PT 51

2.6K 158 3
                                        

Jeno duduk di ranjang dan bersandar di headboard sambil memegang sebuah sebuah ipad. Samar-samar ia mendengar suara tangis sang anak dari luar.

Tadi, selesai yuta pamit pulang. Jeno pamit kepada sang istri untuk ke kamar duluan, sementara jaemin lebih memilih untuk menemani jisung yang duduk menonton TV.

Semakin lama, suara tangis jisung terdengar semakin kencang dan semakin jelas. Jeno-pun berniat untuk menyusul jaemin dan jisung keluar. Sepertinya jaemin tengah kesulitan menghadapi sang anak. Namun, saat Jeno hendak bangkit dari ranjang, pintu kamar terbuka dan menampilkan jaemin yang tengah menggendong jisung.

" Jisung, kenapa?" Tanya Jeno pada istrinya.

" Ini mas, dia maunya tidur bareng Nana. Waktu Nana ajak tidur disini, dia ga mau. Dia maunya sama Nana doang, kayanya masih kesel deh, sama mas. Makanya Nana ajakin kesini dulu, suruh dia izin ke mas. Taunya malah tangisnya makin kencang." Adu jaemin pada sang suami.

Jeno hanya bisa mendesah pelan dan menggelengkan kepala.

" Ayo, jiji harus izin dulu ke ayah." Ucap jaemin pada sang anak.

" Ndak mau."

" Kalau jiji ga mau, kita tidurnya disini aja ya. Bertiga sama ayah."

" Ndaaaaak." Teriak sang anak.

Jeno pun berdiri dan hendak mengambil alih sang anak dari gendongan jaemin. Lagi-lagi anaknya menolak.

" Jisung masih kesal sama, ayah?" Tanya Jeno pada sang anak.

" Ayah nakal." Ucap nya sambil terisak.

" Ayah minta maaf ya. sebagai gantinya, besok kita jalan-jalan bareng Una juga. Jisung mau, ga?" Bujuk Jeno.

" Kemana?" Tanya anak itu polos dengan suara seraknya dan ia yang masih terisak karena habis menangis.

" Rahasia. pokoknya jisung pasti bakal seneng. Tapi, jisung maafin ayah, ga?"

Anak itupun mengangguk dengan wajah polosnya. Jeno hanya bisa tertawa melihatnya, karena jisung benar-benar mirip dengan jaemin ketika masih bocil.

" Ini mah, ga perlu di tes DNA, udah pasti anaknya jaemin." Ledek Jeno

Mendengar itu, jaemin langsung melotot dan mencubit lengan suaminya. Jeno-pun merintih kesakitan karena ulah nya sendiri.

" Rasain kamu. Dasar... Badak." Balas jaemin dan langsung meninggalkan Jeno.

Jeno hanya tertawa, karena berhasil membuat istrinya kesal. Semenjak menikah, menggoda jaemin dan jisung adalah hobinya. Dia senang saat melihat sepasang ibu dan anak itu kesal. Mereka benar-benar mirip. sama-sama cengeng, manja dan cerewet.

Jeno membawa jisung ke tempat tidur dan duduk memangku sang anak, sambil menunggu istrinya yang sudah pasti sedang memakai skincare di dalam kamar mandi.

" Kenapa nangis sih, nak. Jisung itu cowok loh, ga boleh cengeng." Ucap Jeno lembut sambil mengusap wajah sang anak yang basah karena air mata. Tak lupa, Jeno mengambil tissue yang ada di nakas sebelahnya, untuk membersihkan sisa ingus milik jisung.

" Ayah, jahat. Ayah bilang, jisung bau keringat ayah." Ucap anak itu sambil sesekali masih sesegukan, karena habis menangis.

" Ayah cuma becanda loh. Maksud ayah, jisung itu hadir karena kerja keras ayah dan Una. Kalau kerja keras, ya harus sampai berkeringat, biar hasilnya cepat jadi. Kalau jisungnya ga cepat jadi, jisung ga jadi dong, jadi anak nya ayah dan Una. Kemarin saja jisung protes kan, waktu foto jisung ga ada di acara nikah ayah dan Una. Makanya, ayah kerja keras buat hadirkan kamu jadi anak ayah dan Una. Biar kamu, tidak lama menunggu di perutnya Una."

" Tapi, ayah kenapa peluk dan cium Una?". Protes anak itu lagi. Jeno mendesah pelan, jisung benar-benar duplikat jaemin. Dia ingat banget sama kelakuan istrinya dulu, yang banyak tanya dan suka protes.

" Ayah itu dari luar, nak. Ayah habis ketemu banyak orang, habis kena banyak debu di jalan. Jadi, badan ayah banyak kumannya. Jisung kan habis mandi dan jisung juga masih kecil. Kalau jisung sakit gimana?"

" Emang jisung mau di suntik sama dokter?" Tanya Jeno.

Bocah polos itu langsung menggelengkan kepala. Dia memang takut jarum suntik, setiap di ajak berobat, dia akan tantrum karena terbayang bentuknya jarum suntik.

" Makanya, jangan dikit-dikit nangis. Cowok ga boleh cengeng." Ucap Jeno. Kemudian langsung mengecup gemes wajah sang anak. Hal itu tentu saja membuat jisung tertawa geli. Bertepatan dengan itu, jaemin keluar dari kamar mandi dan tersenyum melihat suami dan anaknya tertawa bersama.

" Nah, gitu kan enak. Jangan apa-apa berantem Mulu. Una pusing liatnya." Ucap jaemin sambil menaiki ranjang.

" Unaaa." Teriak jisung dan langsung berhambur ke dalam dekapan ibunya.

" Dasar, anak kembar." Ledek Jeno pada istri dan anaknya.

" Mas mau kembaran juga, ga?" Goda jaemin kepada suaminya.

" Ga usah mulai, yang. Kita udah pernah bahas sebelumnya." Protes Jeno.

" Keadaannya kan udah beda. yakali, mas ga mau punya anak lagi. Kasian jisung, dia ga punya temen buat bermain. Lagian mas aneh, biasanya suami yang mohon-mohon. Ini malah kebalik."

" Sayang, kan mas udah bilang. Mas ga mau liat kamu kaya dulu lagi."

" Nana pengen anak cewe padahal." Ucap jaemin manja sambil memeluk lengan Jeno.

" Untuk sekarang ga dulu. Nanti aja, tunggu jisung udah gede. Baru deh, mas pertimbangkan buat punya anak lagi."

" jisung usia berapa?" Tanya jaemin antusias.

" Seumuran kamu." Jawab Jeno santai.

" Mas... itu mah mas ngeledek Nana." Balas jaemin kesal dan menggigit lengan suaminya.

" Ya, ga mungkin lah. Itu sama aja mas ngebunuh kamu. Udah bikin kamu hamil di usia muda, malah bikin hamil lagi di usia terlalu matang. Nanti aja ya, tunggu jisung sekolah dulu. Nikmati waktu kita sama jisung dulu, biar kan dia puas menikmati kasih sayang kita. Setelah itu, gapapa kita bikin lagi adik buat jisung. Asal kamu janji, jangan kaya dulu lagi." Ucap Jeno sambil mengusap pipi chubby sang istri.

Jaemin sedikit risih dengan tingkah jisung. Bagaimana tidak, sejak tadi anak itu terus mengelus dadanya.

" Jisung, ngapain pegang-pegang nenennya Una?" Tanya jaemin kepada sang anak dan itu tentu saja membuat Jeno ikut menatap ke arah sang anak.

" Una, jiji mau nen." Ucap anak itu dengan wajah memohon.

" Ga boleh sayang, jisung udah gede." Tolak jaemin.

" Sekali saja. Jiji janji Una, jiji pengen nen." Mohon anak itu lagi.

" Ga bisa sayang, nen Una udah ga ada isinya."

Mendengar penolakan jaemin, membuat jisung mulai terisak.

Jaemin menghela nafas dalam dan menatap, memohon ke arah Jeno.

" Kasih Aja, kasian. Biar dia tidur, ini juga udah malam." Ucap Jeno kepada istrinya.

" Oke, jangan nangis lagi. Jisung janji ya, ini yang terakhir kalinya?"

Anak itupun mengangguk dengan semangat, meskipun masih ada air mata yang menetes di pipinya.

Jaemin membuka kancing piyama miliknya dan jisung langsung meraup puting milik sang ibu.

" Kalau kaya gini, persis banget kelakuannya, kaya Jeno badak." Sindir jaemin sambil menepuk pantat sang anak. Akhirnya dia bisa membalas keisengan suaminya.

Jeno langsung tersendak ludah mendengar ucapan istrinya.

ProtectTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang