Tiga hari sudah berlalu.
Tiga hari jasad Nusyirah terbaring kaku di atas katil putih itu, hanya bergerak sedikit ketika doktor memeriksa reaksi refleks atau jururawat menukar posisi badannya. Mesin-mesin di sekelilingnya berbunyi berterusan, menandakan dia masih bernafas walaupun bukan dengan kudratnya sendiri.
Namun, di sebalik kaku tubuhnya, jiwanya sedang berjalan jauh.
Dalam ruang putih yang luas dan sunyi, Nusyirah berdiri. Rambutnya yang panjang melayang perlahan, wajahnya bersih tanpa luka. Dia terpinga-pinga melihat sekeliling.
"Tempat apa ni...?"
Lalu, dari kabus tipis, muncul dua bayangan yang amat dirindui. Wajah yang sama seperti dalam ingatannya. Lembut. Tenang. Damai.
"Ummi... Abi..."
Dia segera berlari mendapatkan mereka, air matanya laju mengalir.
"Sayang..." bisik Ummi sambil memeluk tubuh anak gadisnya erat. Abi memegang bahu Nusyirah, menahan tangis.
"Ummi... Abi... Syirah rindu Ummi Abi... ambil Nusyirah bawa balik ya... Nusyirah dah penat... Nusyirah tak larat lagi..."
Abi menggeleng perlahan, suaranya lembut tapi tegas. "Sayang belum selesai ujian. Allah belum izinkan."
Nusyirah menggeleng. "Tapi kenapa Allah biarkan Nusyirah sakit? Kenapa Dia tak lindungi Nusyirah dari Fatteh? Ummi... Abi... dia hina Nusyirah. Dia herdik, dia tendang Nusyirah macam takde nilai... kenapa Allah izinkan?"
Ummi menyapu air mata di pipi anak gadisnya. "Sayang... ujian tu bukan hanya untuk kamu. Tapi untuk dia juga. Fatteh itu... sedang sakit. Dia bukan sihat, bukan waras seperti yang kamu sangka."
"Tapi Ummi, dia tak pernah minta maaf betul-betul..."
Abi menyambung, suaranya dalam. "Anak-anak yang Allah sayang, akan diuji berkali-kali... hingga hati mereka kembali pada Dia. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, Allah kata: 'Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya...'"
"Tapi Nusyirah dah tak kuat... hati Syirah sakit setiap kali dia hina setiap kali dia kata Syirah anak yatim yang tak layak disayang Syirah penat Ummi Abi Syirah rasa sakit"
Ummi memeluknya lagi. "Allah tahu sayang lemah. Sebab itu Dia temukan kamu dengan lelaki yang lebih lemah, supaya kamu tahu siapa sebenarnya yang lebih memerlukan bantuan."
Di dunia nyata, Fatteh duduk di sisi katil Nusyirah. Wajahnya cengkung, matanya merah. Air mata mengalir tanpa henti. Di tangannya, sehelai mushaf kecil yang terlipat pada Surah Yasin. Tangannya menggigil.
Dia buka perlahan, lalu mula membaca. Suaranya perlahan, tersekat-sekat. Tajwidnya lintang-pukang. Tapi setiap ayat diucapkan dengan hati.
"Yaa... siin... Wal Qur'anil hakiim..."
Bibirnya getar. "Maaf... aku tak pandai baca... aku tak hafal... tapi aku cuba... untuk kau, Syirah..."
Dia berhenti. Menunduk. Air matanya menitik atas mushaf.
"Aku tak tahu kenapa aku jadi macam tu. Aku tak tahu kenapa aku jadi kejam... aku... aku bukan macam ayah. Tapi bila aku marah, aku lupa. Aku lupa siapa aku. Aku lupa kau isteri aku..."
Pintu ICU terbuka perlahan. Puan Arafah berdiri, memandang dari jauh.
"Fatteh... kau buat apa kat sini? Aku dah cakap, jangan datang lagi."
Fatteh berpaling. "Saya... saya baca Yasin untuk dia."
"Kau tak layak jaga dia, Fatteh. Dia masuk hospital sebab kau. Dia koma sebab kau."
ANDA SEDANG MEMBACA
𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚 𝐁𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚
RomanceDari luar, kehidupan Nusyirah kelihatan sempurna rumah mewah, suami yang berjaya, dan status yang dihormati. Tetapi di sebalik dinding rumah agam itu, tersembunyi kebenaran yang tidak pernah dia tunjukkan kepada dunia. Fatteh, lelaki yang pernah ber...
