Bodoh jika Shayne hanya bisa diam dan membiarkan 2 tukang pukul tersebut meringkus tubuhnya begitu saja. Meski dia membenci instansi tempatnya dulu mengabdi, tapi dia benar-benar menghormati sekolah yang sudah mendidiknya menjadi seorang intelijen berkualitas. Mau taruh di mana almamater-nya saat Shayne bisa saja memberontak dan berkelit? Lalu mengendalikan situasi semudah membalikkan telapak tangan.
Alhasil ketika borgol tersebut hendak mengunci pergelangan tangannya, Shayne lebih dulu menggerakkan kakinya yang tidak terluka, menendang kaki orang di sampingnya dan berputar cepat mengambil pistol.
DOR!
Gerakannya barusan begitu cepat. Tidak sampai sedetik, peluru itu berhasil dilepas dan mengenai tepat pada pergelangan tangan Dante yang masih menodongkan pistol ke arah kepala Kareela.
Kareela memekik, terjatuh ke lantai bersamaan dengan Dante yang melepaskan pistol tersebut dari tangannya dan berteriak kesakitan.
Situasi lagi-lagi kembali ricuh, Shayne kembali bergulat dengan posisi 1 lawan 4. Sedangkan Kareela yang posisinya terjatuh ke lantai, melihat ada pistol tergeletak tak jauh dari posisinya berada.
Ini adalah kesempatan! Dan ini tergantung bagaimana Kareela bisa bertindak dengan cepat. Alhasil dia menyeret, membalikkan tubuhnya, dan mengusahakan sekecil apapun untuk tubuhnya bergerak mengambil pistol tersebut. Ayahnya pernah sekali mengajarkannya bongkar pasang pistol dan bagaimana menggunakannya selama mereka menginap di Limapuluh Kota. Alhasil, ketika tangganya yang terikat ke belakang berhasil meraih senjata api tersebut, gadis itu dengan mudah langsung melepas kokangnya dengan cepat, menarik pisau kecil yang ada di dalamnya, kemudian menyayat tali di tangannya.
Di sisi lain Shayne habis-habisan berkelahi. Nyaris sudah 5 pukulan dia dapatkan membuat staminanya menurun.
“Ayah, awas!”
Shayne membelalakkan matanya, tubuhnya refleks bertiarap, bertepatan dengan suara peluru terdengar yang berasal dari tangan Kareela. Gadis itu menembak tepat sasaran pada bahu salah satu tukang pukul. Memberikan peluang di detik berikutnya bagi Shayne untuk kembali berdiri menarik tubuh Kareela masuk ke pintu belakang.
Di kepala Shayne saat ini hanya ada insting untuknya melarikan diri. Itu sebabnya dia lebih memprioritaskan membawa Kareela cepat-cepat keluar dari ruangan Sabha melalui pintu darurat. Tak lupa pria itu langsung menutup pintu tersebut dan menguncinya erat-erat.
“Ayah enggak kenapa-kena—”
Belum sempat bagi Kareela untuk menuntaskan kalimatnya, Shayne lebih dulu memeluknya begitu erat. Pria itu menghirup pucuk kepalanya lamat-lamat. Rasa khawatir yang terus membuncah di dadanya perlahan berkurang saat mendapati gadis itu baik-baik saja.
“Kamu baik-baik aja, kan?!” tanya Shayne kembali memastikan. Pria itu melepas pelukan tersebut, dan meneliti putrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Kareela mengangguk, dan Shayne kembali memeluknya, mendaratkan kecupan di keningnya sembari mengucapkan kalimat syukur berkali-kali. Beberapa detik setelahnya, pelukan itu pun terlepas. Diikuti oleh Shayne yang segera melepas jaket serta rompi anti peluru yang dia kenakan.
“Pakai!” Pria itu tanpa berpikir panjang langsung mengenakan benda tersebut pada Kareela. “Di atas sana bakal sangat berbahaya!”
Gadis itu tidak bodoh untuk tahu benda macam apa yang sedang ayahnya pakaikan untuknya. Itu rompi anti peluru yang sering Kareela lihat di film-film. “Ta—tapi nanti Ayah gimana?” satu pertanyaan lolos dari bibir gadis itu. Dia menatap ayahnya lekat-lekat.
Shayne tidak langsung menjawab. Alih-alih dia mengeratkan rompi tersebut agar pas di tubuh mungil putrinya, lalu setelahnya dia kembali mengenakan jaketnya. “Gak usah pedulikan Ayah!” ucapnya. “Ayah udah sering berada di situasi seperti ini.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Ficção Geral[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
