PT 35

2.9K 155 17
                                        

Saat sampai di rumah, jaemin langsung masuk ke kamar dan menghempaskan pintu kamar. Tentu saja itu membuat chenle kaget dan menangis kencang. Hal itu Jeno merasa tidak enak dengan abangnya.

" Bang, maaf bang.", ucapnya dan lari menyusul jaemin ke dalam kamar.

Mark benar-benar tidak habis pikir dengan sikap mereka. Semalam keduanya berdebat cukup sengit dan berakhir mendesah. Sekarang apalagi ini.

Apa setelah ketantruman jaemin akan berakhir dengan desahan di ranjang juga. Jangan sampai telinga Mark ternodai. Jujur saja, semalam dia tidak bisa tidur sama sekali karena tangisan chenle dan desahan jaemin yang cukup kencang.

Jeno membuka pintu kamar, di dalam sana terlihat jaemin yang sedang menangis. Ya, jika emosinya tidak lepas, anak ini akan menangis untuk melepaskan rasa emosinya.

" Mas ngapain kesini." Ucapnya dengan suara serak.

" Ini kamar mas, kenapa mas ga boleh masuk."

" Ngapain mas larang-larang Nana buat lawan dia tadi. Kenapa mas diam aja waktu bunda Nana di rendahkan dia. Apa emang benar, mas sama bunda ada hubungan?"

" Kamu percaya sama hal kaya gitu, kamu bisa punya pikiran serendah itu tentang bunda kamu."

" Nana kesal, mas diam aja di gituin. Apa karena dia saudara mas, dia bebas rendahin Nana kaya gitu?" Ucap jaemin lantang.

" Sayang, ga gitu maksud mas. Mas udah hafal kelakuan dia, percuma di lawan. Dia ga bakal berhenti dan bakal makin parah kelakuannya kalau di ladeni."

" Ga usah panggil-panggil Nana sayang. Nana ga peduli dia itu saudara mas atau bukan. Awas saja kalau ketemu Nana lagi, habis dia sama Nana."

" Mas jadi laki-laki lembek ternyata. Di rendahin kaya gitu diam aja. Istri sama mertua sendiri di rendahin kaya gitu malah diam aja." Lanjutnya

Setelah itu, jaemin langsung merebahkan dirinya dan membelakangi Jeno.

Jeno membuang nafas kasar dan memilih keluar kamar. Percuma membujuk jaemin sekarang, yang ada dia makin marah.

Saat di luar, Jeno bertemu Mark yang sedang main dengan anaknya. Jeno duduk menghampiri mereka.

" Gimana Jen, masih marah?"

" Iya bang, dia marah karena ga Jeno bela in. Abang tau aja si hyunjae itu gimana, dia mulutnya bakal semakin menjadi kalau di lawan. Tapi Nana malah salah paham."

" Ya wajar lah Jen, dia ga kenal hyunjae. Apalagi yang di hina dia dan keluarganya. Wajar dia ngamuk kaya gitu. Tapi serem juga ngamuknya. Ini ga berakhir teriak di ranjang lagi Jen?"

" Apaan bang, ngomong-ngomong ranjang."

Yang namanya saudara, mau bertengkar bagaimanapun. Pasti akan baikan dengan sendirinya. Lihat mereka, tanpa sadar justru mereka jadi ngobrol biasa lagi.

" Abang dengar loh semalam. Teriakan Nana ga kalah kenceng sama teriakan chenle. Enak ga Jen?" Ucap Mark meledek sang adik. Bagaimana pun dia tau kalau Jeno tidak pernah pacaran selama ini.

" Ga usah bahas itu bang, ntar Lo juga kepengen."

" Ketagihan, hati-hati Lo Jen. Gini-gini Abang juga pernah nyoba."

" Bang?" Tanya Jeno kaget.

" Orang udah nikah, hidup berdua. Ga mungkin ga pernah Jen, apalagi hidup sama orang hamil, hasratnya lebih gede loh. Makanya cobain, bikin Nana hamil. Nanti lo sendiri yang bakal kewalahan."

" Lo manfaatin keadaan bang."

" Jen, kita udah nikah. dia yang minta dan tanpa paksaan. Itu ga salah. Jangan marah lagi Lo."

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang