Jujur, ini terasa hampa. Kareela masih ingat bagaimana dirinya dipaksa untuk tetap terjaga di tengah rasa kantuknya akibat kehilangan banyak darah selama perjalanan mereka ke Singapura. Hingga ketika dirinya berhasil sampai ke rumah sakit, dia baru bisa terpejam terlebih ketika merasakan jarum menusuk pergelangan tangannya.
Di situ Kareela berharap, dia tidak usah bangun lagi selamanya. Biarlah dia mati, dan mengakhiri segalanya di usianya yang baru 15 tahun ini. Biarlah semuanya berakhir begitu saja. Toh, tidak ada lagi rumah yang dapat dia sambangi. Tidak ada lagi siapapun di dunia ini yang mau menganggapnya ada selain Ibu dan Ayah.
Kalau dipikir-pikir, hidupnya selama 15 tahun itu tidak jauh tentang rumah, sekolah, ngaji, Ibu dan Ayah. Dia tidak pernah mengenal apa itu yang namanya kerabat atau saudara. Bahkan gadis itu belum sempat bertanya kepada ayahnya, apakah mereka masih memiliki saudara dekat selain kakeknya yang ada di Bukittinggi? Ataukah ayahnya punya saudara jauh di luar sana yang belum sempat diceritakan padanya?
“Ela?”
Lamunan Ela buyar kala mendengar seseorang memanggilnya. Gadis itu tahu, sekarang dia berada di dunia yang dibentuk oleh alam bawah sadarnya. Kasarnya, dia sedang bermimpi.
“Ayah?” Rupanya, dia mendapati sosok Ayah di mimpinya tersebut.
Pria itu berdiri di ujung sana, mengenakan pakaian serba putih. Tubuh dan wajahnya terlihat bersinar dan berseri, melempar senyum manis padanya—seakan-akan memanggilnya untuk mendekat. Tak perlu berpikir dua kali bagi Kareela untuk berlari, melompat, dan menghambur ke dalam pelukannya. Gadis melingkarkan tangannya di leher pria itu, memeluknya dengan tangis yang mendadak muncul tanpa pernah dia sangka.
Dulu semenjak kepergian Ibu, kalau Ela melihat kehadiran ayahnya, dia akan menghindar. Naik ke kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Sebisa mungkin untuk tidak pernah satu ruangan dengannya. Dia akan turun hanya untuk mengisi air minum di tumblr atau makan ketika perutnya mulai lapar. Meski harus dia akui, setiap ayahnya pulang (dan itu terbilang sekali dalam sekian purnama) Kareela bisa menikmati makanan enak yang dibeli oleh pria itu, dan sudah tersaji di meja makan.
Tapi kali ini beda. Ada sebuah perasaan yang sudah terbentuk megah di hatinya, dan itu khusus untuk ayahnya seorang. Kini Kareela paham, kenapa banyak yang bilang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Sebab dia mengakui itu.
“Ayah baik-baik aja?” tanya Kareela masih memeluknya. Tidak ada tanda-tanda darinya akan melepas pelukan tersebut.
Shayne tersenyum, membalas pelukannya dengan mengusap kepala dan punggung gadis itu. “Ayah merasa jauh lebih baik, Ela.”
“Ayah jangan pergi lagi!” katanya, semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di leher pria itu.
“Ela, ada beberapa hal yang harus kamu mengerti.”
Kareela menggeleng, menolak mendengarnya. “Ayah gak boleh pergi! Pokonya Ayah gak boleh ninggalin aku lagi! Nanti aku sama siapa?!”
“...”
“Aku gak punya siapa-siapa lagi selain Ayah!”
“...”
“Nanti aku ... Hiks ... Nanti aku tinggal sama siapa kalau Ayah gak ada?!”
“Kareela, dengerin Ayah dulu—”
“Enggak mau!” Kareela langsung memotong. Sebab jauh di lubuk hatinya dia tahu persis apa yang akan pria itu katakan. Kareela belum sanggup mendengarnya. “Ayah harus pulang! Ayah gak boleh pergi! Gak apa-apa deh, kalau Ayah pergi selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan kayak dulu! Tapi Ayah harus tetep pulang! Bawain aku makanan enak! Benerin genteng bocor! Benerin keran kamar mandi bawah! Atau engak rapihin halaman belakang rumah kayak dulu setiap Ayah pulang!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Genel Kurgu[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
