PT 49

3.3K 176 45
                                        

Jaemin sedang duduk sendirian di halaman rumah milik keluarga Jeno.

" Huh, ternyata hamil itu ga mudah. Sesak banget rasanya. Apalagi kalau lagi main sama chenle, kerasa banget capek nya." Gerutu jaemin sambil mengelus perutnya dan bersandar di kursi teras.

" Ternyata hidup di desa enak ya. Udaranya sejuk dan suasananya tenang. Beda banget sama di kota. Meskipun ada banyak makanan yang ga cocok, tapi seenggaknya pikiran aku lebih tenang disini."

" Bunda." Ucap jaemin sambil menatap langit.

" Pasti bunda selalu jagain Nana ya, walaupun kondisi Nana yang rentan saat hamil dan tekanan yang Nana hadapi, tapi sampai sekarang kondisi Nana baik-baik aja. Makasih ya Bun, udah jagain anak Nana dari sana. hingga hari ini, kondisi Nana dan anak Nana masih sehat. Makasih juga udah tulus sayang sama Nana selama ini."

" Kalau bunda masih ada, dia yang bakal paling excited saat tau bakal punya cucu. Dia sangat menyayangi anak-anak.saat kamu lahir, dia bahagia banget dan ga pernah ninggalin kamu barang sedetik pun. Bahkan, saat ayah ataupun Oma opa yang menggendong mu, dia tetap selalu ada di dekat kami dan menatap wajah kamu tanpa henti."

Jaemin kaget, tiba-tiba yuta sudah ada di dekatnya. Dia tau, selama ini yuta suka diam-diam memperhatikannya dari jauh. Tapi, kali ini yuta berani mendekatinya setelah sekian lama.

Awalnya yuta memang sedikit ragu untuk mendekati jaemin. Namun, berkat dukungan keluarga haechan dan Jeno, akhirnya hari ini dia beranikan diri untuk menemui anaknya. Bagaimanapun, dia harus bicara langsung dengan anaknya. Di terima atau tidaknya alasan dia nanti, setidaknya jaemin sudah tau kenapa dia sampai berbuat seperti itu.

Jaemin kembali membuang pandangannya dan hanya diam.

Melihat jaemin yang tidak menjauh, yuta bersyukur. Berarti anaknya memberi kesempatan untuknya berbicara.

" Nak, ayah minta maaf." Ucap yuta yang saat ini sudah duduk bersimpuh di kaki jaemin.

Dengan mata berkaca-kaca, wajah yang lusuh dan sendu. Yuta memegang tangan sang anak.

" Ayah tau, ayah bukan orang tua yang baik untuk kamu. Ayah tau, ayah sudah mengecewakan kamu dan bunda."

" Maafin kekhilafan ayah, nak. Maaf kalau ayah yang tidak kuat dengan godaan saat itu."

" Awalnya, ayah sudah menjaga jarak dengan dia. Kamu pasti tau, di awal-awal kedatangannya, ayah ga pernah mau berinteraksi dengan dia. Tapi, karena rasa kasihan ayah kepadanya, ayah sendiri yang terjebak dengan permainan dia. Ayah di goda terus-terusan, lelaki mana yang kuat dengan godaan saat hasrat dia tidak tersalurkan dalam waktu lama. Namun setelah itu, dia memanfaatkan keadaan dan memberi ayah banyak ancaman, hal itu membuat ayah tidak bisa menghindar dari dia. Ayah tidak mau kalau bunda tau, itu bisa memperburuk keadaan bunda. Saat setelah bunda pergi, ayah sudah berniat mengakhiri semuanya. Tapi, dia lagi-lagi mengancam ayah untuk membongkar semua ke kamu. Ayah tidak mau kamu benci ayah dan ninggalin ayah, di tambah saat itu juga Jeno memberi tau ayah kalau kamu hamil. Ayah tidak mau anak dan cucu ayah kenapa-kenapa karena ulah dia. Maafin ayah nak, ayah tau ini bukan alasan untuk membela diri. Tapi ayah hanya ingin kamu tau, alasan ayah seperti ini karena hal tersebut."

Jaemin terisak setiap mendengar ucapan yuta. Dia kasihan dengan yuta, bagaimanapun yuta selalu sayang kepada dia dan bundanya. Seumur hidupnya, dia tidak pernah melihat yuta berbuat kasar kepada dia dan bundanya. Bahkan, di saat winwin sakitpun, yuta tetap telaten mengurusnya. Tapi, tetap saja ada rasa benci yang tidak bisa jaemin hilangkan, kenapa yuta harus melakukan itu di saat bundanya sakit.

Yuta berdiri, saat mendengar jaemin yang sudah sesak nafas karena isakannya.

" Maafin ayah nak. Nana jangan seperti ini, kalau mau nangis dan pukul ayah, silahkan nak. Tapi jangan di tahan seperti ini, kasihan cucu ayah." Ucap yuta sambil menarik jaemin ke pelukannya.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang