PT 15

2.4K 129 18
                                        

Sesuai dengan perjanjian mereka waktu itu, setelah winwin keluar dari rumah sakit. Mereka benar-benar mempersiapkan pernikahan Jeno dan jaemin.

Pernikahan keduanya di buat privat karena mengingat usia jaemin yang terlalu muda dan kondisi winwin yang tidak bisa terlalu kelelahan. Jadi pernikahan itu hanya di hadiri oleh keluarga terdekat.

Mengenai berita pernikahan mereka, tentu saja itu membuat terkejut orang-orang sekitarnya. Baik itu haechan dan hyunjin sebagai sahabat jaemin, mereka benar-benar tidak menyangka jika Jeno lah yang menjadi calon suami jaemin, apalagi hyunjin dia tidak terima jika jaemin menikah dengan Jeno. Padahal jelas-jelas dia yang terang-terangan menyukai jaemin, malah jaemin jatuh ke pelukan bodyguard nya yang seram itu. Belum lagi pekerja di rumah itu yang shock saat tau Jeno akan menikahi jaemin, benar-benar tidak bisa di percaya, seorang sopir menikah dengan majikannya. Seperti cerita yang ada di dunia fiksi.

Saat ini, Jeno dan jaemin sedang keluar untuk mengambil pakaian yang akan mereka kenakan nanti di butik milik winwin.

Semenjak perjodohan ini, jujur saja itu membuat hubungan mereka sedikit canggung.

" Na, om mau bicara sesuatu. Boleh tidak?" Tanya Jeno.

" Boleh om."

" Nana yakin, mau nikah sama om. Padahal Nana bisa loh nolak kemauan bunda. Kalau om, jujur saja ga enak sama bunda kamu. Bunda kamu sudah terlalu banyak berjasa dalam hidup om."

" Nana yakin om, Nana ga mau kecewa in bunda. Nana takut, gimana kalau itu memang keinginan terakhir bunda. Cuma ini yang bisa Nana lakukan, untuk membahagiakan bunda, sebelum bunda pergi. Nana percaya kalau om orang baik, ga mungkin bunda kasih Nana pilihan yang salah."

" Terima kasih sudah percaya sama om, kedepannya kamu ga usah takut. Om ga bakal ngasih kamu larangan yang aneh-aneh. Kamu bisa lanjutin pendidikan kamu dan jika kamu terpaksa dengan semua ini, nanti setelah menikah kita bisa tidur terpisah. Om ga masalah jika harus tidur di tempat lain. Dan untuk biaya hidup kamu kedepannya, kamu ga masalah kan, jika kamu harus terima uang dari om saja. setelah menikah, kamu akan jadi tanggung jawab om, jadi om ga mau kita bergantung sama ayah kamu. Om harap, penghasilan om dari butik bunda nanti, mampu untuk mencukupi kehidupan kamu."

" Om tenang aja, Nana kan ga boros orang nya. Yang penting ada jatah Nana buat beli kopi kesukaan Nana dan juga kalau ayah ngasih Nana uang, Nana ga bakal nolak." Ucap jaemin sedikit bergurau, dia ingin sedikit mencairkan suasana.

" Kopi lagi kopi lagi." Lirih Jeno

Jaemin hanya tertawa menanggapi respon Jeno yang sudah pasrah kalau jaemin membahas kopi.

" Om, habis ini kita makan dulu ya. Nana males makan di rumah, Nana lagi pengen makan pizza. Boleh ya om." Pinta jaemin pada Jeno, tentu saja Jeno meng iya kan permintaan calon istri nya itu, kapan lagi dia bisa membahagiakan calonnya. Selagi bukan kopi. Jika jaemin meminta kopi, tentu Jeno akan menolaknya.

Begitu sampai di restoran yang mereka tuju, jaemin langsung memesan satu loyang besar pizza yang ia suka. Melihat hal itu, tentu Jeno tidak terkejut. Dia sudah tau kebiasaan jaemin yang suka kalap mata.

" Habisin ya." Ucap Jeno

" Tenang om, Nana bakal habisin nya. Tapi kalau ga habis, kan ada om yang bantuin."

" Gitu Mulu alasan nya."

" Ayo dong om, makan bareng. Nana mesen banyak karena kita kan makannya berdua."

" Kamu kan tau, om kurang suka sama makanan modern kaya gini."

" Biasa in dong om, kan kita mau nikah. Om bakal sering makan-makanan yang Nana suka nantinya." Ucap jaemin dengan mulut yang sudah penuh terisi pizza.

Jeno mengusap sudut bibir jaemin yang terkena saos dengan ibu jarinya. Kemudian dia menjilat ibu jarinya yang habis terkena sisa saos dari mulut jaemin.

" Selalu kaya gitu, udah gede tapi makan nya berantakan."

" Om, biasanya pake tissue. Kok malah pake jari dan dicicipi lagi. Om ga jijik apa?" Balas jaemin

" Kenapa?, kan sisa mulut calon istri om sendiri, ngapain jijik." Ucap Jeno santai. Tentu saja itu membuat wajah jaemin bersemu malu. Bisa-bisanya Jeno menggodanya seperti itu.

Hal itu membuat mereka kembali canggung lagi dan berakhir diam sampai selesai makan. Diam-diam Jeno memperhatikan jaemin, dia sangat senang melihat jaemin makan dengan lahap seperti ini. Untung saja dia akan bekerja di butik winwin. Jika tidak, apa dia sanggup membiayai istrinya. Jika dia suka melihat jaemin makan dengan lahap, berarti dia juga harus siap dengan uang yang banyak untuk membelikan makanan-makanan kesukaan jaemin, tentunya harganya pasti fantastis.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang