Setelah makan malam, mereka balik ke kamar.
Jeno menemani jaemin duduk di balkon kamar sampai jaemin tertidur. Sebenarnya Jeno juga kasian, jika jaemin akan masuk angin, tapi mau gimana lagi, mungkin dengan cara ini perasaan jaemin bisa sedikit lega, karena dia bisa menyampaikan apa yang dia rasa dengan menatap langit.
Dirasa tidur jaemin sudah pulas, Jeno mengangkat jaemin dan memindahkannya ke ranjang dan ikut tidur bersama jaemin.
Saat tengah malam, Jeno terbangun karena ingin ke kamar mandi. Dan betapa terkejutnya dia saat tau jaemin sudah bangun dan menangis menatap layar hp nya.
" Sejak kapan kamu bangun,na?" Tanya Jeno
Jaemin kaget saat mendengar suara Jeno, biasanya Jeno tidak bangun Jam segini.
" Om!!! Nana bangun dari tadi."
" Kenapa bangun jam segini, na?"
" Beberapa hari ini Nana selalu bangun jam segini om, Nana selalu mimpi buruk." Lirih jaemin.
" Kenapa ga bangunin om, na?, ga baik kamu melamun di jam segini sendirian."
" Nana ga enak, om pasti capek."
" Kamu sering seperti itu sebelumnya?"
" Engga om, cuma sesekali saja. Kalau habis mimpi buruk, Nana memang susah tidur lagi. Biasanya, Nana Nana." Ucapan jaemin terpotong karena ia yang kembali terisak mengingat bundanya.
" Nana kenapa?" Tanya Jeno lembut sambil mengelus pundak jaemin.
" Biasanya, Nana ke kamar bunda dan ayah. Nana akan tidur sambil di peluk mereka. Se- sekarang, bunda kan udah ga ada. Ga mungkin Nana tidur berdua ayah dan di peluk ayah." Ucapnya terbata dan sesegukan.
" Tidurnya sambil om peluk, mau?" Bujuk Jeno
Namun, respon jaemin di luar dugaan. Dia malah menggelengkan kepalanya.
" Kenapa tidak mau?"
" Nanti om risih." Jawabnya
" Ngapain om risih, kita kan sudah menikah. Nana pasangannya om, jadi itu hal yang biasa saja. Tidurnya sambil om peluk, ya?" Ucap Jeno lembut sambil mengelus pucuk kepala jaemin.
Mendapat perlakuan lembut dari Jeno, akhirnya jaemin mau menerima tawaran Jeno. Semoga saja dia bisa tidur dengan nyaman di peluk Jeno. Semoga senyaman pelukan orang tuanya.
" Kalau begitu, om mau ke kamar mandi sebentar ya."
Setelah selesai dari kamar mandi, Jeno langsung menghampiri jaemin. Dia mengajak jaemin untuk masuk ke dalam dekapannya.
" Ayo tidur. maaf ya, Bau om ga enak." Ucap Jeno setelah memeluk jaemin.
Jeno mengusap-usap punggung jaemin, agar anak itu merasa nyaman. Bagaimanapun tidur dengan kondisi seperti ini sama-sama hal yang baru buat mereka, dua-duanya sama-sama gugup, Jeno berusaha menetralkan debar jantungnya dan menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
" Nana jangan banyak pikiran ya, itu salah satu penyebab tidur Nana tidak nyenyak. Karena Nana terlalu banyak pikiran, hal itu yang terbawa ke dalam alam bawah sadar Nana, sehingga kebawa mimpi. Kalau ada apa-apa, Nana cerita sama om."
" Kita kan bukan kenal satu atau dua hari saja. Dari kecil, Nana udah bareng om. Bahkan bunda selalu ajak kita pergi kemanapun bersama. Om tau, Nana paling dekat dengan bunda. Bahkan, om sering dengar Nana curhat sama bunda. Di banding ayah, mungkin waktu kita bertiga dengan bunda lebih banyak. Jadi, Nana jangan sungkan buat cerita sama om. Nana bisa cerita ke om, kaya Nana cerita ke bunda biasa nya. Apalagi sekarang kita udah menikah, sebagai pasangan kita harus saling berbagi keluh kesah. Nana ingatkan, apa yang bunda bilang setelah kita menikah waktu itu." Lanjut jeno
" Nana ingat om. Nana selama ini terlalu bergantung sama bunda, Nana terlalu dimanja bunda dan Nana tidak pernah sekalipun berpisah dengan bunda. Ini berat banget buat Nana om, Nana merasa benar-benar tidak bisa apa-apa setelah ini. Bagaimana jika omongan bunda waktu itu benar-benar terjadi, bagaimana jika ayah benar-benar punya keluarga baru setelah ini. Bagaimana jika keluarga baru ayah nanti tidak suka dengan Nana. Nana tidak punya siapa-siapa lagi om. Orang yang paling Nana sayang selain bunda itu Oma dan Oma itu kan orang tua nya ayah. Kalau ada yang jahat sama Nana, Nana harus ngadu sama siapa lagi. Keluarga bunda kan ga ada." Ucap jaemin di dalam dekapan Jeno.
" Jangan terlalu berpikir yang belum tentu terjadi, na. Belum tentu, pikiran-pikiran buruk yang menghantui Nana itu bakal terjadi. Om yakin, ayah ga bakal menyia-nyiakan Nana. Apalagi Oma kamu, ga mungkin dia akan menyia-nyiakan kan cucu kandung satu-satunya ini demi orang lain. Lagian, Nana ga usah takut. Sekarang Nana jadi tanggung jawab om. Om yang bakal melindungi dan menjaga Nana. Om tau, Nana bukan orang yang lemah, ga bakal ada yang berani lawan Nana."
" Gimana kalau om juga menyakiti Nana nantinya. Nana harus berlindung ke siapa lagi?"
" Om udah janji di depan bunda waktu itu, selama ini Nana tau kan, om selalu menepati janji om. Jika om berani macam-macam, ada ayah dan om Mark yang akan menghabisi om. Jadi, ga usah takut soal itu. Oke."
" Kalau Nana merasa belum bisa apa-apa, Nana kan masih bisa belajar. Nana pengen belajar apa, nanti biar om bantu. Jangan takut soal itu. Stop ya, berpikir sesuatu yang belum tentu terjadi."
" Iya om."
" Sekarang Nana tidur ya, semoga tidur Nana bisa nyenyak kalau om peluk kaya gini."
Meskipun mengantuk, Jeno terus mengelus-elus punggung jaemin sampai ia benar-benar tertidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect
Romanceperjuangan lee Jeno dalam menjaga amanah dari orang yang berjasa dalam hidupnya. 🚫 misgendering 🚫 Mprag
