5 tahun yang lalu.
Rumah itu terlihat gelap, tidak ada pencahayaan apapun di dalam sana. Bendera kuning yang dipasang di gerbang terlihat kusam dan basah akibat hujan yang turun sejak sore tadi. Lantai teras pun terlihat kotor dan sedikit becek. Mees menghela napas berat, sedikit tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan sekarang. Kalau bukan karena permintaan Shayne, dia tidak akan mungkin repot-repot untuk berpura-pura menjadi tukang paket hanya untuk sekedar melihat keadaan gadis kecil berusia 10 tahun yang mungkin sekarang berada di dalam rumah gelap tersebut.
“Permisi, pakeeet!”
Nyaris hampir 5 menit Mees berdiri di depan teras rumah seraya terus berteriak; ‘permisi paket!’ tanpa ada respon dari penghuni rumah. Jika dalam 10 menit bocah itu tidak kunjung keluar, Mees terpaksa harus masuk dan memastikannya sendiri.
“Permisi, pake—”
Kalimat Mees terpotong saat mendengar suara kunci pintu dibuka. Tak lama muncul cahaya senter dari dalam bersamaan dengan munculnya seorang gadis kecil yang penampilannya begitu mengenaskan. Tubuhnya begitu kurus, wajahnya pucat, bibirnya kering, dengan terdapat cekung di matanya.
“Ngh ... Anu ...” Mees mendadak bingung. Dia tidak punya pengalaman apapun dengan anak kecil.
Wajah gadis itu menatap Mees tak kalah bingung. “Paket?” tanyanya dengan nada yang lemas. Persis seperti orang lemas karena kelaparan.
“Bukan—eh, iya! Ma—maksudnya ... Ini kenapa rumahnya gelap?” Persetan dengan penyamarannya. Sehabis ini, ingatkan Mees untuk bertemu dengan Shayne secara langsung, dia akan memukul pria itu karena bisa-bisanya meninggalkan anak kecil tidak bersalah ini sendirian dan menderita tanpa ada orang dewasa di sekitarnya.
Wajah Kareela langsung tertekuk kala mendengar pertanyaan random dari si tukang paket tersebut. “Listriknya mati, Om. Aku gak punya uang buat beli token ...”
Shayne bajingan!
Apa dia gak mikir waktu buang benih, hah?!
Mees menghela napas lagi. Tidak mungkin baginya untuk basa-basi bertanya di mana orang tuanya, di saat ibunya saja baru meninggal dua minggu yang lalu dan ayahnya entah ada di mana. Justru nantinya Mees malah membuat gadis itu tiba-tiba menangis di tempat.
Alhasil, Mees mengeluarkan ponselnya dan mendekati token listrik untuk membeli pulsa listrik yang sekiranya cukup untuk 3 bulan. 5 menit kemudian token listrik kembali hidup dengan lampu hijau di atasnya. Lampu pun kembali menyala, rumah yang tadinya gelap kembali terang benderang.
Kareela menatap Mees dengan wajah yang takjub sekaligus bingung. Mungkin gadis itu tidak menyangka ada orang baik yang mau membantunya. Tetangga atau pihak sekolah saja tidak ada yang peduli padanya.
“Hemat-hemat pakai listriknya ya!” ucap Mees.
Gadis itu mengangguk kikuk.
“Udah makan belom?” tanya Mees (sebenarnya ini terdengar seperti pertanyaan retoris), namun gadis itu langsung menjawab dengan gelengan kepala.
Mees kembali mengutak-atik ponselnya. Memesan makanan dari aplikasi hijau, dan mereka pun makan bersama di ruang tamu. Saat makan, pria itu meneliti sejenak wajah Kareela yang sedang lahap makan makanannya. Tiba-tiba saja muncul banyak sekali pertanyaan di kepalanya, salah satunya adalah kenapa gadis itu tidak takut dengannya yang merupakan orang asing? Dia ingin bertanya langsung, tapi Mees tidak tahu bagaimana caranya bertanya pertanyaan sensitif ini kepada seorang anak kecil.
“Om.”
Lamunan Mees buyar. Kareela kini menatapnya. “Nama aku Kareela. Om siapa namanya?” tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
