Batavia, 15 Agustus 1945
Untuk Jansen, Kakak sepupuku.
Hari ini, dunia berhenti sebentar. Kau mungkin telah mendengarnya lebih dulu dari siaran radio di Eropa sana—bahwa Jepang menyerah kepada Sekutu. Perang akhirnya selesai.
Aku menulis surat ini dengan tangan gemetar, bukan karena takut, melainkan karena aku tidak tahu bagaimana merangkai harapan setelah begitu lama hanya mengenal bertahan hidup.
Batavia belum tenang. Jalanan masih tegang. Pemuda-pemuda berseragam Jepang yang kemarin terus mengancamku, kini berjalan dengan wajah bingung dan langkah kosong. Aku tidak tahu siapa yang akan datang selanjutnya. Tapi untuk hari ini—hanya hari ini, aku mengizinkan diriku percaya bahwa kemerdekaan itu mungkin nyata adanya.
Kau tahu betapa aku mencintai tanah ini, Willem? Dari bau hujan di gang kecil Glodok, sampai desir angin dari kali Ciliwung yang tak pernah jernih. Aku tidak pergi waktu Jepang datang—meskipun aku lebih dari cukup untuk melakukannya. Tapi aku tetap bertahan karena aku yakin... tanah ini, suatu hari nanti pasti bisa berdiri sendiri. Dan hari itu… mungkin akan datang sebentar lagi.
Doakan aku dan keluargaku. Bila hari kemerdekaan itu sungguh datang, aku ingin putriku menyaksikannya. Aku ingin ia tumbuh di negeri yang bebas dari penindasan. Dan aku ingin kau tahu, walau kita terpisah lautan dan peperangan, harapan kita tetap sama: pulang, dan merdeka.
Shiloh Pattynama.
*
Tiga tahun yang lalu, aku pernah merasakan bagaimana ketika Batavia terasa begitu mencengkam. Itu bertepatan sekitar sebulan setelah pernikahanku dengan Naurah. Meski jauh dari itu aku lebih dari tahu bagaimana keadaan politik di luar sana yang terbilang sedang tidak baik-baik saja, namun aku memilih untuk tetap tenang dan bertahan di tanah kelahiranku. Perang Asia Pasifik semakin memanas, beberapa keluarga dan rekanku yang berdarah Belanda mulai sibuk mengevakuasi diri dengan meninggalkan segalanya yang telah mereka miliki di Hindia, lalu pergi ke luar negeri—ke tempat yang sekiranya aman dari pembantaian. Entah ke Belanda, atau ke Australia.
Mereka tahu—aku pun juga tahu, Nippon, bangsa berkulit kuning yang katanya pernah disebutkan pada ramalan Jayabaya yang sering orang-orang pribumi ceritakan, lambat laun mulai muncul menampakkan batang hidungnya. Mereka benar-benar kuat, cepat, dan ganas. Meluluh lantakkan pertahanan Belanda, hingga tanpa pernah disadari, mereka sudah berhasil mengambil alih pulau Jawa. Kota-kota besar seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya sudah berada di genggaman semudah membalikkan telapak tangan.
Orang-orang banyak yang ditangkap. Terutama para Belanda maupun indo. Aku sudah beberapa kali dihadang oleh mereka untuk dibawa ke camp interniran. Tapi aku tidak takut, darah Maluku dari Kakekku mengalir deras, sehingga mereka tidak berani untuk menangkap dan memisahkanku dari istriku yang tengah mengandung saat itu.
Aku akui, aku memang seorang indo. Orang-orang mengganggapku seorang Sinyo. Tapi dibandingkan itu semua, aku lebih suka dipanggil Shiloh, atau embel-embel seperti ‘Mas’ yang lebih terkesan seperti pribumi. Aku mencintai tanah Nusantara, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan rumahku hanya karena kehadiran pengganggu semata.
Pagi itu, pasar begitu ramai. Bukan ramai biasa yang berisikan para pedagang dan pembeli yang sibuk berniaga. Melainkan kabar mengejutkan yang sebenarnya sudah lama aku prediksi akan terjadi. Jepang menyerah pada sekutu. Tepat 6 hari setelah tragedi kota Nagasaki yang dibom oleh Amerika Serikat.
Aku tahu—bahkan lebih awal dari para pemuda yang tergabung dalam kelompok pergerakan—bahwa momen ini akan datang. Beberapa informasi yang berhasil kudapat dari orang-orang bawah tanah, baik dari pro-Jepang, pro-Belanda, dan juga pribumi, bahwa akan terjadi kekosongan pemerintah di Hindia Belanda. Hanya butuh waktu sebentar sebelum pihak asing seperti Belanda atau sekutu untuk masuk dan kembali mengambil kuasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Ficción General[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
