PT 47

2.8K 157 12
                                        

Kandungan jaemin saat ini sudah berusia 6 bulan. Jeno sangat bersyukur atas keputusan mereka pada saat itu, mengingat betapa beratnya cobaan jaemin di saat awal-awal kehamilannya, untung saja tuhan masih melindungi jaemin dan anak mereka.

Namun, ada sikap jaemin yang membuat Jeno kewalahan saat ini. Mungkin ini efek dari kondisi jaemin yang di awal kehamilan terlalu banyak pikiran dan tidak fokus dengan kehamilannya. Sekarang, tingkah istrinya ini jauh lebih manja.

Dia berharap, semoga jaemin dan anak mereka bisa sehat sampai nanti saat jaemin melahirkan.

Udara yang sejuk dan suasana yang tenang, membuat jaemin masih betah tidur di dalam dekapan suaminya. Sejak 30 menit yang lalu, Jeno susah lebih dulu bangun dan membiarkan istrinya itu tetap tidur di dalam dekapannya. Tidur jaemin mulai tidak nyenyak akhir-akhir ini karena perutnya yang sudah mulai membesar. Jadi Jeno merasa kasihan dengan istrinya dan membiarkan jaemin untuk tidur puas selagi tidurnya nyenyak.

Dia teringat kejadian lima bulan yang lalu, dimana terjadi keadaan yang membuat dia takut waktu di rumah mertuanya.

*Flashback

Setelah adegan Jeno yang habis meminta jatah kepada jaemin waktu itu, mereka tertidur nyenyak saling mendekap dengan Jeno yang masih sibuk mengemut dada jaemin sesekali.

Saat itu, yuta masih duduk di depan pintu kamar anaknya, perasaannya saat itu sangat tidak tenang sampai ia harus mendapatkan maaf dari sang anak.

Tepat tengah malam, Jeno terbangun saat mendengar suara ringisan dari istrinya itu. Jaemin meringis kepalanya pusing dan perutnya yang terasa keram. Karena terlalu panik dan tidak tau akan meminta pertolongan siapapun, Jeno langsung saja menyambar handphone nya dan menghubungi Wina, jika memanggil yuta itu tidak mungkin karena jaemin masih belum ingin bertemu dengan ayahnya.

Wina yang mendengar jaemin seperti itu, langsung saja menghubungi dokter yang pernah memeriksa jaemin waktu itu dan setelahnya ia pergi memastikan keadaan jaemin ke kediaman mendiang saudara kembar nya.

Saat  meminta izin masuk ke kediaman itu, ada sedikit drama yang terjadi membuat Wina sedikit mengomel kepada security yang berjaga di rumah tersebut.

Bagaimana tidak... Mingyu tentu saja kaget melihat kehadiran Wina di tengah malam. Dia berpikir itu adalah hantu yang menyerupai mendiang majikannya. Dia tampak pucat dan ketakutan saat melihat Wina. Wina yang melihat hal tersebut tentu geram, karena security tersebut sampai gemetaran dan mengucap kalimat aneh-aneh saat melihat wajahnya, sampai dokter yang Wina hubungi juga sudah datang ke kediaman itu.

Wina menghela nafas berat.

" Saya bukan hantu dan saya bukan winwin mantan majikan kamu. Saya saudara kembarnya dan saja juga manusia."

" Ga mungkin." Ucap mingyu gagap

" Kamu lihat ada orang lain di dekat saya, kamu bisa pastikan kepada orang ini. Tolong jangan buang waktu kami, Nana dalam bahaya di dalam." Ucap Wina sambil meminta dokter tersebut mengklarifikasi tentang dirinya.

" Beliau ini bernama Wina,dia ini manusia. Mas, bisa tolong beri akses kami masuk." Ucap dokter tersebut

Karena kesal dan geram, Wina langsung menampar pipi Mingyu cukup keras dan itu terlihat berbekas di kulit nya.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang