Baron tersenyum di depan cermin untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Raut wajahnya, yang selama ini penuh kesedihan dan beban, kini tampak lebih ringan. Mengenakan jas hitam dengan kemeja putih yang bersih, ia bersiap-siap untuk pergi.
Baron turun dari lantai atas markasnya, melintasi anak buah yang selalu memberi hormat dengan menundukkan kepala saat ia lewat.
"Selamat pagi, bos!"
Hal itu sudah menjadi kebiasaan-tanda penghormatan pada pemimpin mereka.
Setelah memasuki mobil, Baron memulai perjalanan untuk menjemput seseorang.
Mobil sampai dan berhenti di depan rumahnya. Baron keluar dan dengan sopan membukakan pintu mobil untuknya. "Apakah aku telat?"
Vivian yang berdiri anggun merah di depan pagar rumah itu tersenyum, "Enggak, kok."
"Oh ya?" Baron melirik dari Vivian dari atas sampai bawah. "Wah... Cantik sekali kamu?"
"Ah, kamu bisa aja!" Vivian masuk ke dalam mobil.
Setelah menutup pintu untuk Vivian, Baron lalu masuk ke jok pengemudi dan membawa Vivian menuju suatu tempat di kota.
"Kemana kita?" tanya Vivian sambil melirik ke samping.
"Tunggu aja, kamu pasti suka."
Sesampainya di suatu tempat. Baron memarkirkan mobilnya.
"Ron? Serius kita ke sini?"
Baron mengangguk sambil melepas sabuk pengamannya. "Gimana?" Baron senyum sambil bersiap keluar.
"Tapi..." Vivian tidak menyangka akan dibawa ke tempat mewah itu.
"Udah!" Baron keluar. Ia lalu membukakan pintu untuk Vivian.
"Ron, aku gak pernah ke sini!"
"Bagus! Ini pertama kalinya, kan?" Baron mengulurkan tangannya ke Vivian.
"Ah, kamu ini!" Vivian senyum sambil menerima tangan Baron. Mereka berjalan masuk ke lobi dan langsung disambut oleh pelayan di sana.
Di restoran, suasana elegan mendominasi. Lilin-lilin kecil menyala di atas meja, memberikan cahaya lembut yang menciptakan keintiman di antara mereka. Baron dan Vivian duduk berhadapan di sebuah tempat yang pemandangannya langsung tertuju ke sebuah taman indah di depan mereka. Di depan terdapat sebuah kolam mini dan bunga-bunga indah menghiasai taman mini itu. Sangat indah.
"Ron, ini indah banget!" Vivian begitu terharu. Ia tak henti-hentinya memandang.
"Kamu suka?"
"Banget!"
Baron lalu menghela napasnya. "Vi?"
Vivian langsung mengalihkan pandangannya ke Baron, "Ya?"
"Udah lama banget ya, Vi? Rasanya kayak baru kemarin kita masih duduk di bangku SMA," ujarnya sambil tersenyum.
Vivian mengangguk, tersenyum tipis. "Iya, waktu memang berlalu begitu cepat. Dan kamu tuh udah kelihatan jauh lebih dewasa sekarang, Ron. Oh iya, omong-omong apa ini semua? Kenapa aku dikejutkan seperti ini?"
"Ah... Hahaha... aku menyiapkan semua ini untuk kamu karena aku ingin mengulang masa lalu."
"Oh ya? Tapi masa lalu kita gak seindah ini? Lihat semua ini? Mewah!"
"Vi, bukan itu maksudku." Baron memandang Vivian serius. "Kamu masih ingat saat itu?"
"Saat itu? Saat apa?" tanya Vivian tak mengerti maksud Baron.
"Kau tahu, di waktu perpisahan kita di saat kamu pindah, waktu itu aku benar-benar merasa kehilangan. Sulit buat aku lupain kamu. Saat itu aku lari. Lari sekencang-kencangnya ngejar mobil kamu. Teriak: Vi! Aku gak mau perpisahan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
ActionBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
