PT 54

350 52 4
                                        

Dikediaman sederhana milik Jeno dan jaemin. Suasana terasa hangat dan ramai, apalagi dengan kehadiran sang ibu dan adik yang hampir setiap hari mampir ke rumah.

jeno, sang kepala keluarga nampak sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang dan di temani oleh sang mertua.

Di ruang tengah, jaemin bersama sang ibu dan anak bungsunya duduk bersama menikmati drama favorite mereka yang sedang tayang di televisi.

Drama yang mereka tonton, yang menceritakan tentang kisah cinta antara dua sejoli yang berbeda kasta. Jika di ingat, jaemin seperti mengingat kisahnya bersama sang suami.

" Di zaman sekarang, kayanya mustahil ga sih, pernikahan beda kasta seperti ini, Una?" Tanya si bungsu.

Wina tersenyum mendengar pertanyaan polos dari cucu cantiknya.

" Kenapa yushi berpikir seperti itu?" Tanya sang nenek.

Si cantik yang sedang bersandar di bahu ibunya, langsung menatap sang nenek. " Ga mungkin orangtua izinkan anaknya hidup susah. Bukankah orang kaya harusnya hidup bersama orang kaya, agar mereka setara dalam segala hal?" Jawabnya.

" Itu tergantung pola pikir manusia saja, dek. Setara tidak selalu di nilai dari segi kekayaan. Orang kaya juga bisa bangkrut dan jatuh miskin. Setara dalam hubungan itu tentang pola pikir, jika pola pikir kita berbeda, maka itu akan membuat hubungan menjadi rusak karena kita sibuk mempertahankan ego masing-masing. Orang biasa, belum tentu punya pola pikir yang buruk. Semua orang sama aja dek, Dimata tuhan. Kalau adek mau cari pasangan, cari orang yang punya pemikiran luas, tidak egois dan pekerja keras. Mau dia kaya atau tidak, hidup adek akan bahagia sampai kapanpun. Karena, orang yang punya pemikiran luas, tidak egois dan pekerja keras. Mereka akan melakukan apa saja untuk memperjuangkan kehidupan mereka. Terkadang, banyak orang kaya yang sudah terbiasa hidup mewah dan bergantung dengan apa yang sudah di siapkan orang tua mereka. Mereka terbiasa menerima sesuatu yang sudah tersedia, sehingga untung memulai sesuatu yang baru, mereka jadi tidak punya keberanian." Ucap Wina sambil mengelus lembut pipi yushi.

"Kalau adek cari pasangan, cari orang yang benar-benar sayang sama adek, tidak egois, mandiri dan pekerja keras. Percayalah, hidup adek akan terjamin dan bahagia. Contohnya saja ayah kamu. Lihat, bagaimana dia memperlakukan Una. Apa kamu pernah lihat, ayah marah ke Una atau ayah memperlakukan Una tidak selayaknya?" Lanjut Wina

Yushi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Ayah pasti takut sama kakek yuta, kakek yuta kan serem." Balasnya dengan sedikit candaan.

Wina dan jaemin tersenyum mendengar jawaban yushi.

"Kamu salah,dek. Justru ayah berani ancam kakek kamu, demi Una." Balas jaemin

"Kenapa ayah berani ancam kakek yuta, demi Una?" Tanya yushi penasaran.

Selama ini, jaemin memang belum pernah menceritakan bagaimana ia dan Jeno bisa menikah. Baginya, usia yushi belum bisa paham soal hal itu. Dan sepertinya, saat ini usia yushi sudah cukup paham untuk mengetahui hal tersebut.

" Sama seperti drama yang kita tonton saat ini. Dulu, Una dan ayah itu tergolong beda kasta. Keluarga ayah itu bekerja dengan mendiang Oma kamu. Sampai ayah kamu juga ikut bekerja sebagai sopir Una sewaktu Una kecil sampai kita menikah." Ucap jaemin

"Kok bisa? Yushi pikir, uncle haruto hanya bercanda waktu bilang, ayah itu mantan sopir nya Una."

"Ceritanya panjang dek. Intinya, meskipun mereka hanya pekerja di keluarga kita, mereka itu sangat baik dan jujur. Makanya, Oma dan kakek kamu sudah anggap mereka seperti keluarga sendiri. Kakek jaehyun itu dulunya sopirnya kakek yuta, nenek Taeyong itu art di rumah kita. Ayah kamu ikut kerja jadi sopirnya Una setelah dia lulus SMA. Karena tugas antar jemput Una tidak terlalu berat, Oma kamu suruh ayah buat kerja sambil kuliah. Ayah udah di anggap anak sendiri oleh Oma winy, begitu juga dengan paman mingyu, mereka berdua itu sama. Sama-sama ikut kerja menggantikan orang tuanya di rumah kakek yuta. Una ga tau, waktu Oma kamu sakit, dia maksa Una buat nikah sama ayah kamu. Waktu itu, Una ga punya pilihan, karena itu permintaan terakhir Oma winy. Tapi ternyata sekarang Una paham, Oma winy menitipkan Una pada orang yang tepat. Ayah kamu selalu menjadi pelindung Una di saat masa-masa sulit Una. Dari dulu hingga sekarang, dia tidak berubah sama sekali. Pantas saja dulu Oma winy begitu percaya padanya, bahkan dulu Oma kamu sempat di fitnah punya hubungan dengan ayah kamu. Ternyata, dia cuma mau jagain jodohnya Una." Jelas jaemin.

"Emangnya, Una punya masa sulit apa, sebelum ini?" Tanya yushi penasaran.

" Pernah, waktu Oma kamu sakit parah." Lirih jaemin.

Drama yang tayang di layar kaca, seperti berbalik menonton mereka yang asyik bercerita dan tidak menghiraukan siaran televisi itu lagi.

"Emang ada apa, Una?" Tanya yushi penasaran.

"Di saat bersamaan waktu Oma kamu sakit parah, kakek kamu waktu itu juga selingkuh. Disitulah peran ayah kamu sangat berarti. Dia mengetahui semuanya, dia memilih diam dan berusaha melindungi Una. Waktu Oma kamu meninggal, kita harus hidup satu atap dengan selingkuhan kakek kamu. Di saat bersamaan, Una hamil kakak kamu, jisung. Waktu itu Una bingung, harus senang atau bagaimana. Hidup Una benar-benar di uji saat itu. Una harus menghadapi orang yang berkelakuan iblis, di saat emosi Una yang tidak stabil. Ayah kamu, benar-benar berperan penting dalam hidup Una. Dia selalu ada buat Una, selalu jagain Una dan ikuti apa yang Una mau. Bahkan, dia sampai trauma mau punya anak lagi, waktu liat gimana kondisi Una pas hamil dan melahirkan kakak kamu." Ucap jaemin dengan mata yang berkaca-kaca, mengingat apa yang dulu ia alami.

"Pantes kak jisung aneh. Ternyata waktu Una hamil dia, Una lagi kesusahan an." Jawab yushi sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.

Wina dan jaemin tentu saja tertawa mendengar jawaban yushi.

"Kalau itu soal gen, dek. Kakak kamu kan nular sifat Una." Balas Wina yang berniat untuk meledek sang anak.

"Apaan, sifat Nana kan nular dari ibu." Balas jaemin tak terima.

" Yaudah, intinya yushi mirip ayah Jeno dan Oma winy. Eh tapi, semua cucu kakek yuta, demen sama yang dari keluarga biasa ya?"

Jaemin dan Wina tentu saja kaget mendengar ucapan yushi.

" Kenapa kamu bilang seperti itu, dek?" Ucap jaemin yang balik bertanya.

"Yushi sudah dua kali bertemu pacarnya uncle ruto. Dia juga sama seperti ayah. Dia bekerja di cafe sambil kuliah, dia merawat orang tuanya yang sakit. Yushi suka kasihan melihat kakak dobby."

"Dobby?" Tanya Wina

" Iya gemma. Dobby itu panggilan pacarnya uncle ruto. Dia temennya KA junkyu pacarnya kak jisung. Yushi juga ga tau nama aslinya, tapi mereka manggilnya dobby." Balas yushi

Jaemin dan Wina tersenyum mendengarnya. Waktu terlalu cepat berlalu, tidak terasa anak kecil yang mereka rawat dulu, sekarang sudah remaja dan punya pacar.

" Kalau adek, pacarnya siapa?" Tanya yuta yang tiba-tiba sudah muncul di dekat mereka bersama Jeno.

"Kakek." Protes yushi, karena yuta yang juga jahil sambil menarik hidung mancung cucunya.

" Adek ga boleh pacaran, nanti ayah aja yang Carikan adek jodoh." Balas Jeno yang sudah menarik yushi kedalam dekapannya.

"Adek mau yang kaya ayah aja ya, adek ga mau yang kaya kakek yuta. Suka selingkuh, serem. Pantes aja kakek gondrong seketek-keteknya." Ledek yushi yang langsung mendekap erat tubuh Jeno.

Semua yang ada di sana, tentu kaget dengan ucapan yushi. Mereka bingung antara ingin marah atau ingin tertawa dengan ledekan itu.

"Adek... Siapa yang ngajarin kaya gitu?" Tegur Jeno.

" Kak jisung lah. Dia suka ledek uncle ruto kaya gitu. Dia bilang, uncle ruto anaknya yuta gondrong seketek-keteknya. Beda Ama KA jisung yang anaknya Jeno, cowok glowing sebadan-badannya." Balas yushi dan tentu itu membuat semua orang dewasa disana menggelengkan kepala. Memang kelakuan si jangkung itu ga ada akhlak sekali. Kakeknya malah di hina seperti itu.

"Kalau ayah juga selingkuh gimana?" Balas yuta yang kembali ingin meledek cucunya.

" Mas Jen ga bakal selingkuh kaya ayah. Ga bakal berani dia. Kalau dia selingkuh pasti ketahuan." Balas jaemin.

"Ketahuan darimana nya, Una?" Tanya yushi.

" Hidungnya makin maju kedepan." Balas jaemin.

"Pantes jisung mulutnya gitu, ternyata nular si pesek satu ini." Balas Jeno sambil menarik gemas hidung jaemin.

Mendengar hal itu, tentu saja mengundang gelak tawa bagi yang lain.
Rumah seperti inilah yang jaemin inginkan selama ini. Ramai, tidak terlalu mewah dan besar, namun penuh kehangatan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 3 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang