Bab 11

79 4 0
                                        

Geng pusat, Jakarta...

Hari ini, Baron duduk di dalam mobil yang dikemudikan oleh Kim, sementara Gery duduk di sampingnya. Tatapan Baron kosong, namun di balik itu, pikirannya terus berputar. Mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah di Jakarta. Penjaga hotel membukakan pintu untuk Baron, dan dia keluar dengan langkah tenang namun tegang. Lobi hotel terasa dingin, seolah-olah suasana di tempat itu sudah dipenuhi oleh aura pertemuan yang berat.

"Di sini?" tanya Baron ke Gery.

Gery melihat ponselnya, lalu menatap Baron. "Benar, Bos. Di sini, hotel Wings."

Tak lama kemudian, sebuah mobil klasik Mercedes Benz meluncur pelan menuju pintu masuk. Dari mobil itu keluar seorang pria berjas dengan luka gores di wajahnya. Perawakannya sangat dingin, dan matanya tajam, penuh intimidasi.

Baron mengkerutkan dahi, merasa janggal.
Ia menghampiri Gery, "Kenapa Jepang di sini?"

"Jepang?" Ia keluar dari mobil lalu melihat pria berjas hitam itu. "Gua gak tau, bos. Dimitry berpesan pertemuan ini hanya dia dan bos."

"Monyet, si Dimitry! Mau ngapain dia bawa-bawa Jepang." Baron merasa kesal. Ia ingin sekali meluapkan kemarahannya, tetapi menahannya. Tidak lama setelah itu, sebuah Rolls Royce putih muncul. Baron tahu, itu mobil pamannya.

Dimitry keluar dari mobil dengan santai, pengawalnya mengikuti di belakang. Saat dia melihat Baron, Dimitry tersenyum tipis, tampak sangat tenang, seolah-olah semua ini hanya permainan baginya.

"Apa ini?!" Baron menghampiri Dimitry.

"Tenanglah, Fernandes muda," ucap Dimitry dengan nada santai. "Aku mengundang beberapa teman untuk ikut serta dalam diskusi kita. Ini penting untuk masa depan bisnis kita. Kau pasti suka."

"Jepang? Teman?" Baron kesal. Ia lalu berbalik hendak masuk mobil.

"Hei, hei!" Dimitry memanggil. "BARON!"

Mendengar pamannya berteriak, ia berhenti, berbalik. "Apa?!"

"Jaga sikap mu di depan pamanmu!" Nada Dimitry serius. Matanya tajam melirik Baron. "Kau yang inginkan semua ini bukan? Jadi, ikuti!" seru Dimitry tegas.

Baron menahan amarahnya, tetapi dalam hatinya, dia semakin geram. Kesepakatan ini tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.

Sebelum Baron sempat bereaksi, sebuah mobil Tesla meluncur dan berhenti di depan hotel. Mobil itu berhenti tepat di tengah karpet merah yang digelar. Seorang Pengawal bertubuh besar, kekar, dengan tato di leher dan kepala botak membukakan pintu. Dari dalam mobil keluar seorang perempuan dengan aura dingin yang begitu menyengat.

Perempuan itu adalah putri Profesor Carlos, mafia besar dari Filipina. Matanya tajam, langkahnya tegas, dan bibirnya melengkungkan senyum sinis. Saat dia melangkah mendekat, dia melirik ke arah pria Jepang dari Yakuza dan berkata dengan nada mengejek, "Hei, kau dari Jepang, ya? Kalau tidak salah, Yakuza? Mana tatomu?"

Pria yang merupakan tangan kanan Yakuza Jepang itu cuma diam, menampilkan sorot wajah yang dingin dan tegas.

Perempuan itu tertawa meremehkan, "Bisu, dasar, Jepang!" Ia lalu mengalihkan pandangannya ke seorang pria lain yang juga berdiri di sekitar tempat itu.

"Selamat datang, Nona Seoyeon!" Dimitry segera mengulurkan tangannya ke perempuan Filipina itu.

"Ah, kau sangat ahli dalam menerima tamu. Indah sekali tempat ini!" ucap Seoyeon sambil melirik ke sekeliling hotel mewah yang berdiri megah di depan mereka. "Tapi, kemana orang-orang kaya di kota ini? Kenapa hotel semewah ini terasa sepi?"

Dimitry mencium tangan Seoyeon, ia tersenyum, "Nona, hotel ini ku persembahkan untuk para tamu-tamu spesialku."

"Ah, keren. Sepertinya aku akan bersenang-senang. Dan ayah akan senang dengan berita ini."

Gairah MariyuanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang