PT 46

3K 167 22
                                        

Yuta duduk terdiam di ruang tengah. Dia menatap pintu kamar anaknya yang terkunci dan tidak ada tanda-tanda jika jaemin akan keluar dari kamar itu.

* Tok tok tok

Yuta memberanikan diri mengetuk kamar sang anak, dia ingin menyelesaikan masalahnya dengan jaemin.

" Nana, buka pintunya, nak. Ayah mau bicara sama kamu."

Namun sang pemilik kamar tetap diam dan tidak memperdulikan kan yuta.

" Nak, ayah minta maaf. Ayo kita bicara. Ayah ga masalah kalau Nana mau maki dan pukul ayah, tapi tolong keluar nak."

Lagi, yuta tidak mendapat balasan apapun.

" Ayah tau, kamu pasti kecewa sama ayah. Kamu pasti sakit hati karena ayah sudah mengkhianati bunda. Ayo keluar sayang, ayah mau minta maaf sama kamu. Ayah terima kalau kamu mau memakai, menghina bahkan memukul ayah."

Jaemin lagi-lagi hanya diam di kamar dan tidak ingin membuka pintunya.

Yuta hanya bisa merosot duduk di depan pintu kamar sang anak. Berharap, jaemin akan membukakan pintu dan mau menemuinya.

Jeno yang ada di dalam kamar hanya bisa diam dan memperhatikan sang istri. Jaemin saat ini masih menangis di dalam dekapannya.

" Minum ya sayang, kasian anak kita di dalam sana." Ucap Jeno sambil mengelus kepala jaemin yang saat ini masih sesegukan di dadanya.

" Nana sayang kan sama anak kita?.. kalau Nana sayang, minum ya. Kasian anak kita, dia jadi kekurangan oksigen di dalam sana Kalau Nana kaya gini."

Akhirnya jaemin menganggukkan di dalam dekapan Jeno.

" Tunggu ya, mas mau ambil minum dulu." Ucap Jeno sambil menurunkan jaemin dari pangkuannya. Namun, jaemin malah mempererat pelukannya dan seolah tidak mau turun dari posisi itu.

" Mas mau ambil minum dulu sayang, Nana duduk dulu ya." Ucap jeno pelan.

" Ga mau." Ucapnya dengan suara parau dan sedikit sesegukan.

" Mau tetap kaya gini?" Tanya Jeno dan di balas dengan anggukan oleh jaemin.

Akhirnya Jeno berdiri sambil menggendong jaemin ala koala. Dia mengambil minum di dispenser yang ada di sudut kamar. Baginya menggendong jaemin tentu saja tidak masalah, dia justru senang jika jaemin sedang dalam mode manja seperti ini padanya.

" Leher mas jangan di gituin sayang, geli soalnya."

Namun, jaemin tetap saja tidak mendengarkan ucapan Jeno. Dia tetap saja ngedusel di perpotongan leher Jeno. Menurutnya menghirup aroma Jeno, membuat dia sedikit lebih tenang dan nyaman.

Akhirnya Jeno hanya pasrah dan kembali membawa jaemin untuk duduk ke sofa.

" Minum, ya." Ucap Jeno lembut sambil memberikan sedotan ke bibir jaemin.

Jaemin pun meminum air yang Jeno berikan, setelahnya Jeno mengambil botol tersebut dan memindahkannya ke meja.

Jeno menyibak poni jaemin dan membenarkan rambut jaemin yang berantakan. Kemudian dia menghapus sisa air mata di wajah jaemin menggunakan tangannya, tidak lupa dia juga membersihkan ingus sisa jaemin menangis barusan yang masih mengalir di bawah hidungnya. Terakhir ia mengambil tissue untuk membersihkan tangannya.

Ia tangkup wajah sang istri dan ia pandang wajah sembab itu. Lalu ia elus lembut pipi jaemin.

" Udah ya, jangan sedih lagi. Mas tau Nana kecewa berat, tapi Nana juga harus ingat, di tubuh Nana tidak hanya ada diri Nana saja, tapi juga ada calon anak kita. Nana harus ingat sayang, hamil di usia muda seperti Nana itu beresiko. Itu yang bikin mas waktu itu belum mau untuk menyentuh Nana, tapi Nana bilang sendiri kalau Nana udah siap kan. Jadi Nana harus jaga juga kondisi dia yang ada di dalam sini." Ucap Jeno sambil mengelus perut sang istri.

" Nana ga mau kan, Nana harus kehilangan anak kita?"

" Ga mau, mas." Balas jaemin.

" Nana harus kontrol emosi Nana, Nana juga ga boleh banyak pikiran. Kondisi kita saat ini memang sulit sayang. Banyak cobaan yang harus Nana lewati di saat Nana lagi hamil kaya gini. Apalagi kondisi kandungan Nana ga sekuat yang lain, mengingat umur Nana yang masih muda. Hal itu sebenernya juga berpengaruh sama kondisi Nana juga, ga hanya calon bayi kita saja, sayang. Nana harus bisa mengendalikan diri Nana, Nana ga boleh banyak pikiran. Ingat, apapun itu Nana masih punya mas. Nana ga sendiri, jadi jangan berlarut dengan keadaan dan terlalu overthinking untuk semua masalah yang Nana hadapi. Mas ga mau kehilangan kamu dan anak kita sayang. Mas mau, kamu tetap sehat dan bisa ada bersama mas setiap saat. Jadi, mas minta tolong ya, Nana harus jaga diri Nana baik-baik. Kendalikan diri Nana baik-baik, ya sayang."

Jaemin tersentuh dengan ucapan Jeno, benar yang bundanya katakan. Jika Jeno memang orang yang tepat untuk menemani dia.

" Nana sayang mas Jeno, jangan berubah ya mas. Tetap seperti ini dan jangan pernah tinggalin Nana." Ucap jaemin dan kembali mendekap erat tubuh Jeno.

Jeno tersenyum mendengar penuturan sang istri. Dia mengusap-usap punggung jaemin dan mengecup pucuk kepala jaemin berkali-kali.

" Mas juga sayang dan cinta banget sama kamu. Jadi tolong ya, pikirkan juga kondisi Nana."

" Iya mas." Ucapnya dan mendongakkan kepalanya kemudian mengecup bibir jeno

Tentu saja itu membuat Jeno kaget dan mencolek hidup sang istri.

" Centil banget, istrinya siapa sih?" Goda Jeno

" Istrinya mas Jen. Om-om mesum, ngeselin dan badannya gede kaya badak."

" Kenapa sih, bilang mas badak Mulu?" Ucap Jeno kesal.

" Habisnya, badan mas berat banget. Kalau mas lagi tindih badan Nana, berat banget rasanya. Mas suka ga inget, kalau badan Nana itu jauh lebih kecil dari mas." Ucap jaemin cemberut dan mempoutkan bibirnya.

" Maaf sayang, habisnya kamu enak sih. Mas jadi kecapek an dan ga sadar kalau nindih kamu. Tapi tolong, wajahnya jangan lucu kaya gini. Mas lagi puasa loh, nanti belalai mas bangun, gimana?" Lirih Jeno

Jiwa iseng jaemin pun kumat dan malah mengerjai Jeno.

Dia dekap leher Jeno dengan erat, kemudian dia kecup ceruk leher Jeno. Lalu dia goyang-goyang kan pantatnya yang saat ini masih di atas pangkuan Jeno. Tentu saja itu membuat Jeno mendesah.

" Ssshhh sayang, jangan mancing-mancing kaya gitu."

" Kenapa Daddy?" Goda jaemin lembut tepat di telinga Jeno.

" Nana, jangan iseng sayang." Balas Jeno yang meringis karena bagian bawahnya sudah menegang.

Namun, bukannya berhenti jaemin malah makin iseng dan membuat badan Jeno menjadi bergetar.

Jeno langsung mengubah posisi dan menindih jaemin di sofa itu.

Wajah Jeno tepat ada di depan wajah jaemin dan tangannya mulai menjalar pada dada jaemin dan menggoda dada montok itu. Tentu saja itu membuat jaemin ikut mendesah.

" Jangan iseng sayang, lihat. Belalai mas jadi bangun." Ucap Jeno sambil menunjuk bagian sensitifnya.

" Maaf ahhh, mas ahh." Ucap jaemin mendesah saat Jeno mainkan putingnya di balik kaos yang dia pakai.

" Mass terus, ahhh." Ucap jaemin

Jeno tersenyum menang melihat itu dan menyibak kaos jaemin dan langsung menyentuh puting milik jaemin.

Dia bermain-main di area dada jaemin, dia jilat area itu dan memainkan puting jaemin dengan ujung lidahnya.

" Jangan gitu mas, ahh. Hisap ahh. Hisap mas." Mohon jaemin pada Jeno.

" Apa sayang, mas ga denger."

" Masss ." Rengek jaemin

Dan Jeno pun mulai menghisap puting jaemin. Mereka pun menikmati adegan intim itu berdua tanpa peduli dengan yuta yang masih duduk di depan pintu menunggu jaemin keluar.
🔞

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang