PT 50

3.2K 156 10
                                        

* Tiga Tahun kemudian.

Bocah kecil berusia tiga tahun tengah berlari menghampiri sang ibu.

" Unaaa." Ucap anak laki-laki yang saat ini sudah berusia tiga tahun.

" Jisung, sayang. Jangan lari-larian dong,nak. Nanti kamu jatoh." Ucap sang ibu.

" Maaf, una. Una lagi masak apa?"

" Una lagi masak cake pisang, buat anak tampan Una dan adek haruto."

" Dedek luto mau kesini, ya, Una?"

" Iya, sayang."

" Yey, jiji bisa main sama dedek luto dan gemma."

" Sekarang, jiji beresin mainannya ya. Kasian, nanti dedek luto jatuh karena mainan jiji yang berserakan."

" Tapi, Una. Nanti jiji kan juga mau main lagi sama dedek luto."

" Nanti mainannya di pakai seperlunya saja ya, biar tidak berantakan."

" Oke, Una."

Jisung-pun langsung lari untuk membereskan mainannya. Dia memang senang jika gemma dan haruto main kerumah. Jujur saja, dia merasa kesepian jika dirumah saja bersama jaemin.

" Jisung, buna bilang apa tadi. Jangan lari-larian, nanti jatoh dan di marahin ayah, loh." Teriak jaemin.

" Iya, Una. Maaf." Balas anak itu sambil teriak.

Jaemin kembali fokus pada cake yang ia bikin, barusan.

Selama tiga tahun menikah dengan Jeno, nampaknya jaemin sudah belajar banyak hal. Salah satunya, memasak. Jeno selalu membantu jaemin dalam belajar, untungnya Jeno memang bisa memasak, jadi jaemin tidak perlu belajar diluar sana.

Setelah memindahkan cake dari loyang, jaemin hendak menghampiri sang putra dan berniat membantu jisung untuk membereskan mainannya. Namun, langkah kakinya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu. Jaemin lanjutkan langkah kakinya menuju pintu dan membukanya, muncullah wajah sang ibu yang datang bersama adiknya.

Benar, yang datang memang ibu dan adik jaemin. Siapa lagi kalau bukan Wina. Dan sejak kapan, jaemin punya adik. Semua itu terjadi tiga tahun yang lalu, tepat saat jisung lahir

*Flashback

Semenjak usia kandungan jaemin menginjak sembilan bulan, baik Wina maupun yuta tidak pernah meninggalkan jaemin barang sedetikpun. Mereka menginap di kediaman Jeno, dengan kondisi seadanya hingga jaemin melahirkan.

Saat jaemin mengalami kontraksi hebat, tentu saja itu membuat Jeno, yuta dan Wina panik. Wajah anak itu tampak pucat sekali dan jaemin saat itu sempat pendarahan. Ini adalah salah satu resiko dari jaemin yang hamil di usia muda.

Baik Jeno, yuta dan Wina, salah satu dari mereka tidak ada yang bisa mendampingi jaemin untuk melahirkan karena jaemin harus di operasi pada saat itu. Mereka benar-benar takut terjadi sesuatu dengan jaemin. Karena mereka tau, resiko nya saat mengambil keputusan untuk jaemin hamil di usia muda. Jeno nampak yang paling panik di antara mereka, dia takut terjadi sesuatu dengan jaemin. Dia tidak sanggup dengan kemungkinan buruk yang terjadi. Dari awal, dia sudah di ingatkan oleh dokter, resiko apa yang akan mereka tanggung nantinya. Ditambah dengan jaemin yang terlalu stress di masa kehamilannya.

Sekali lagi, Jeno benar-benar harus berterima kasih kepada tuhan karena masih memberi istri dan anaknya umur yang panjang. Jaemin bisa membawa anak mereka ke dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Meskipun saat itu, jisung lahir dengan berat badan yang terhitung rendah untuk anak seusianya. Tapi tidak apa-apa bagi Jeno, asalkan anak dan istrinya selamat. Untuk jisung, mereka akan merawat jisung dengan sering konsultasi dengan dokter.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang