Bab 12

64 4 0
                                        

Sore itu, di ruang utama markas, Baron, Gery, dan Kim duduk di sekeliling meja, menikmati segelas minuman setelah pertemuan yang menegangkan di hotel. Baron tampak merenung, matanya menatap kosong ke arah gelasnya. "Apa yang sedang direncanakan Dimitry bajingan itu?" tanyanya memecah keheningan.

Gery menengok ke Baron. "Menurut gua, Dimitry mau nguasai pasar internasional. Dengan dia undang Bos, Nona Seoyeon, dan Jepang, dia mau bangun bisnis ini dengan dia sebagai penyokong dan pengamannya."

"Oh ya? Kenapa?" tanya Baron.

Gery menyunggingkan senyumnya, "Bajingan itu punya bisnis penerbangan. Dia punya pesawat, punya agen, banyak anak buahnya. Dengan dia berperan sebagai penyokong dan pengaman, dia menjadi jembatan impor dari Filipina ke Jepang dan Indonesia."

"Anjing!" ucap Baron, geram. "Ini nggak bisa dibiarkan!"

Baron berdiri, "Dia bakal memanfaatkan itu semua buat keuntungan dia. Dia itu licik!"

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Bos. Kali ini tidak sesuai dengan rencana," ucap Kim.

Baron berjalan dekat jendela kaca yang pemandangannya tembus ke suasana kota. Dia berpikir.

"Ponsel!" ucap Baron menengok ke Gery.

Gerry langsung beranjak dan menghampiri Baron, memberikan ponselnya.

Baron memasukkan nomornya. Telepon masuk.

"Prof, ini Baron."

"Baron... Ada apa? Kau sudah lihat kejutannya?"

"Prof, apa-apaan itu tadi? Mengapa Nona Seoyeon hadir ke Indonesia?"

"Hmm... Seoyeon? Putriku cuma liburan. Apa ada yang salah? Dia ingin menikmati masa mudanya. Dia sama mudanya denganmu."

"Prof, aku tau apa yang sedang direncanakan Dimitry. Ada apa dengan anda? Mengapa anda menyetujui sebuah kesepakatan itu?"

Prof Carlos diam beberapa detik. "Baron, asal kamu tau, kau beli, aku jual. Dan tidak akan ada yang berubah dari itu. Jadi, jangan khawatir tentang bisnis kita."

"Tapi anda tau Dimitry itu licik. Dia ingin menguasai pasar."

"Baron... Aku mengerti kegelisahanmu. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Pada intinya, hubunganku dengan Dimitry berbeda dengan hubunganku denganmu."

"Jadi, apa jawabannya?"

"Jawaban?"

"Jawaban dari kesepakatan itu."

"Oh... Hahahaha... Kesepakatan itu aku serahkan sepenuhnya kepada putriku tercinta. Dan aku, sebagai ayah, siap bertanggungjawab atas apa yang diputuskan oleh putriku."

Telepon diputus.

"Anjing!" ketus Baron. Dia hampir melempar ponsel itu. Tapi ia menahannya. Dia mengusap wajahnya.

Gery dan Kim hanya bisa diam dan minum minuman mereka sedari tadi.

***

Malam ini, Baron, Kim dan Gery makan malam bersama di base markas mereka. Ruang itu dipenuhi oleh pengawal, penjaga, staff dan anak buah mereka lainnya yang makan malam bersama.

Baron ke kamar mandi, mencuci tangannya dan bercermin di depan cermin wastafel. Ia menatap dirinya dalam-dalam.

Tiba-tiba, kilatan wajah Hanzo muncul di benaknya. Ia merasa ada sesuatu yang harus ia ungkap tentang orang itu.

Setelah selesai dari kamar mandi, Baron kembali ke meja makan.

"Kalian masih ingat bocah itu?"

Gery yang masih melahap makanannya menatap Baron, "Bocah? Bocah yang mana Bos?"

Gairah MariyuanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang