PT 33

2.9K 144 10
                                        

Pagi ini jaemin bangun lebih dulu. Dia merasa tidurnya tidak bisa nyenyak karena rasa sakit di bagian bawahnya. Di tambah dengan tubuhnya yang lengket dan suara dengkuran Jeno. Hal itu membuat dia risih, dan hal pertama kali yang ia sadari saat bangun tidur adalah jaemin mengernyit kan dahinya saat mencium aroma tidak sedap dari tubuh Jeno.

Jaemin tetaplah jaemin, dia risih dengan hal seperti itu. Hidungnya terlalu sensitif dan orangnya yang gampang ilfeel. Jangankan dengan Jeno yang baru bergabung dalam kehidupan pribadinya, dengan yuta dan winwin yang merupakan orang tuanya saja, dia tetap risih dengan hal itu. Padahal orang tuanya melakukan perawatan untuk tubuh mereka dan memakai wewangian yang mahal, tapi jaemin tetap risih. Apalagi Jeno, dia sama sekali tidak pernah melakukan perawatan tubuh dan wewangian yang ia gunakan pasti tidak mampu menahan itu semua. Ini pertama kalinya Jeno berkeringat lebih selama dekat dengan jaemin. Jadi ini juga merupakan hal baru untuknya. Sepertinya jaemin setelah ini harus membantu Jeno melakukan perawatan tubuhnya dan mencari cara agar Jeno tidak tersinggung nantinya.

Jaemin sebenarnya ingin sekali bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, ia terlalu malu untuk keluar kamar, ia takut bertemu Mark dan di tambah kondisi bagian bawahnya yang sakit, membuat dia sulit untuk berjalan.

Di dalam hatinya, ia benar-benar mengumpat. Tenaga Jeno benar-benar kuat, di tambah badannya yang besar membuat jaemin KO. Omongan Jeno ternyata benar, dia benar-benar menggempur jaemin sekuat tenaganya, untung saja semalam ia tidak pingsan.

" Dasar badak, biasanya bangun duluan. Sekarang malah keenakan tidur sampai ngorok. Ga ingat apa, udah bikin anak orang tersiksa." Umpat jaemin pelan

Jaemin memperhatikan tubuhnya, ternyata banyak tanda merah yang Jeno lukis pada tubuhnya, dia terlalu malu. Dia kembali membayangkan, bagaimana Jeno menatap tubuhnya tanpa sehelai benang. Belum lagi, semalam ia juga melihat tubuh gagah Jeno dengan tongkat saktinya yang cukup besar.
Jaemin benar-benar malu.

" Bunda, Nana malu. Nana udah ga suci lagi." Rengeknya pelan. Setelah itu dia menyembunyikan wajahnya ke bawah selimut, namun jaemin langsung kaget saat melihat milik Jeno terpampang nyata dan tegak di depan matanya, sontak saja membuat dia kaget dan langsung berteriak kencang.

"Aaaaaaaaaa." Teriaknya di balik selimut, saat melihat tongkat sakti Jeno yang ada di dalam sana.

Mendengar teriakan jaemin, tentu saja membuat Jeno terbangun dari tidurnya. Dia melirik ke kiri dan kanan, namun tidak ada jaemin. Dia berpikir, ada dimana istrinya itu, kenapa dia berteriak. Akhirnya, Jeno menyibak selimutnya dan melihat jaemin yang meringkuk di dalamnya dengan wajah merah padam.

" Kamu kenapa, sayang?"

Tentu saja jaemin kaget saat mendengar suara Jeno. Dia masih malu dengan Jeno, lagi-lagi Jeno bisa melihat tubuhnya tanpa sehelai benang dan tidak mungkin dia berkata jujur, jika tongkat Jeno lah yang membuat dia kaget dan berteriak di pagi hari.

" Kamu kenapa, sayang?" Tanya Jeno ulang sambil mengelus punggung polos jaemin.

Jaemin mendongak menatap Jeno dengan wajahnya yang merah karena malu, kemudian dia menggelengkan kepala.

" Wajahnya kenapa merah begitu, Nana malu ya?" Tanya Jeno lagi dan jaemin langsung mengangguk kaku.

" Kenapa Nana malu, semalam kan Nana yang ngotot pengen coba. Dan setelah ini, hal ini akan terlihat biasa aja sayang. Pemandangan kaya gini, bakal sering Nana lihat. Jadi, Nana jangan malu. Lagian yang lihat kan cuma suami Nana."

" Iya mas, tadiiii Nana kaget lihat tongkat mas berdiri tegak kaya gitu."

