Baron kaget, memegang bahu adiknya yang masih duduk di bangku SMP itu. "La? Kenapa kamu nangis?"
Viola mengusap air matanya dengan tangan kecilnya, matanya yang basah memandang Baron penuh duka. "Ayah... ayah pergi. Ayah ninggalin ibu lagi, kak. Ibu ngurung di kamar, nggak mau ngomong sama aku."
"Tapi kan ayah udah biasa pergi, La?" Baron menyeka air mata adiknya itu.
"Kali ini... kali ini ayah beda, kak. Ayah teriak... hikss... hiks..."
"Ayah teriak, apa, Sayang? Hei... shuu!" Baron memeluk Viola.
"Ayak teriak, ayah nggak akan pernah balik lagi ke rumah... hiks... hiks... Ayah bener-bener ninggalin kita, Kak!"
Baron terdiam, dadanya terasa sesak. Amarah dan kebencian muncul kepada ayahnya. Tangannya mengepal erat, ingin mencari ayahnya dan memberinya pelajaran. Namun tak ada yang bisa Baron lakukan.
Baron berjalan menuju pintu.
"Jangan kak!" sanggah Viola. Dia menarik tangan Baron. "Ibu nggak mau diganggu, kak."
Baron membuang napas kasarnya. Ia mengusap wajahnya, kesal. "Tapi Ibu nggak kenapa-napa kan?"
Viola mengangguk. "Ibu nggak kenapa-napa kak, tapi..."
"Tapi kenapa, La?"
"Tadi ada orang-orang pake baju hitam datang. Mereka bilang... bereka bilang kita harus keluar dari rumah, Kak, kalau utang ayah nggak dibayar dalam seminggu."
Baron mengerutkan kening, "Orang-orang pake baju hitam? Trus, Ibu gimana?"
Viola mengangguk lemah. "Ibu mohon-mohon, Kak. Mereka bilang ayah punya utang banyak, dan mereka bakal ambil rumah kita kalau nggak dibayar. Aku sama Ibu udah mohon-mohon, dan akhirnya mereka kasih kita waktu seminggu buat lunasin utangnya, Kak."
Baron memandang ke langit malam yang gelap. "Dmitry, anjing!" gumamnya. Ia kenal orang-orang itu. Baron juga tau selama ini ayahnya selalu meminjam uang kepada orang itu. Namun uang itu ia gunakan untuk bermain judi dan untuk perempuan simpanannya.
"Mereka siapa, Kak?" tanya Viola. "Aku takut mereka datang lagi."
"Nggak usah dipikirin, La. Mereka bukan siapa-siapa, kok. Tapi kamu jujur nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Nggak, Kak. Aku baik-baik aja. Ibu juga baik-baik aja. Tapi setelah mereka pergi, Ibu menangis dan pergi ke kamar dan..."
"Udah, masuklah, udah malam. Biar Kakak yang urus semuanya." Baron menghapus air mata adiknya. "Kamu tidur sana. Besok sekolah, kan?"
"Aku nggak sekolah, Kak."
Baron mengerutkan dahi. "Lho, kenapa?"
"Uang sekolah Viola belum dibayar sama ayah. Ibu guru udah minta terus ke aku."
Baron segera meraba sakunya dan mengambil beberapa lembar uang. "Nih, besok, Viola sekolah. Sisanya Viola tabung, ya!" ucap Baron sambil mengelus kepala adiknya.
Viola mengangguk. Dia memeluk kakaknya itu. "Makasih ya, Kak!"
"Iya, sama-sama. Rajin sekolahnya!" Dia mengelus rambut adiknya itu. "Sana, tidur! Kakak nggak bisa ketemu Ibu dulu. Jangan bilang kakak datang ya!"
Viola mengangguk. "Kakak mau kemana?"
Baron tersenyum, mengusap dagu adiknya itu. "Kakak mau cari uang yang banyak. Untuk Ibu, untuk kamu!"
"Tapi, Kak..."
"Udah, udah! Kakak pergi, jaga ibu baik-baik!Kakak baik-baik aja."
Baron melangkah pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gairah Mariyuana
AcciónBaron, anak jalanan dari Handom City, mengalami kerasnya hidup sejak kecil. Keluarga toxic, hidup dalam kemiskinan, dan Setelah lulus SMA tanpa arah dan mimpi, dia bersama tiga sahabatnya memilih jalan gelap-mereka masuk ke dunia malam, geng, dan bi...
