PT 45

2.6K 156 16
                                        

Setelah kejadian di mall barusan, jaemin hanya banyak diam dan termenung. Jeno memakluminya, dia tau jika istrinya pasti terpuruk dengan keadaan saat ini.

Jeno mengambil tangan kanan jaemin dan kemudian ia genggam. Dia memberi elusan lembut pada punggung tangan jaemin. Hal itu membuat jaemin menoleh kepadanya, iya menatap jaemin sekilas dengan senyuman lembut kemudian kembali fokus menyetir. Dia berharap afeksi yang ia berikan bisa membuat perasaan jaemin lebih tenang.

Begitu sampai di rumah, dia mengajak jaemin untuk istirahat di kamar. Namun, sebelum mereka melangkah memasuki kamar, mereka berpapasan dengan Taeyeon.

" Semua barang mereka, sudah bibi bereskan?" Tanya jaemin.

" Sudah na, dan barang-barangnya sudah di bawa Mingyu ke pos depan."

" Terima kasih ya bi, sudah membantu Nana."

" Sama-sama na, barang kamu juga udah beres semua. Sebagian udah di bawa Sama mobil yang kamu kirim."

" Oke bi, Nana mau istirahat dulu."

" Na, maaf. Kamu yakin mau pindah dari sini?" Tanya Taeyeon

" Iya bi, Nana ga bisa lagi tinggal di sini. Di sini bukan tempat Nana dan Nana ga bisa hidup bareng ayah lagi. Terlalu sakit buat Nana."

" Bibi bakal kangen banget sama kamu, kalau itu memang keputusan terbaik buat kamu, bibi bakal dukung kamu na. Tapi, kalau bibi kangen, bibi boleh kan mampir ke tempat kamu sama Jeno. Gimanapun, kamu dari kecil udah bareng-bareng sama bibi. Kamu udah kaya anak bibi, denger kamu pindah, bikin bibi sedih na."

" Iya bi, bibi bisa hubungi Nana atau mas Jeno nanti. Kita masih bisa komunikasi dan ketemuan lagi di luar sana."

Obrolan mereka terganggu dengan kehadiran Yeri.

" Na, di depan ada polisi. Katanya mau nyari si pelakor." Ucap Yeri

" Mereka udah Dateng ya?" Tanya jaemin memastikan.

" Ada apa sih na, kenapa sampai ada polisi yang datang. Emangnya kasus pelakor bisa di bawa ke jalur hukum ya?" Tanya Yeri penasaran.

" Bibi liat nanti aja, bibi bakal tau sendiri. Yaudah, kita kedepan aja. Sekalian nunggu mereka bertiga datang."

Merekapun mengikuti jaemin dari belakang.
Jaemin langsung berjabat tangan dengan polisi tersebut.

" Sebentar lagi mereka datang."

" Nah, itu mobilnya. Tersangkanya ada di dalam sana." Tunjuk jaemin pada mobil yuta yang baru saja memasuki pekarangan rumah.

Sementara di dalam mobil, renjun dan doyoung tampak ketakutan.

" Mas, itu ada apa. Anak kamu ga melakukan hal aneh kan. Tiba-tiba baik, tadi permalukan kita dan sekarang ada polisi." Ucap doyoung pada yuta.

" Kamu bisa diam tidak, jangan apa-apa salahin anak saya. Kalau kamu ga berbuat macam-macam tentu ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Dan ingat, kamu hari ini sudah harus angkat kaki dari rumah saya." Bentak yuta dan kemudian dia turun lebih dulu dari mobil.

Doyoung dan renjun mengikutinya dari belakang

" Ma, mama ga berbuat macam-macam kan?"

" Kamu selama ini kan bareng mama, apa pernah kamu lihat kalau mama berbuat kriminal selama disini?"

" Tapi, polisi itu kenapa ma. Ga mungkin si jaemin itu laporin ayahnya."

" Udah kamu diam, jangan bikin mama makin ketakutan."

Mereka saling berbisik karena ketakutan.

Yuta langsung menemui polisi tersebut dan menanyakan ada perihal apa mereka datang ke kediaman yuta.

" Ini, ada apa?" Tanya yuta pada petugas kepolisian tersebut.

" Maaf pak. Kami dari kepolisian datang untuk menjemput saudara Kim doyoung." Ucap petugas tersebut dan memberikan surat penangkapan kepada yuta.