" Kenapa kaget, semalam kan udah lihat. Nana juga teriak-teriak kenikmatan kan." Goda Jeno sambil mencolek hidung jaemin.

Dia menatap wajah lelah jaemin dan menyibak poni jaemin yang masih basah dan berantakan.

" Mau lagi ga?harusnya kita lanjut lagi. Biar tongkat mas ga berdiri. Dia berdiri karena ada kamu di dekat mas. Mau coba lagi ga, cantik?" Jeno semakin menggoda jaemin yang terlihat malu saat membahas soal itu.

" Mas, udah. Dari tadi Nana malu, mau mandi keluar juga takut ketemu Abang. Dia pasti dengar soal semalam." Rengek jaemin manja

Jeno menarik jaemin ke dalam pelukannya dan mengecup pucuk kepala jaemin.

" Ngapain ga bangunin mas saja sayang. Nana gerah ya, pengen mandi?" Tanya Jeno sambil mengusap bahu telanjang jaemin.

Jaemin membuang kasar nafasnya, kenapa harus Jeno peluk lagi sih. Dia kan dari tadi risih dengan aroma tubuh Jeno.

" Bantuin Nana mas, itu nya Nana masih sakit."

" Mau mandi bareng aja ga, Abang juga pasti udah ga dirumah. Biar mas gendong kamu ke kamar mandi."

Jaemin pun mengangguk pasrah, dia meminta Jeno membawa semua peralatan mandi yang ia punya. Lumayan, dia bisa sekalian ikut membersihkan tubuh Jeno dengan semua peralatan yang dia punya.

Jeno memakai boxernya yang tergeletak di lantai tanpa memakai baju, sementara dia membantu jaemin memasang pakaiannya dan mulai mengangkat jaemin ke kamar mandi. Dan benar saja, saat mereka keluar, tidak ada tanda-tanda keberadaan Mark dan anaknya dirumah itu. Jaemin dapat bernafas lega, setidaknya dia tidak malu berpapasan dengan Mark

Setelah selesai membersihkan diri, jaemin duduk di ruang tamu di rumah Jeno. Sedangkan Jeno tengah membersihkan kamar yang berantakan ulah mereka semalam.

Begitu selesai, Jeno langsung menghampiri jaemin yang sedang duduk main handphone sambil sesekali meringis kesakitan.
Jeno mengelus pucuk kepala jaemin dan kemudian mengecupnya.

" Nana mau makan apa, sayang?"

" Ga tau, memangnya ada makanan apa saja, mas?" Ucap jaemin, kemudian ia mendongakkan kepalanya menatap Jeno.

" Nana ingin makan apa, biar mas masak buat Nana."

" Mas, bisa masak?"

" Bisa sayang, kamu mau apa?, jangan makanan western ya, ga ada bahannya disini."

" Apa aja deh mas, Nana udah lapar banget."

" Oke, Nana tunggu disini ya. Kalau pantatnya masih sakit, Nana baring aja, biar ga perih."

" Ga mau ah, ga enak, takut Abang datang."

" Abang baliknya pasti sore, jadi kamu baring aja disini. Itunya pasti masih perih."

Jaemin pun berbaring dan tidur menyamping sesuai arahan Jeno.

Karena bahan yang ada cuma seadanya, akhirnya Jeno memutuskan memasak nasi goreng saja untuk jaemin. Dia paham, jaemin sudah sangat kelaparan.

Setelah beberapa menit bergelut dengan urusan dapur, Jeno pun menghampiri jaemin dan mengajak jaemin untuk makan, karena sekarang sudah menunjukan pukul 11 siang. Dia takut jaemin sakit karena sudah melewatkan sarapan paginya.

" Na, duduk dulu, ayo kita makan."

Jaemin pun bangkit untuk duduk di sebelah Jeno. Saat ia akan mengambil piring yang ada di tangan Jeno, justru Jeno menolak dan mengarahkan sendoknya ke depan mulut jaemin. Tentu saja jaemin langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Jeno.

" Mas ga makan?" Tanya jaemin setelah menerima suapan dari Jeno.

" Nanti, habiskan dulu makanan kamu. Setelah itu baru mas makan."

Jaemin menarik sendok yang ada di tangan Jeno dan ikut menyuapi Jeno nasi goreng tersebut.

" Kita makannya bareng aja, biar sama-sama kenyang." Ucap jaemin dan setelah itu dia tersenyum manis menatap Jeno.

Tentu saja itu membuat Jeno tersentuh sekaligus terpesona. Jenopun mencuri sedikit kecupan ke bibir jaemin.

" Terima kasih, cantik." Balasnya setelah itu

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang