Gereja Santo Yoseph…
Hari itu, gereja megah di pusat kota dipenuhi tamu berkelas. Para pejabat, pengusaha, dan tokoh penting duduk rapi di bawah hiasan bunga mewah yang memenuhi setiap sudut ruangan. Sinar lilin memantul di lantai marmer, menciptakan suasana suci sekaligus megah.
Di depan altar, pendeta berjubah putih berdiri khidmat.
Pengantin pria, Baron Fernandes, tampak gagah dalam setelan hitam elegan. Ia menatap wanita di hadapannya dengan penuh keyakinan, lalu mulai mengucapkan janji sucinya.
“Saya, Baron Fernandes, menerima engkau sebagai istri saya yang sah… dalam suka dan duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin… Saya berjanji mencintai dan menghormati engkau sepanjang hidup saya. Demi Tuhan dan saksi-saksi ini, saya bersumpah setia sampai maut memisahkan.”
Tangannya bergetar saat ia menyarungkan cincin ke jari manis wanita itu.
Kini giliran sang mempelai. Tangan wanita itu sedikit gemetar saat ia mengangkat wajahnya, menarik napas pelan.
“Saya… menerima engkau, Baron Fernandes, sebagai suami saya yang sah…”
Suaranya lemah, namun berusaha tegas.
“Untuk hidup bersama dalam suka dan duka… sehat maupun sakit…”
Ia terhenti.
Tangan yang memegang cincin itu bergetar. Matanya berkaca-kaca—penuh keraguan.
“Saya… Saya…”
CKLIK!
Suara borgol memecahkan kesunyian.
Baron terkejut. Ia menunduk—kedua tangannya telah terikat.
“Apa-apaan ini?!”
Ia meronta, namun sia-sia.
Para tamu terperanjat. Bisik-bisik panik memenuhi ruangan.
“HEI! LEPASIN AKU!”
Wanita itu menatapnya, mata penuh rasa bersalah. Suaranya bergetar.
“Baron Fernandes… kamu ditahan atas dugaan keterlibatan dalam jaringan narkoba internasional.”
Baron membeku.
“Tunggu—apa?! Ini pasti salah! Sayang… ini aku! Kita mau menikah!”
Wanita itu menahan tangis.
“Maafkan aku… tapi kamu harus menebus semua dosamu.”
Beberapa polisi yang menyamar sebagai tamu mendekat, menggiring Baron dari altar. Ia berusaha melawan, tapi cengkeraman mereka terlalu kuat.
“Aku nggak bersalah! Kalian nggak bisa gini! Kamu—kamu calon istriku!”
Wanita itu menunduk, air mata jatuh tanpa suara.
Ia tak sanggup menatapnya.
Baron sempat menoleh.
Tatapan mereka bertemu—singkat, penuh luka—sebelum ia terseret pergi.
GONG! GONG! GONG!
Lonceng Gereja Santo Yoseph berdentang tiga kali, menandai doa Angelus.
Suara itu menggema, menjadi latar kesedihan yang merayapi seluruh ruangan.
Wanita itu jatuh berlutut di depan altar, menggenggam rosario sekuat mungkin.
“Tuhan… apakah aku salah…?”
Tangisnya pecah tanpa ia mampu menahannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
ActionBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
