Bab 9

78 4 0
                                        

Osaka, Jepang...

Di Jepang, suasana tegang menyelimuti markas Yakuza. Di sebuah ruangan besar dengan dinding-dinding kayu tradisional, para anggota geng duduk di lantai sambil mendengarkan laporan dari seorang pengawal. Pemimpin Yakuza, seorang pria dengan tubuh besar yang penuh tato, sedang bersimedi di sudut ruangan, matanya terpejam, menenangkan pikirannya.

Namun, ketenangan itu segera pecah ketika pengawal tersebut menyampaikan kabar.

"Tuan, saya datang membawa berita."

Pemimpin Yakuza itu hanya mengangguk, menandakan ia membersihkan anak buahnya itu menyampaikan berita tersebut.

"Bisnis narkoba dari Filipina telah terputus, Tuan," kata pengawal itu dengan hati-hati. "Mereka memutus hubungan dengan pihak kedutaan kita di Filipina."

Pemimpin Yakuza membuka matanya dengan cepat, tatapannya tajam. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia meraih gelas minum dari pelayannya dan melemparnya ke lantai dengan kemarahan yang tak terkendali. Suara pecahan kaca memenuhi ruangan, membuat semua orang di sana menunduk, takut akan amarahnya.

"Mengapa bajingan Filipina itu tidak lagi memihak padaku?" suaranya rendah tapi penuh ancaman.

Pengawal itu menunduk lebih dalam, suaranya gemetar saat ia menjawab, "Ada sebuah geng baru di Indonesia, Tuan. Mereka menawarkan harga yang lebih tinggi dari penawaran Tuan. Dan mereka memiliki hubungan dengan Filipina."

"Geng Indonesia? Dirgantara? Bukankah kita berbisnis juga dengan mereka?"

"Ya, Tuan. Dirgantara tetap menjadi rekan bisnis kita. Tetapi geng ini berbeda. Mereka baru saja menguasai pasar. Dan mereka lah yang menjadi costumer VIP produksi Filipina. Dan geng ini diduga menjadi satu-satunya customer utama pihak Filipina."

"Bajingan! Apakah Dirgantara tau mengenai geng ini? Apakah bisnis Indonesia dengan kita terputus juga?"

"Tidak, Tuan. Dirgantara tetap setia menerima 25kg setiap kesepakatan dan tak lebih dari itu."

"Dan nilainya?"

"Nilainya tetap, Tuan, 1kg harganya 100.000 dolar atau setara 14.800.000 yen."

"Kurang ajar! Kalau ini dibiarkan, geng baru itu akan menghancurkan kita. Dirgantara juga tidak akan setia padaku lagi." Ia berdiri, diikuti anak buah lainnya. "Siapa bajingan itu?"

"Dia bernama Baron, Baron Fernandes, pimpinan geng Tetra Handom, Tuan. Menurut mata-mata kita, ia menjual produk bernama SERBUK HANDOM, dan diduga dia adalah keponakan dari salah satu mafia Rusia, Tuan Dimitry."

"Dimitry?" Wajah sang pemimpin Yakuza memerah karena marah. Ia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya. Tanpa basa-basi anak buahnya itu segera memberikan sebuah ponsel padanya. Pimpinan Yakuza bernama Yada itu menekan nomor seseorang. Setelah diterima, ia berbicara dalam bahasa Jepang dengan nada tegas dan dingin.

Di seberang telepon, seorang mata-mata yang paling ia percaya mendengarkan dengan saksama. Setelah percakapan singkat dan perintah diberikan, sang pemimpin Yakuza mengakhiri panggilan dengan senyum licik di wajahnya. Ia berbalik ke arah anak buahnya, tatapannya penuh rencana jahat.

“Kita akan menunjukkan kepada mereka siapa yang menguasai bisnis ini,” ucapnya dengan suara rendah, tapi penuh ancaman mematikan. "Filipina, Rusia ataupun Indonesia, tak ada yang mampu menghalau jalannya seorang Yakuza dari Jepang."

***

Di sore yang cerah, Baron dan Vivian berjalan beriringan di taman kota, menikmati angin sepoi-sepoi. Keduanya tampak akrab, sesekali tertawa dan bercanda.

"Vi, kita ke bangku itu, yuk!"

Vivian mengangguk.

Saat duduk berdua, posisi mereka terlihat jarang. "Vi, awas ada ulat bulu!"

Gairah MariyuanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang