⚠️Sequel ACL⚠️
Kehidupan Gamaliel Audreyksa Revander dan Syakila Jihani Asysidqi dimulai kembali saat mereka bertemu setelah enam tahun tak jumpa.
Keluarga kecil mereka semakin lengkap kala putra dan putrinya sudah tumbuh menjadi anak-anak yang pint...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
haloo, aku balikk udah lama banget ga up, mau setahun apa uda setahun ya?😭 lupa alurr pliss😭
baiklahh, aku balik lagi buat nyelesaiin cerita inii
🐻🐻🐻🐻
~ H A P P Y R E A D I N G ~
🐻🐻🐻🐻
||35 - Koma||
🐻🐻🐻🐻
Hari semakin larut, seorang perempuan masih saja memejamkan kedua matanya, seolah ia tak ada keinginan untuk kembali membuka mata.
"Lo harus bangun, Kil. Gala dan Kyala masih butuh lo," ucap seorang pria yang sedari tadi duduk di samping brankar di mana perempuan itu berbaring lemah.
"Bar," panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
Varrel memegang sebelah pundak Akbar. Pria itu sedikit terkejut saat melihat Akbar yang langsung mengusap kedua matanya kala ia mengetahui kehadiran Varrel.
Dia ... nangis? batin Varrel kaget.
"Ngagetin gue aja lo, sialan!" ucap Akbar seraya menghadap ke Varrel.
Varrel menaikkan salah satu alisnya. "Lo nangis?" tanyanya seolah tahu pasti kebenarannya.
Akbar kembali mengusap kedua matanya. Pria itu seakan-akan ingin memastikan bahwa tidak ada lagi rembesan air mata yang keluar.
"Ngaco lo! Ngapain gue nangis, ege!" jawabnya menolak pertanyaan dari temannya itu.
Varrel tidak yakin. "Terus kenapa kayak habis nangis?"
"Gue gak nangis, ya!" ucap Akbar lagi, menolak kenyataan.
"Gama ...."
Akbar dan Varrel bersama melirik ke arah perempuan yang saat ini terbaring di atas brankar. Keduanya mendekat, memastikan bahwa perempuan itu tidak apa-apa.
"Kil, lo udah sadar?" tanya Akbar sembari melihat reaksi tubuh Kila yang menandakan bahwa sebentar lagi perempuan itu akan bangun.
"Gue panggil suster dulu," ucap Varrel seraya berlari keluar ruangan.
"Gama ...," lirih Kila dengan mata yang masih terpejam.
Akbar dengan perlahan menggenggam sebelah tangan Kila. Menggenggamnya erat, seolah tak ingin dilepas.
"Bangun, Kil. Bangun ...."
"Gama ...."
"Sialan, badannya makin panas," ucap Akbar merasakan tangan Kila yang hangat.