju meja tempat Seoyeon duduk. Sesekali dia melirik foto di tangannya untuk memastikan—benar, itu Seoyeon, gadis cantik dengan gaun merah yang memancarkan aura tegas dan anggun. Saat mendekat, langkah Hanzo sempat tersendat karena anak buah Seoyeon yang kekar tiba-tiba muncul di sampingnya tanpa suara, membuat Hanzo tersentak. Anak buah itu hanya menatap tajam tanpa sepatah kata, seolah memberi isyarat agar Hanzo segera menemui Seoyeon.
“Um, maaf… Saya, uh… anak buah Baron,” Hanzo berkata pelan sambil sedikit terbata-bata. Seoyeon menatapnya dengan ekspresi bingung dan terlihat mulai bosan.
"Kau? Aku tak butuh kau," ucap Seoyeon dengan mimik malas.
"Ta-tapi, bos memintaku untuk menemuimu... No-nona Seyon."
"SEOYEON!" tegas Seoyeon.
"Ma-maaf, nona."
Seoyeon membuang napas kasarnya, "Aku mulai muak dengan sikapmu. Seoyeon menggoyangkan gelas minumannya. "Duduk!"
Hanzo segera turut.
“Jadi… mana Baron?” Seoyeon bertanya dengan nada datar, matanya menelusuri Hanzo dengan rasa penasaran sekaligus kekesalan yang tersembunyi.
Hanzo gugup. Dia mencoba menjawab dengan berusaha menjaga ekspresi, tetapi nada suaranya terdengar ragu, “Uh… bos ada jadwal ke luar kota…”
Mimik wajah Hanzo yang tidak bisa menutupi kebohongannya membuat Seoyeon semakin yakin. Dia melambaikan tangan pada anak buahnya yang langsung mencengkeram bahu Hanzo, membuatnya kesakitan.
“Oke! Oke!” Hanzo akhirnya menyerah, “Dia… Dia pergi bersama seorang wanita.”
Mendengar itu, Seoyeon tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sulit diartikan. "Seorang wanita? Apakah Baron sudah menikah?"
"Belum, nona."
"Lantas, siapa wanita itu?"
"Dia teman lama bos ketika mereka SMA dulu. Dan Sepertinya bos menyukainya."
Mendengar itu, Seoyeon tak tahan. Ia mengambil tasnya dan berdiri.
"Tapi!" Hanzo melerai.
Seoyeon berdiri sambil melipat tangannya.
"Wanita itu seorang polisi."
"Polisi?" Seoyeon tertegun sejenak. Ia lalu kembali duduk. "Teruskan!"
"Mereka saling mencintai dan itu dirahasiakan olehnya dari anggota geng."
Seoyeon tersenyum licik. "Waw... Sepertinya ini akan menarik. Siapa tadi namamu?"
"Hanzo."
“Baiklah, Hanzo aku mau kau mata-matai Baron,” ujarnya santai. "Aku ingin kau selaku mengamati terus ceritakan padaku apa yang ia lakukan dengan polisi itu!"
Hanzo menelan ludah, merasa posisinya semakin rumit.
"Aku mau, tapi ada syaratnya!"
"Syarat? Kau butuh uang? Berapa maumu?"
Hanzo menggeleng menolak dengan tegas.
"Ouh, jabatan?"
Lagi-lagi Hanzo menggeleng. Kini Seoyeon menatapnya penuh minat.
“Apa yang kau mau, Hanzo?” tanyanya sambil mencondongkan tubuhnya sedikit.
Hanzo terdiam beberapa saat, dan akhirnya, dalam gerakan spontan yang entah dari mana datangnya keberanian itu, dia menjawab, “Aku… aku ingin… kamu.”
Ruangan terasa sepi dalam sekejap. Pengawal Seoyeon yang ada di dekat mereka segera mencekik Hanzo dengan keras, hampir membuatnya kehabisan napas.
"Lep-lepasss!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
AksiBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
