Kareela terbangun tak lama ketika mendengar suara gelak tawa dari rumah sebelah. Dilihat jam masih menunjukkan pukul 11.33, namun sayangnya gadis itu sulit untuk kembali tertidur. Alhasil, disingkapnya selimut yang menutupi tubuhnya, dan memutuskan pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan di kulkas atau di meja makan. Tadi sore Ayah beli roti dan selai strawberry di Budiman Swalayan. Makan selembar roti sepertinya bukan ide yang buruk.
Langkah Kareela terhenti kala melihat pintu rumah yang sedikit terbuka. Kepala gadis itu langsung menoleh ke arah pintu kamar Ayah yang tertutup rapat.
‘Ayah udah tidur apa belum? Kok pintu rumah kebuka?’ batinnya.
Entah kenapa perasaan waspada langsung menggelayutinya. Nyaris seminggu kabur dari kejaran keluarga mafia seperti Solomon, tentu membuat Kareela tidak bodoh dan cuek begitu saja dengan sekitarnya. Sudah berkali-kali dia nyaris mati karena insting bertahan hidupnya yang nol persen. Seketika dia ingat ucapan ayahnya yang bilang untuk awas dengan sekitar. Mereka bisa datang kapan saja. Walau Ayah bilang wilayah Sumatera Barat adalah kawasan khusus keluarga Haddad (yang artinya tidak mudah bagi Solomon untuk masuk), bukan berarti mereka bisa dikatakan aman seratus persen, bukan?
“Ela?”
Gadis itu tersentak. Nyaris berteriak terkejut kala ada sebuah tangan menyentuh pundaknya. Sekejap dirinya berbalik, mendapati ayahnya berdiri di sana.
Shayne mengerutkan keningnya bingung. “Kamu belom tidur?” tanyanya.
“Ayah ngagetin aku, tau gak?!” kesalnya sembari mengelus dadanya.
Pria itu menggaruk lehernya bingung. “Maaf, maaf. Tadi Ayah abis ngopi di depan.”
Gadis itu mengernyit, tapi akhirnya tidak lagi bertanya dan memilih berbalik kembali untuk membuat roti isi selai. Shayne masih di posisinya, memegang segelas kopi yang sudah habis itu di tangannya. Tak lama dia menaruhnya di sink dapur, lalu ikut duduk lesehan di meja makan, menemani Kareela yang sibuk membuka tutup jar selai yang masih tersegel.
“Sini, Ayah bukain.” Shayne mengambil alih jar selai tersebut, membukanya dengan mudah dan memberikannya lagi pada gadis itu.
Sambil mengoles selai, Kareela berucap. “Tadi aku kebangun gara-gara denger banyak suara bapak-bapak di samping rumah.” Gadis itu mengambil satu lembar roti lagi dan kembali mengoles selai di atasnya. “Suaranya berisik banget! Gak bisa tidur lagi aku jadinya!”
Shayne mengangguk-angguk. Mau bagaimana lagi? Mereka menyewa rumah di pedesaan warga lokal. Tidak mungkin dia main protes, sedangkan mereka saja adalah pendatang baru.
“Ayah juga gak bisa tidur.”
“Kenapa?”
“Gak bisa tidur aja.”
Kareela menumpuk rotinya dan mengigitnya. Enak. Kepalanya refleks mengangguk-angguk. “Ayah mau gak?”
Ayahnya menggeleng. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening. Kareela sibuk menguyah roti, sedangkan Shayne sibuk mengamati ekspresi putrinya yang sama persis seperti milik ibunya. Sejenak, Shayne kembali merindukan istrinya.
“Kenapa, Yah?” Gadis itu tiba-tiba bertanya.
“Hah? Ng—Enggak apa-apa.” Shayne mencoba untuk mengontrol ekspresinya.
“Ayah dulu ketemu Ibu di mana?” lanjut Kareela, bertanya hal yang tidak pernah Shayne kira akan diberikan padanya.
“Ketemu Ibu di mana?” ulang Shayne.
Kareela mengangguk. Mata indahnya itu menatap miliknya yang memiliki warna yang sama dengannya. “Maksud aku, enggak mungkin Ayah ketemu di pinggir jalan, saat Ibu dulunya anak konglomerat. Aku aja masih nggak nyangka Ibu itu anak dari keluarga Haddad.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Actie[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
