Bab 13

71 3 0
                                        

Sore hari itu juga, Baron berangkat bersama Kim dan Gery menuju hotel di Jakarta. Baron duduk di belakang mobil, sementara Kim mengemudikan dengan tenang.

"Lo udah nyiapin semuanya kan, Ger?" tanya Baron sambil melirik arlojinya.

Gery menatap ke spion, "Sudah, Bos."

"Bagus. Kita harus ngasih yang terbaik buat dia."

"Kalau boleh tau, ada apa, Bos? Mengapa Bos terobsesi dengan dia?"

Baron melirik Gery, "Gua nggak terobsesi sama dia. Gua cuma jalankan rencananya."

"Apa rencananya?"

"Kita harus membuat Nona Seoyeon berpihak kepada kita, bukan ke Dimitry."

"Tapi, bukannya Prof. Carlos..."

"Prof. Carlos ngasih keputusan penuh ke Nona Seoyeon."

"Kalau Nona Seoyeon nggak berpihak ke kita apa yang akan terjadi, Bos?"

Baron menatap Gery, agak kesal. "Nona Seoyeon harus berpihak ke kita!"

Melihat tatapan Baron, Gery tidak berani bertanya lagi. Dia diam. Demikian Kim, tidak ikut campur, karena ia tau batasannya.

"Kim!" panggil Baron tiba-tiba.

"Ya, Bos?" Kim melirik ke spion.

"Terus lakukan penyelidikan itu!"

"Siap, Bos!" jawab Kim dengan dingin, dan suaranya yang berat. Ia paham maksud Baron. Misi yang selama ini masih ia jalankan. Mencari seseorang.

Tiba-tiba, ponsel Baron berdering.

Baron menerima, mendekatkan ponselnya.

"Ron... Hai! Kamu lagi dimana?" suara perempuan terdengar dari telepon. "Ada yang ingin aku ceritakan ke kamu. Apakah bisa?"

"Vi? Hai, ada apa? Kamu mau cerita apa?"

"Hm, aku ingin ceritanya nanti. Aku mau kita ketemu."

Baron tersenyum tipis, senang mendengar suara Vivian. "Vi? Kamu ingin bertemu?"

"Ya, apakah kamu sibuk? Kalau sibuk, aku..."

"Gak kok. Kita bisa ketemu. Hm..." Baron terjeda. "Bagaimana besok?"

"Besok? Aku bisa!"

"Bagus, besok kita bertemu, aku akan tentuin tempatnya."

"Eh, Ron, aku aja. Aku juga minta maaf ya, kalau nelpon tiba-tiba gini. Aku teringat soalnya."

"Ya, gak apa-apa, Vi. Aku tau, kamu memang begini orangnya. Baik, sampai ketemu besok, ya!"

"Oke, Ron. Maaf ya, kalau mengganggu, kamu lagi kerja ya?"

"Iya, ini lagi di perjalanan, tapi gak sibuk kok. Yasudah, dah!"

"Dah!" Telepon diakhiri.

***

Sesampainya di di hotel, Baron melihat Seoyeon dan pengawalnya menunggu di mobilnya yang mewah itu. Seoyeon tampak dengan mengenakan gaun hitam yang anggun. Pengawal setianya berdiri tegak di belakangnya, mengawasi setiap gerakan orang di sekeliling.

Baron keluar dari mobil, melangkah mendekat, disambut dengan senyum tipis dari wanita Filipina itu. "Kau datang tepat waktu," ucapnya lembut, namun ada sedikit sindiran dalam nadanya.

"Maaf, Nona, membuatmu menunggu seperti ini. Kalau boleh tau, ada apa, Nona? Apakah kesep-"

"Anda saya panggil ke sini bukan untuk membahas kesepakatan itu. Aku masih ingin menikmati atmosfer yang dimaksud Dimitry. Paham?"

Gairah MariyuanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang