PT 24

2.9K 167 29
                                        

Yuta baru saja sampai di pemakaman winwin. Dengan langkah gontai dan penampilan yang kusut, dia jalan menyusuri pemakaman itu hingga sampai di depan makam sang istri. Yuta langsung jatuh duduk bersujud di depan makam istrinya itu. Semua penyesalan dan rasa bersalahnya semakin besar, hingga membuat tangisnya pecah dan meraung dengan sekuat hatinya. Begitu sesak dadanya saat menatap makam itu. Begitu perih hatinya saat membayangkan perasaan istrinya di penghujung usianya.

" Sayang. Kamu apa kabar?" Ucap yuta sambil mengelus nisan milik sang istri.

" Pasti disana udah bahagia ya, udah ga sakit lagi, udah ga capek lagi."

" Maafin kakak ya, maaf kakak sudah menambah rasa sakit dan luka di hari-hari terakhir kamu. Bukannya mendapat kenangan yang indah, kamu justru di beri kenangan yang buruk di hari-hari terakhir mu. Win, kakak minta maaf. Maafin kakak yang ga bisa jadi pasangan yang sempurna buat kamu. Maaf selama ini, cuma kamu yang banyak berjuang dan berkorban dalam hubungan kita. Maafin kakak yang ga tau diri ini, sayang."

" Harusnya hari itu kakak ga peduli sama dia, harusnya waktu tau dia yang bakal bekerja sama kita, kakak jujur sama kamu dan menolak dia saat itu juga. Andai saat itu kita lakukan itu, pasti semua ini ga bakal terjadi."

" Maafin kakak sayang, karena nafsu semata, Kakak sampai melukai kamu dan membuat kamu kecewa. Kakak terima jika kamu lebih percaya menitipkan anak kita pada orang lain dibandingkan kakak. Tapi izinkan kakak untuk tetap menjaga Nana dan lindungi dia. Sayang, kakak janji. Kamu yang terakhir jadi pasangan kakak. Akan kakak akhiri semua ini, sebelum semua terlambat. Kakak ga ingin anak kita tau dan berakhir mengecewakan dia. Maaf jika waktu itu kakak ga bisa menghentikan semuanya, kakak takut sama ancaman dia. Kakak takut kalau kamu tau dan itu akan memperburuk keadaan kamu. Jika kakak tau, kalau kamu sudah mengetahuinya. Kakak sudah mengakhiri semuanya saat itu dan mengusir orang itu saat itu juga. Maaf sayang, ini bukan soal masalalu dan soal kamu yang ga bisa melayani kakak. Kakak saja yang bodoh, yang ga bisa mengontrol nafsu kakak."

" Kamu istirahat yang tenang disana ya, Nana pasti bakal baik-baik saja disini. Tunggu kakak disana ya, sayang."

Yuta mengucap semuanya dengan terbata-bata dan isakan tangis. Setelah hatinya cukup lega, dia memilih untuk pulang dan beristirahat. Karena tidak mungkin dia kembali ke kantor dalam keadaan kacau seperti sekarang ini.

Begitu sampai dirumah, yuta berpapasan dengan haechan dan jaemin. Sebelum masuk ke kamarnya, yuta berpamitan terlebih dahulu dengan haechan dan jaemin.

" Mau pulang, ya?" Tanya yuta

" Iya yah, haechan pamit ya." Ucapnya, karena sopirnya sudah menunggu di depan gerbang kediaman Nakamoto.

" Hati-hati, terima kasih sudah menemani Nana."

" Sama-sama yah."

Setelah kepergian haechan, tersisa jaemin dan juga yuta. Mereka berdampingan masuk ke dalam rumah.

" Ayah darimana?"

" Makam bunda "

" Kok ga ajak Nana?"

" Ayah lagi pengen sendiri, kamu kan bisa ajak Jeno kalau mau."

" Kapan-kapan ajak Nana dong yah, Nana juga pengen pergi berdua ayah aja. Nana kangen waktu kita ngobrol bertiga."

" Nanti ya, kalau ayah kesana, bakal ayah ajak kamu."

" Yaudah, ayah istirahat aja. Wajah ayah capek banget kayanya."

" Jeno udah pulang?"

" Belum yah."

" Kalau gitu ayah ke kamar ya, kamu juga ke kamar aja. Ngapain disini sendirian."

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang