PT 30

2.8K 135 6
                                        

Jaemin datang menghampiri Jeno ke kamarnya, dia dapat malihat Jeno yang duduk di ujung tempat tidur.

Jaemin duduk di sebelah Jeno dan mengusap pundak Jeno.

" Mas Jen, maafin Nana ya. Maaf kalau Nana ga sengaja nguping pembicaraan mas Jen dengan Abang."

" Nana boleh ga, ngasih masukan buat mas Jeno?" Tanya jaemin lembut dan tangannya beralih menggenggam tangan Jeno.

Jeno menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

" Nana tau, mas Jen pasti kecewa banget sama Abang. Tapi, kita ga tau gimana sulitnya posisi Abang waktu itu mas. Keadaan yang mendesak dia harus menerima pernikahan itu mas. Dia ga punya pilihan lain, datang atau gaknya kita, pernikahan itu akan tetap di langsungkan karena itu sanksi sosial buat mereka."

" Tapi, dia bisa ngasih tau mas soal kehamilan wanita itu. Kita bisa cari cara lain dan ga harus ikuti kemauan dia." Bantah jeno

" Mas, mungkin Abang punya pertimbangan lain. Bisa saja, dia ga enak membebani mas yang saat itu sibuk bekerja di kota. Menurut dia, kesepakatan yang wanita itu berikan, cukup menjanjikan untuk nya. Makanya dia ambil jalan itu, dia ga bakal berpikir kalau malah berakhir kaya gini mas."

" Kamu ga tau na, gimana sulitnya hidup kami disini. Sebelum ibu di ajak kerja bersama keluarga bunda kamu, disini kami dikucilkan. Ga ada satupun yang mau berteman dengan kami. Bahkan, keluarga bapak pun membuang kami dan ga peduli sama sekali dengan kami. Saat ibu harus ikut bekerja dengan bunda, sebenarnya ibu ga tega buat ninggalin kami berdua disini, ibu tau persis bagaimana kami akan kesulitan disini. Tapi, karena kondisi keuangan keluarga dan biaya hidup yang meningkat, ibu terpaksa meninggalkan kami. Kamu ga tau, gimana kami bertahan hidup agar tidak terjerat kenakalan remaja saat itu di tengah keadaan kami berdua yang harus bertahan hidup di lingkungan seperti ini. Kami cuma mau buktikan ke orang-orang kalau kami bisa angkat derajat orang tua kami kembali. Meskipun kami tetap tidak di pandang baik dari segi prestasi yang kami dapat. Tapi kami tidak pantang menyerah. Bahkan, waktu bapak ga ada, mas rela kubur cita-cita mas. Mas gantiin bapak bekerja asal Abang tetap lanjut kuliah. Karena mas yakin, Abang bisa mengubah semuanya. Sampai akhirnya bunda kamu yang bantu kita, mas senang banget waktu itu karena mas dan Abang bisa sama-sama kuliah dan bisa wujudkan cita-cita kami berdua. Tapi, sekarang semua makin hancur. Semua pengorbanan mas, rusak karena kecerobohan Abang."

Jaemin kaget, ternyata hidup Jeno sangat rumit. Kesalahan fatal apa yang mertuanya lakukan sampai mereka terasingkan di kampungnya sendiri.

" Mas, Nana yakin. Abang juga menyesal melakukan semua itu. Tapi, kita juga harus menempatkan diri sebagai Abang. Kita ga tau, gimana kondisi mental dia saat ini. Dia pasti hancur mas, cita-citanya kandas karena kejadian ini. Harusnya kita jangan menyalahkan dia atas sesuatu yang bukan dia lakukan. Abang itu butuh dukungan dari kita mas. Siapa lagi yang bakal mendukung dia kalau bukan kita. Saat semua orang menyudutkan dia, dia tetap memilih bertahan sampai sekarang. Kita jangan nambahin beban mental Abang, kasian dia. Jangan sampai dia depresi atau bahkan bunuh diri karena merasa sendiri dan ga sanggup menghadapi masalah hidupnya."

" Abang itu saudara mas satu-satunya yang tersisa. Bagaimana kalau kita balik, gimana kalau kondisi buruk terjadi pada mas. Apa mas sanggup, tidak di pedulikan sama saudara mas?"

" Mas, hidup tanpa saudara itu ga enak mas. Contohnya Nana, kalau ayah juga nanti pergi tinggalin Nana. Nana udah ga punya siapa-siapa lagi. Mas masih beruntung punya saudara, masih ada tempat pulang dan tempat untuk saling berbagi cerita. Harusnya mas itu saling dukung, kasian Abang. Dia ga salah, tapi harus menerima resiko seberat ini sendirian. Disini lah peran mas sebagai saudaranya di butuhkan."

" Sekarang, mas tenangin dulu diri mas. Habis itu, bicara baik-baik lagi sama Abang, ya!,"

Setelah berbicara dengan Jeno. Jaemin pergi keluar kamar dan membiarkan Jeno menenangkan dirinya.

Saat sampai di luar, jaemin melihat Mark yang tengah bermain dengan anaknya itu. Kemudian jaemin pun menghampiri mereka

" Jadi, namanya chenle ya bang?" Tanya jaemin dan itu mengagetkan Mark.

" Iya na, namanya chenle."

" Cantik banget anaknya, Abang yang urus sendirian ya?"

" Ga kok na, biasanya Abang bayar Orang buat jagain dia selama Abang ke kebun."

" Jadi, sekarang Abang kerjanya ke kebun ya?"

" Iya na, maaf ya. Pasti kamu kecewa, bunda kamu sudah susah payah sekolahin Abang. Taunya Abang malah kaya gini."

" Gapapa kok bang, nanti Abang bisa cari kerjaan lagi di tempat lain. Jangan ngomong gitu, Abang hebat tau. Dengan berbesar hati mau menerima chenle dan ikhlas menjalani resikonya. Pasti suatu hari, Abang bakal dapat balasan yang setimpal. Abang semangat ya, jangan dengerin omongan orang lain. Fokus aja sama diri Abang dan chenle."

" Terima kasih na. Abang senang di pertemukan dengan keluarga kamu. Ternyata sifat kamu sebaik bunda kamu."

" Jangan gitu bang, nanti Nana jadi sombong kalau keseringan di puji." Balasnya dengan sedikit candaan

Mark tertawa mendengar ucapan jaemin, begitupun chenle, meskipun tidak paham, tapi dia ikut tertawa saat melihat ayahnya dan jaemin yang sedang tertawa.

" Tadi, kamu ngobrol sama siapa, na?"

" Oh, itu. Katanya saudara Abang. Yang rumahnya gede di ujung sana."

Mendengar ucapan jaemin, Mark menghela nafas. Si biang kerok, pasti udah ngomong yang aneh-aneh ke jaemin.

" Dia ga ngomong macam-macam ke Nana kan?"

" Ga sih bang, cuma ngehina aja."

" Ngehina gimana?"

" Dia mikirnya, Nana nikah sama mas Jeno gara-gara Nana hamil duluan. Terus bilang, kalau Nana itu sama-sama anak art kaya mas Jeno."

" Maafin dia ya na, mulutnya Emang begitu."

" Gapapa bang, lagian ngapain Abang yang minta maaf. Orang dia yang ngehina Nana. Tapi, dia sama suaminya memang cocok loh bang. Mulutnya sama-sama minta di lindas. Belum tau aja dia, siapa Nana. Itu rumah bisa Nana bikin rata, kalau Nana mau."

" Maafin ya na, gimanapun mereka itu tetap keluarga kami. Abang jadi ga enak sama kamu."

" Abang ga curiga apa, jangan-jangan mereka yang udah menyebar fitnah soal Abang. Di lihat dari kelakuannya sih, Nana yakin kalau mereka yang udah fitnah Abang."

" Abang juga sempat mikir kaya gitu, tapi Abang ga punya bukti dan ga mau asal tuduh orang na."

" Kenapa sih bang, mereka kayanya ga suka banget sama keluarga Abang."

" Sebenarnya kita juga ga bisa salahin mereka, memang di masa lalu, bapak dan ibu pernah bikin keluarga malu. Makanya sampai sekarang, mereka itu ga suka sama kami dan udah ga anggap kami bagian dari keluarga itu."

" Padahal kejadiannya udah lama loh, kenapa ga saling memaafkan aja."

" Mau gimana lagi na, setiap orang punya sifat yang berbeda-beda. Jadi kita ga bisa maksain pola pikir orang itu untuk sama."

Jaemin dan Mark terus mengobrol sambil sesekali mengajak chenle main dan tidak terasa mereka mengobrol sampai malam dan berakhir karena chenle yang merengek karena mengantuk.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang