PT 12

2.1K 86 16
                                        

Keesokan harinya.

Yuta justru terkejut dengan apa yang terjadi antaranya dan doyoung.

Dia paham, dia melakukan dalam keadaan sadar. Dia sangat menyesal dengan apa yang terjadi dan sangat merasa bersalah pada istrinya. Bagaimana bisa dia tergoda dan malah menikmati semuanya. Bagaimana jika istri dan anaknya tau soal ini.

Yuta bangun lebih dulu, dia mandi dan bersih-bersih duluan. Setelah itu dia meninggalkan doyoung yang masih tertidur pulas.

Yuta berniat untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, baru balik ke kantor. Dia tau winwin pasti khawatir dengan keadaannya, karena saat ia melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari winwin.

Begitu sampai di rumah, benar saja. Winwin sudah menunggunya di depan pintu.

" Kakak habis dari mana, kenapa aku telpon ga bisa?"

" Maaf sayang, semalam kakak ketiduran di kantor."

" Itu wajah kakak kenapa, kenapa memar begitu? Kakak bohong ya"

" Maaf sayang, ini hanya luka kecil. Kamu ga usah khawatir."

" Tapi itu kenapa kak, kakak berantem sama orang?"

" Engga kok sayang, kemaren kakak ga sengaja nyenggol orang, eh malah orangnya nonjok kakak."

" Kakak gapapa? Ada yang sakit ga?"

" Ga ada sayang, cuma memar ini doang."

" Terus orangnya gimana kak?"

" Orangnya ga papa, mungkin karena emosi aja dan kita udah selesai kan baik-baik."

" Ayo masuk kak, aku bantu obatin ya."

Yuta pun membantu menuntun kursi roda winwin untuk menuju ke kamar mereka. Begitu sampai di kamar, yuta langsung mandi dan setelahnya winwin langsung mengobati luka di wajah yuta.

" Sakit ga kak?" Tanya winwin

Yuta menggeleng dan menatap dalam wajah teduh winwin. Dia semakin merasa bersalah kepada istrinya. Bagaimana dia bisa mengkhianati istrinya yang begitu baik ini. Bagaimana ia bisa berbuat seperti semalam, hanya karena nafsu saja. Bagaimana jika winwin tau semuanya, apa winwin akan meninggalkan nya. Melihat kondisi lemah winwin saja dia sudah takut akan di tinggalkan winwin, apalagi jika winwin benar-benar meninggalkannya. Tiba-tiba air matanya langsung menetes dan itu tak luput dari pandangan winwin.

" Kakak nangis?"

" Tidak sayang."

" Kakak bohong, kakak nangis kenapa?"

" Kakak tidak apa-apa, kakak cuma mau ngomong. Jangan tinggalin kakak ya. Kamu dan Nana adalah hidupnya kakak, tetap di samping kakak dan jangan tinggalkan kakak, apapun keadaanya nanti."

" Kakak kenapa sih, ada apa dengan kakak?" Ucap winwin sambil mengusap air mata yuta.

Yuta hanya menggeleng dan memeluk istrinya sambil terisak dan meminta maaf.

" Kakak kenapa minta maaf, kakak punya salah apa."

" Apapun kesalahan kakak selama ini, maafin kakak sayang. Tolong tetap di samping kakak, jangan tinggalin kakak. Janji sama kakak, kalau kamu bakal sembuh."

" Kak, aku kan udah janji. Bakal sembuh demi kakak dan Nana. Kakak dan Nana juga alasan aku bertahan sampai saat ini. Justru aku yang minta maaf sama kakak, maaf aku ngerepotin kakak. Maaf aku yang belum sempurna jadi istri buat kakak."

" Jangan ngomong kaya gitu sayang. Kamu sudah jadi pasangan yang baik selama ini. Kamu sudah banyak berjasa dalam hidup kakak."

Setelah cukup lama winwin menenangkan suaminya. Akhirnya mereka duduk bersantai di dalam kamar. Niat awal yuta kembali ke kantor pun batal.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang