Uang itu melayang di udara dan jatuh ke kaki Baron. Namun, Baron hanya memandanginya tanpa perasaan. Di satu sisi, dia tahu ini adalah penghinaan.
PRAKK! Pintu ditutup oleh Hugo.
Baron memungut uang itu dengan tangan yang bergetar. Bukan karena takut, tapi karena kemarahan yang sudah tak terbendung. Dia hanya mengangguk singkat, lalu berbalik dan meninggalkan lorong itu.
Di parkiran, Baron duduk di kursi pengemudi mobil, tangannya meremas uang itu hingga lecek. Napasnya berat, dan dalam amarahnya, dia meremas uang itu lebih kuat lagi, lalu melemparnya ke tempat sampah di dekatnya.
Baron mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, menyalakannya dengan tangan yang masih gemetar. Dia menghisapnya dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang kalut. Di dalam mobil itu, di bawah langit malam yang gelap, Baron merenungkan keadaannya.
"Apa ini semua pantas?" pikirnya. "Gue udah ngelakuin semua ini demi temen-temen gue, demi Ibu... demi Viola... Tapi sampai kapan gue bisa bertahan?"
***
Malam itu, suasana di sekitar hotel tampak sunyi, namun di dalam, sesuatu yang besar sedang terjadi. Hugo, Kim, dan Shadow turun dari lift menuju lantai paling bawah, di mana basecamp pertemuan para ketua geng besar Indonesia berada. Sepanjang lorong, ada dua bodyguard bertubuh kekar dan menggunakan kacamata hitam yang berdiri menjaga pintu dengan tatapan penuh curiga. Mereka memeriksa setiap anggota geng yang diundang, memastikan tidak ada ancaman di balik pintu tersebut.
Ketika Hugo mendekat, kedua penjaga segera membuka jalan. Sebagai pemimpin geng besar di Handom City, Hugo tak perlu digeledah. Namun, Kim dan Shadow yang merupakan pengawal pribadinya harus melalui pemeriksaan ketat. Kim mengenakan jaket kulit hitam yang panjang, tampak berkilauan di bawah cahaya redup. Kacamata hitamnya menambah kesan dingin dan tak terjamah. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, namun aura sangarnya begitu jelas. Di sebelahnya, Shadow dengan jas rapi dan tatapan dingin yang menakutkan siap mengikuti setiap gerak Hugo.
Saat penjaga mulai menggeledah Kim, hampir terjadi benturan antara mereka-tubuh kekar penjaga dan Kim yang tak bergerak, saling mengukur. Ketegangan mulai terasa, namun sebelum terjadi konflik, Hugo memberi isyarat dengan tangan, meminta Kim untuk tidak bereaksi.
Setelah pemeriksaan selesai, penjaga pintu membuka tas dan koper yang dibawa Kim, mengecek isinya-uang dalam jumlah besar yang baru dikumpulkan di hotel tadi. Setelah puas dengan pengecekan, mereka mengangguk dan mempersilakan rombongan Hugo masuk.
Di dalam ruangan, suasana semakin mencekam. Deretan kursi membentuk setengah lingkaran, diatur dengan cermat. Para pemimpin geng dari berbagai kota sudah duduk di tempat mereka masing-masing, menunggu pertemuan dimulai. Lampu di ruangan itu redup, menciptakan bayangan di setiap sudut, seolah mengaburkan wajah-wajah licik yang berkumpul di sana. Semua orang diam, tak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat dan detak jam yang terdengar di antara mereka.
Namun, ada satu sosok yang paling mencolok di antara semuanya. Seorang pria tua dengan wajah dingin dan berwibawa duduk di tengah-tengah lingkaran itu. Dia adalah Dirgantara, pemimpin geng pusat Indonesia. Tubuhnya mungkin sudah renta, namun auranya masih begitu kuat. Di belakangnya berdiri dua pengawal yang tinggi besar, berotot, dan tampak mematikan. Mereka tidak bicara, tapi kehadiran mereka cukup untuk membuat siapa pun di ruangan itu merasa terancam.
Kim dan Shadow berdiri di belakang Hugo, sama seperti pengawal lainnya berdiri di belakang pemimpin mereka masing-masing. Tatapan Kim tetap dingin dan datar, tak memedulikan kekuatan-kekuatan besar yang berkumpul di ruangan itu. Shadow juga tampak tak terpengaruh, hanya mengawasi situasi dengan waspada.
Ketika semua sudah siap, Dirgantara berbicara, suaranya tenang namun penuh otoritas. "Kalian semua tahu kenapa kita ada di sini malam ini. Polisi semakin ketat akhir-akhir ini. Dan kalian tau akibatnya. Operasi kita mulai terganggu. Oleh karena itu, uang yang kalian setorkan semakin tidak cukup untuk melindungi bisnis kita."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
ActionBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