" Itu surat tugas kami, bapak bisa baca sendiri."

" Ada apa ini, kenapa saya harus di jemput." Protes doyoung.

" Anda di tetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan berencana terhadap saudara Winy Wijaya. Berdasarkan laporan dan bukti yang sudah kami terima, anda di tetapkan sebagai tersangka dan harus ikut kami untuk melakukan interogasi ulang di kepolisian."

" Itu fitnah, saya selama ini bekerja profesional disini. Pembunuhan berencana apa yang anda maksud?" Teriak doyoung

" Anda bisa jelaskan nanti di kantor kami." Ucap polisi tersebut.

" Saya ga terima kalau saya difitnah seperti ini. Pembunuhan seperti apa yang saya lakukan. Bahkan, saat dia meninggal, saya sudah tidak lagi bekerja di rumah ini."

Mendengar jawaban doyoung membuat jaemin naik darah. Dia maju dan jalan mendekati doyoung.

Plak

Suara tamparan jaemin terdengar cukup keras.

" Profesional seperti apa yang anda maksud?" Teriak jaemin tepat di depan wajah doyoung.

" Anda selama ini menukar obat-obatan yang di konsumsi oleh bunda saya. Itu yang ada bilang profesional?"

Doyoung hanya diam dan tak mampu menjawab ucapan jaemin

" Profesional seperti apa lagi yang anda maksud. Menelantarkan pasien anda hanya untuk menuntaskan nafsu anda dengan pria ini." Ucap jaemin tegas sambil menunjukkan wajah yuta.

" Bahkan, anda membuat pasien anda sendiri kecemasan menunggu anda dan suaminya yang tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabar seharian. Itu yang anda bilang profesional."

" Bahkan, saat dia skarat di rumah sakit. Anda masih sibuk menuntaskan nafsu dengan pria ini. Itu yang anda bilang profesional?" Teriak jaemin dengan air mata yang sudah mulai menetes.

Melihat hal itu, tentu Jeno langsung sigap menarik dan mendekap sang istri. Dia takut terjadi sesuatu kepada jaemin dan anaknya.

Jeno membawa istrinya masuk ke kamar dan meninggalkan orang-orang di luar sana.

Mendengar penuturan sang anak, membuat yuta tersulut emosi dan menampar pipi doyoung dengan keras.

Plak

Lagi, doyoung kembali mendapat tamparan keras di pipinya dan membuat pipinya panas.

" Dasar tidak tau diri, jadi ini semua rencana kamu. Jalang." Ucap yuta tepat di wajah doyoung.

" Pantas saja selama ini, tidak ada kemajuan dengan kondisi istri saya. Ternyata semua ulah kamu. Dasar murahan."

Yuta masuk ke dalam meninggalkan doyoung dan anaknya.

Polisi langsung membawa doyoung dan tersisalah renjun di sana. Dia kebingungan, harus kemana dia setelah ini.

Yeri muncul dari balik pintu dan langsung menemui renjun.

" Eh anak pelakor, barang-barang kamu dan ibu kamu sudah ada di pos satpam. Pergi dari sini dan bawa barang-barang kalian. Dan ini, amplop titipan dari Nana. Pakai uang ini untuk ongkos kamu balik ke kampung kamu, sisanya bisa kamu pakai untuk modal usaha. Untungnya majikan saya masih baik dan memikirkan nasib kamu." Ucap Yeri sambil melempar amplop berisikan uang yang jaemin titipkan padanya.

Saat sampai di pos satpam, Mingyu langsung menyerahkan koper-koper itu kepada renjun.

" Makanya, mimpi jangan ketinggian. Jangan halalkan segala cara untuk hidup enak. Kalau kejadian kaya gini, malu sendiri kan." Ejek Mingyu.

Renjun hanya diam dan tak bisa membalas apa-apa. Dia terlalu malu berada disini, untuk uang yang jaemin berikan. Dia terpaksa mengambil karena, dia memang butuh uang untuk balik ke kampungnya. Dan mungkin dia juga harus punya usaha agar bisa hidup setelah ini, karena sang ibu pasti sudah tidak bisa membiayai dia lagi. Apalagi uang saku yang yuta berikan sudah habis olehnya, uang itu ia gunakan untuk mentraktir teman-teman di kampus agar bisa berteman dengan mereka. Sebelum balik ke kampung dia harus menemui sang ibu dulu ke kantor polisi untuk berpamitan.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang