Epilog

246 25 15
                                        

Suasana ruang tamu di unit apartemen tersebut begitu tegang. Mees mengepalkan tangannya dengan tatapan tajam menatap tamu sekaligus lawan bicaranya tersebut. Dengan bahasa Belanda yang fasih, dia berbicara sekali lagi untuk meyakinkan pria berambut pirang tersebut yang datang sejak sejam yang lalu.

Di sisi lain, mata biru keabu-abuan itu tidak lepas dari figura foto berukuran cukup besar yang terpajang di dinding. Figura itu berupa foto formal Mees dan Kareela, yang siapapun melihat akan percaya kalau mereka adalah ayah dan anak kandung. Pria itu mendengkus.

“Aku sudah bilang, dia sepenuhnya adalah milikku. Aku ayahnya!” ucap Mees. Entah ini sudah yang ke berapa kali dia mengatakannya.

“Kau hanya ayah angkatnya!” balas pria pirang itu dengan cepat. “Kau hanya pria asing yang merebut sesuatu yang dimiliki oleh keluarga Linthorst!”

“Jangan mengaku-ngaku, bajingan! Lebih baik kau angkat kaki dari tempat ini, dan jangan pernah kembali lagi!”

Pria berambut pirang itu terkekeh sarkas. “Aku tidak akan pergi sebelum aku bertemu dengannya.”

“Berapa kali aku bilang, dia tidak ada di sini! Dia sedang mengunjungi kakeknya di Manado! Lebih baik kau pergi, sebelum aku tendang keras-keras bokongmu dari sini!” Mees naik pitam. Dia nyaris ingin bangkit untuk menarik pria di hadapannya itu dan menyeretnya pergi dari unit apartemennya. Sekalian saja dia panggil petugas keamanan untuk mendepak dirinya jauh-jauh.

Tapi niatnya batal kala terdengar suara kunci smart door yang terbuka. Lalu tak lama terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu.

“Assalamu’alaikum! Aku pulang!”

Itu Kareela. Tak lama setelah gadis itu mengatakannya, terdengar suara langkah kaki berserta gantungan kunci di tasnya yang bergerincing di setiap kali dia melangkah.

Mees nyaris menahan napas saat gadis itu akhirnya muncul di ruang tamu sembari memainkan kunci motor yang baru saja pria itu belikan seminggu yang lalu.

“Om Mandra, nanti malem ke Shirokya, yuk! Aku pengen makan ram—” Kareela batal melanjutkan kalimatnya kala melihat ada orang asing duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu gelagapan.

Mees menghela napas sembari memejamkan matanya sejenak, dia tidak sempat menahan kemunculan gadis itu. Tapi sebisa mungkin pria itu untuk tetap bersikap tenang. “Oke, nanti kita ke sana. Sekarang kamu masuk dulu ke kamar. Kunci pintunya!”

“Hah? Kena—”

“Ela!” Mees menatapnya tajam. Tatapan yang jarang sekali pria itu layangkan padanya. Biasanya, tatapan itu sering Kareela lihat ketika Om-nya sedang marah-marah atau memberikan perintah khusus ke anak buahnya. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi.

“I—itu kau? Kau, kah itu?!” Tamu pria asing itu tiba-tiba berdiri, menatap Kareela seperti melihat setan. Tiba-tiba saja mengambil ancang-ancang untuk mendekat.

Tapi sialnya, Mees bergerak lebih cepat. Lebih dulu mendorong pria itu dan memasang badan tepat di depan Kareela, menyentuh tangannya seakan-akan sedang melindunginya dari sesuatu.

“Ke kamar kamu sekarang, Ela!”

Mendengar perintah dengan suara yang super dingin tersebut, jelas membuat Kareela tidak berani membantah. Alhasil mengangguk dan berjalan menjauhi ruang tamu untuk menuju kamarnya. Tapi langkahnya kembali terhenti ketika pria pirang tersebut memanggilnya sekali lagi.

“Tunggu, Marianne!”

Deg!

Kareela terdiam, sedangkan Mees menggeram kesal. Gadis itu dengan cepat menoleh, menatap pria berambut pirang tersebut dengan tatapan keheranan.

Tadi ... Pria itu memanggilnya apa? Kareela tidak salah dengar kan?

“Marianne. Itu namamu kan?”

Di dunia ini, yang tahu nama aslinya hanya ada 3 orang. Ibu, Ayah dan Om-nya. Tapi, bagaimana bisa pria itu tahu?

“Marianne, ini aku. William Linthorst.”

Mees berdecak. “Jangan dengerin dia, Ela. Dia cuma orang gila! Masuk ke kamar kamu sana!”

Tapi anehnya Kareela masih terdiam di tempat. Matanya terpaku pada pria yang mengenalkan diri sebagai William Linthosrt tersebut. Siapa dia?

“Tunggu, Anne! Aku ... Aku Pamanmu! Aku sepupu kandung Shiloh!”

* * *

END

(Bersambung ke Lacuna)

Dum Spiro, SperoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang